Ukhwah itu indah


Allahumma innata’lamu annahaadzihil qulub. qodijtama’at ala mahabbatik, wal taqot ala thooatik, watawahhadat ala da’watik, wata’aahadat ala nashroti syariiatik, fawassikilla humma roo bithotaha wa adimwuddaha wah dihaasubuulaha wam la’ha binuurikalladzi laa yakhbu, washrohsuduuroha bifaidiliimanibik wajamilittawakkulialaik wa ahyiha bima’rifatik wa amitha ‘alasyahaatati fii sabiilik, innaka ni’mal maula wa ni’mannashir.

ya Allah, sesungguhnya engkau maha mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepadamu, bersatu dalam rangka menyeru dijalanmu, dan berjanji setia untuk membela syariatmu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan penuhilah dengan cahayamu yang tidak pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakkal kepadamu , hidupkanlah dengan ma’rifatmu, dan matikanlah dalam keadaan syahid dijalanmu. seseungguhnya engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. amin

Dan doa ini mengajarkan kita untuk selalu dalam satu ikatan, karena ikhwah.. beban dakwah akan terasa indah bila kita hadapi bersama, oleh karena itu ia syarat akan makna kesatuan:

1. wihdatul ghoyah (kesatuan tujuan)
2. wihdatul aqidah (kesatuan aqidah)
3. wihdatul fiqrah (kesatuan pemikiran)
4. wihdatul minhaj (kesatuan landasan)
5. wihdatul jama’ah (qiyadah) (kesatuan jamaah)
6. wihdatul harokah (kesatuan pergerakan)
7. wihdatul as syu-ur (kesatuan perasaan)

Salam ukhwah
Farrosih

Menurut Engkau

Kelemahanlah isi tangan yang terbuka
Dalam ketidakberdayaan belajar meminta
Pada-Nya yang paling mengerti hajat manusia
Pada-Nya yang paling memahami maksud ciptaan-Nya
Pada-Nya yang paling mengetahui yang terbaik baginya

Rabb...
Berilah kami kebaikan,
Kebaikan yang menurut Engkau
Karena baik menurut kami
Mungkin tidak menurut Engkau
Kaulah Pencipta itu,
Pencipta kami dan Pencipta kebaikan

Berilah kami ilmu,
Ilmu yang baik dan manfaat
Menurut Engkau
Sekali lagi menurut Engkau

Berilah kami teman
Teman yang baik, menurut Engkau
Baik bagi akherat dan dunia kami
Baik bagi dakwah dan agama ini
Baik bagi keluarga dan jamaah ini
Kalau tidak menjadi baik
Maka gantilah dengan yang lebih baik
Menurut Engaku
Sekali lