Tampilkan postingan dengan label Syair. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syair. Tampilkan semua postingan

Aku dan disisiku murobbi



Oh alangkah bahagianya
Oh alangkah mulianya
Hari ini aku kisahkan
Aku dan disisiku… Murobbi

Seperti rasul
Bersama sama menikmati satu santapan, begitu murobbiku
Duduk bersama jamaah satu hidangan

Seperti rasul
Bersama sama berbantalkan lengan
Begitu murobbiku
Bersama sama tidur diatas satu hamparan

Seperti rasul
Turun bersama gali paritan
Begitu murobbiku
Senantiasa seiring lakukan tugasan

Seperti rasul
Faham segala dalaman luaran
Begitu murobbiku
Segala pemikirannya terukur menjelaskan

Seperti rasul
Membina syuhada pemuda pahlawan
Begitu murobbiku
Dibina aku lengkap perincian

Seperti rasul
Marah, senyum, sedih memberi kesan
Begitu murobbiku
Member taujih sesuai perasaan

Seperti rasul
Mensucikan, memahamkan lantas menggerakkan
Begitu murobbiku
Diasuh aku, jadi asa kebangkitan

Seperti rasul
Menghormati tidak mempermalukan
Begitu murobbiku
Disampingnya aku terasa dimuliakan

Yang lahir bukan sekedar hartawan
Yang lahir bukan sekedar agamawan
Yang lahir bukan sekedar negarawan
Yang lahir bukan sekedar tokoh kemasyarakan
Yang lahir bukan sekedar jago kebajikan
Yang lahir bukan sekedar olahragawan
Yang lahir bukan sekedar tokoh perdebatan

Tapi RIJAL……………..
Karena mereka islam diagungkan
Oh alangkah bahagia
Oh alangkah mulia
Ketika itu aku dan disisiku
Murobbi……….

(syed ahmad israa’)

Di Kutai Timur aku menulis

Diluar sana hujan turun rintik rintik sambil tersipu malu si hujan menunjukkan kebeningan jasadnya membasahi bumi sangata, kutim kalimantan timur. Di sela sela tasmi’ qur’an surah ar rahman dari salah seorang peserta I’dad murobbi, kusempatkan diri untuk menulis isi hati yang saat ini sedang menggeliat hebat dalam batin menyaksikan acara yang sedari kemarin pagi dimulai. Kulihat wajah wajah segar penuh ketawadhuan mengelilingi ruangan di Darussalam ini. Sebelum keberangkatan kemarin lusa dari samarinda, di rumah istriku melepas keberangkatanku dengan senyum yang diselingi kesedihan, kubaca dari wajahnya bahwa bidadariku ini mengalami delematis yang sangat saat melepas keberangkatanku untuk bergabung dalam tim I’dad, antara kewajiban seorang istri untuk mendukung dakwah suaminya dan kondisi anak yang sakit yang sangat memerlukan kehadiran ayah disampingnya, belum lagi masalah adik kami yang akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat yang sangat memerlukan kehadiran kakaknya untuk mengurus segala sesuatunya.

Oh istriku.. kau berusaha menyembunyikan perasaan itu, tapi suamimu ini tahu
Diwajahmu tertulis dengan terang perasaan hatimu
Istriku… yang kucintai karena Allah
 ketahuilah kalau bukan karena mengingat abu tholhah
Yang menyambut seruan itu diusinya yang sangat senja,
.. khifaafan.. watsiqoolan… dia menyebut….
Maka tak akan kusambut seruan ini pula

Hujan sesaat berhenti, kicauan burung semakin jelas terdengar merdu beserta suara akh ibnu yang terdengar didalam ruangan beserta peserta acara. Kulirik kearah seorang peserta, sungguh indahnya ia datang beserta istri dan ke 3 anaknya. Sangat menyentak hatiku saat kutahu bahwa ia datang dari wahau, sebuah daerah yang lebih jauh dari samarinda bila menuju sangata, subhanallah.. bagaimana ia bisa datang ke acara yang berlangsung selama 3 hari ini, bermalam. Jalan yang sangat rusak ia tempuh, hanya menggunakan kendaraan roda dua membawa 3 anaknya yang masih kecil kecil. Disuatu malam kulihat anaknya tertidur pulas diluar rungan beralas kain yang dilipat agar lantai kayu ulin itu tidak terasa dipunggung sang anak, seketika kakaknya datang sambil tertawa ia cubit kedua pipi adiknya gemes, ia mainkan pipi adiknya sambil tertawa kecil… sampai tak sadar ia pun ikut tertidur disebelah adiknya tanpa kain alas… sementara sang ayah dan ibu sambil mengawasi anak yang satunya lagi tetap konsentrasi menyaksikan materi yang disampaikan akh ibnu. Subhanallah sungguh pemandangan yang sangat menyentuh, keesokan harinya tetap bersemangat mengikuti materi demi materi di tengah tangisan anak anak mereka diluar ruangan, sampai disuatu waktu dhuha aku menangis memikirkannya, aku berdoa penuh khusu’ dalam getaran hati yang tergoncang hebat, air bening hampir jatuh dipelupuk mata ini.

Duhai Allah… mereka keluarga dakwah
Hadir dalam acara ini untuk mencari ridho Mu
Maka… ridhoilah mereka ya Allah
Dalam naungan cinta dan maghfirohmu
Mudahkan urusannya, kuatkan langkah kakinya
Permudah urusan dunia dan akheratnya
Kuatkan pijakan kakinya dalam jalan yang Engkau ridhoi
Jalan dakwah yang Engkau berkahi…

Bumi Sangata, Kutim Kalimantan Timur
Farrosih

Kami datang

ya.. kami datang
kami datang tidak ingin mendapatkan
tapi kami datang ingin memberi
bukan untuk mendapatkan simpati
apalagi perhiasan dunia yang mencerai hati

kami datang tidak hanya untuk pertisipasi
tapi kami ingin berkontribusi
kami datang karena maslahat mereka
bukan hanya maslahat kami
kami datang untuk mengangkat agama ini
meski Allah tidak kurang kuasa dengan tidak datangnya kami
bukan malah menjatuh azzam sampai mati
karena kami tahu...
dengan disini
kami berharap janji yang pasti
dari Dia yang tidak pernah ingkar janji
dari Dia yang selalu menepati
dari Dia yang kami cintai
karena Dia... kami datang

(Farrosih)

Wahai takdirku...
Sebentar lagi bulan akan tenggelam
Dan akan berlutut dikaki pagi
Bila mentari telah benar-benar terbit ditimur sana
Maka sebelumnya mari...
Kita persiang malam dengan do'a,
Do'a yang berlayangan
Tangan yang merekah
Hati yang tertunduk
Kalau harus menangis... Maka menangislah !!
Biarkan air mata itu jatuh membasahi bumi
Karena nanti bunga yang ada ditaman hati akan tersenyum mekar
Dan pinta diatas puja adalah benar pinta bukan dusta
Hingga penduduk langit ikut membantu
Merayu Dia supaya rindu adalah benar
Supaya sayang adalah benar
Supaya cinta adalah benar
Pintakan untukku
Supaya lurus...
Selalu iman
Supaya kuat...
Selalu mampu bertahan
Karena lemah yang begitu menyelimut
Karena dosa yang tak bersebut
Duhai takdirku...
Sambutlah tangan ini
Bersama kita tuju yang kita nanti
Yang menjadi bara dalam api aktifitas
Yang menjadi sinar dalam gelap rutinitas

(terimakasih telah menjadi istriku)

Malam di "Lailatul Khatibah"















Malam di Lailatul Khatibah
Menyeksamai pesan nubuwwah
Dari para pengemban risalah
Pesannya “antum harus tabah”
Pintanya “antum harus qonaah”
Serunya “antum harus istiqomah”
Ibanya “teruslah berdakwah”
Menerawang membaca rahasia tsiqoh
Pengalaman yang akan menjadi petuah
Guru yang akan menjadi qudwah
Suatu hari nanti saat membersamai masalah
Dengannya semoga kami tidak kalah
Semua tergantung Rahmat Ilallah
Terimakasih ustadz, Ana uhibbukum fillah
Doakan kami tetap kokoh dalam tarbiyah
Doakan kami agar selalu dibimbing hidayah
Doakan kami menjadi hamba yang amanah
Diantara lemah kaki kami melangkah
Ditengah tetes demi tetes air mata resah


Thursday, August 07th 2009
Farrosih, Al Hamra

aku merindukanmu


telah lama aku menunggu
perjumpaan disuatu senja
saat lengkingan takbir bergemuruh
menanda saat berlepas dahaga

tak kuat lagi kupendam
rasa ingin membersama
saat tidurnya menuai pahala
saat sedikitnya berpesan barokah

kupejam mata ini
kudiamkam sejenak hati ini
kuperkuat kerinduan ini
kuperpanjang azzam di hati
menyeksamai perjumpaan hari
dimana sang Perkasa menutup rapat pintu neraka
dimana sang Penguasa membuka lebar pintu syurga

syahrut taubah
syahrut tarbiyah
satu bulan berhadap sebelas nya
berbekal untuk menghadapinya

ramadhan...
ramadhan...

aku rinduimu

kalau memang benar
ini ramadhanku yang terakhir
maka beri kesempatan aku menyempurnakannya

Farrosih

Aliran sungai hidayah

Ribuan langkah kau tapaki
Plosok negeri kau sambangi
Ribuan langkah kau tapaki
Plosok negeri kau sambangi
Tanpa kenal lelah jemu sampaikan firman Tuhanmu
Tanpa kenal lelah jemu sampaikan firman Tuhanmu

Terik matahari tak surutkan langkahmu
Deru hujan badai tak lunturkan azzammu
Raga kan terluka tak jerikan nyalimu
Fatamorgana dunia tak silaukan pandangmu

Semua makhluk bertasbih
Panjatkan ampun bagimu
Semua makhluk berdoa
Limpahkan rahmat atas Mu

Duhai pewaris nabi duka fana tak berarti
Surga kekal abadi balasan ikhlas di hati

Cerah hati kami kau semai nilai nan suci
Tegak panji ilahi bangkit generasi Rabbani


(Izzatul Islam)

***

Dahulu saat dunia tidak bisa kami lihat dengan kacamata indahnya Islam, hidup seolah perjalanan panjang melelahkan penuh kebimbangan dan jauh akan nilai ketenangan. Saat dimana silau dunia dan hedonisme hinggap hampir disetiap menit perjalanan waktu berputar. Saat ketenangan menjadi barang mahal yang tidak pernah terjual di toko megah manapun, saat kelembutan sangat sulit dijumpai, saat hati begitu hausnya akan kebahagiaan hakiki, namun jua tak kutemui dimana ia tersimpan. Saat itu datang kepada kami seorang biasa yang penuh kebiasaan baik yang menjadi kebiasaan sehari-hari, dengan ikhlas ditangannya, lembut diwajahnya, ringan tangan bantuannya, menjadikannya seorang biasa yang luar biasa karena kebiasaan-kebiasaan baik yang selalu menyertainya, menghulurkan tangannya dengan penuh kasih sayang, merangkul dan mengajarkan sesuatu yang belum pernah kami temui selama ini, yang pada akhirnya kami mengenalnya dengan sebutan Murobbi. Melalui tangannyalah Allah menyalurkan ketenangan demi ketenangan hidayah kepada jiwa kami yang haus, tempat persinggahan yang selama ini kami cari ternyata kami dapat melalui perantaranya.

Andai ada pahala
Kami rela bila itu semua untukmu
Ditegar mata membasahi tanah
Disela waktu sujud istirahatmu
Kami tahu bahwa kau tak lelah
Selalu mendoa di atas pinta
Yang kami tak tahu rahasianya
Mungkin terasing, mungkin terjauh
Namun selalu saja hati yang kau bela
Terimakasih ....


Farrosih

Lagu by Izzatul Islam

LEMBAYUNG

Malam pekat nan kelam
Awan menggunung hitam
Menyelubungi pesona
Negeri indah rupawan

Bilakah datang mentari
Bangkitkan putra negeri
Cahayanya menyinari
Hangat menghidupi

Lama jua tlah dinanti
Kebebasan hakiki
keadilan bukan mimpi
sejahterakan diraih

Dimana jiwa satria pemakmur negeri
Jalannya perih terjal tak terperih
Teguhkan dilalui rintang tak peduli
Janji ilahi tujuan nan abadi

Akankan setiap mimpi hanya asa tak pasti
tegakkan diri wujudkan mimpi
Kan datang sinar surya sibak fatamorgona
buka mata hati tegaskan janji suci

Dimana jiwa satria... pemakmur negeri
Dimana jiwa satria... pemakmur negeri

Semoga Menginspirasi Hidup Menjadi Lebih Baik

Menurut Engkau

Kelemahanlah isi tangan yang terbuka
Dalam ketidakberdayaan belajar meminta
Pada-Nya yang paling mengerti hajat manusia
Pada-Nya yang paling memahami maksud ciptaan-Nya
Pada-Nya yang paling mengetahui yang terbaik baginya

Rabb...
Berilah kami kebaikan,
Kebaikan yang menurut Engkau
Karena baik menurut kami
Mungkin tidak menurut Engkau
Kaulah Pencipta itu,
Pencipta kami dan Pencipta kebaikan

Berilah kami ilmu,
Ilmu yang baik dan manfaat
Menurut Engkau
Sekali lagi menurut Engkau

Berilah kami teman
Teman yang baik, menurut Engkau
Baik bagi akherat dan dunia kami
Baik bagi dakwah dan agama ini
Baik bagi keluarga dan jamaah ini
Kalau tidak menjadi baik
Maka gantilah dengan yang lebih baik
Menurut Engaku
Sekali lagi, menurut Engkau
Mata ini sering tersalah
Hati ini sering terlalai
Hanya Engkau yang paling mengetahui arti kebaikan
Bukan saya atau siapapun

17 hari menanti kepastian

berada diantara ambisi dunia
kepulan asap berhambur seantro ruang
wajah haus tabungan itu tertawa lebar
berteriak dibalik ingin si ambisi jabatan
aroma alkohol mengakrabi mereka
bersembunyi dibalik botol aqua
bercampur kuning pewarna menipu daya

ahh.. aku ingin segera pulang
tapi itu hanya keinginan
nyatanya aku tidak boleh kebelakang
masanya kini harus disini
membersamai mereka menanti kepastian

akupun belajar memaknainya
ternyata sederhana keinginan mereka
hanya penyambung nafas di usia yang menua
meski harus bermalam ria
ditengah masa kerja ataukah rehat masa

17 hari aku kini
mengawal wasilah suara perjuangan
letih sudah tak berbilang
lelah sudah kelelahan
namun itu hanya setetes upaya
sederhana inginnya
kebaikan harus menghadapinya
menantang kebathilan yang sudah jelas ada
dan akan semakin berkuasa

Farrosih
saat mengawal suara di PPK

Dua mata, dua tangan

ada kalanya kita seperti dua mata
tak pernah berjumpa
tapi selalu sejiwa
kita menatap ke arah yang sama
walau tak berjumpa
mengagumi pemandangan indah
dan berucap subhanaLlah
kita bergerak bersama
walau tak berjumpa
mencari pandangan yang dihalalkan
menghindar dari yang diharamkan
dan berucap astaghfiruLLah
kita menangis bersama
walau tak berjumpa
dalam kecewa, sedih, ataupun gembira
duka dan bahagia
dan tetap berucap alhamduliLLah
kita terpejam bersama
walau tak berjumpa
memberi damai dan rehat
sambil berucap laa haula
wa laa quwwata illa billaah..
tapi kadang kita perlu menjadi dua tangan
berjumpa dalam sedekap shalat
berjama’ah menghadap Allah
tapi kadang kita perlu menjadi dua tangan
berjumpa dalam membersihkan
segala kotor dan noda dari badan..

Salim A. Fillah
Untuk persahabatan karena Allah

Cinta Sahabat


Sahabat,
Teringatku saat dahulu bersua
Saat pertama kali kampus membentuk
Bersua kita di jalan ini
Membersamai perjuangan
Secuil namun bermakna
Sepercik namun berarti
Hingga usia kampus Mamaksa beralih masa
Dengan sekuat upaya
Kitapun lulus dengan luar biasa nikmat
Dan alam nyatapun telah dihadapan
Dan pangabdian upaya mengantar kau
Pergi merambah dakwah dibumi kelahiran
Kita berpisah dalam kerangka dakwah
Sampaikan Islam di sana
Bawa islam bermakna
Sampaikan salam untuk para pejuang
Ikrar kita akan tetap sama
Untuk membersamai dakwah ini
Hingga diujung masa
Kini, setelah lama tak sua
Diakhir bulan lalu
Aku pergi ke tanah kelahiranmu
Bersama kawan bermisi pula
Sahabat... kita bersua, kita bersua
Kita bersua saat kau pegang microphone
Dihadapan para pejuang lain
Dihadapan ikhwan dan akhwat
Subhanallah.. dulu kita bersua dalam dakwah
Kita berpisah dalam dakwah
Dan kini kita bersua kembali dalam dakwah
Dak kitapun harus berpisah kembali dalam dakwah pula
Sahabat... berjanjilah untuk tetap bersama jalan ini
Berjanjilah pegang erat ikatan ini
Berjanjilah saat bersua nanti
Entah dimana dan bagaimana
Bukan hanya microphone yang kau pegang
tapi cucu’ buat orang tuamu

Syair Iliya Abu Madhi:

Ia berkata, Langit bersedih dan menampakkan kedukaannya
Saya menjawab, Tersenyumlah, maka akan terobati duka laranya
Ia berkata, kerinduan telah menyelimutiku
Kukatakan kepadanya, tersenyumlah
Maka tidak akan kembali kerinduan yang menyekat jiwa
Ia berkata, musuh disekelilingku meneriakkan sesumbarnya
Apakah musuh yang ada disekitarku telah dijamin keselamatannya?
Saya berkata, tersenyumlah, mereka tidak meminta kepadamu jaminan
Meskipun mereka tidak memiliki keagungan dan kemuliaan
Barangkali, orang lain melihat anda dalam kebahagiaan
Namun, mereka melemparkan kesedihan disamping kegembiraan
Apakah anda dapat menebus kesedihan dengan harta yang melimpah?
Apakah anda merasa rugi dengan senyuman yang terpancar di wajah?
Wahai orang yang berteriak, apakah anda rugi dengan merekahnya kedua bibir?
Ataukah anda bangga dengan pucatnya wajah
Tertawalah, karena burung merpati telah menertawaimu
Kokok ayam bersaut-sautan karena mereka mencintaimu

(dari buku ‘Aid Al Qorni, Laa Tahzan)

Walau Sebentar


Aku meratap dan mengharap belas kasih diakhir malam
Wahai Dzat yang menggenggam diriku,
Kasihanilah hatiku yang kelam
Kubisikkan pada malam,
Kasihanilah diri ini selagi ada dunia
Suatu hari nanti, ia pasti akan berpisah dengan kekasihnya
Aku mengadu pada malam,
Berilah aku kasih sayang walau sebentar
Dari kezaliman, diriku dicekam kekhawatiran dan gemetar
Aku tak tidur karena hatiku rindu akan kasih sayang-Nya
Kerinduan dalam jiwaku justru bertambah menggelora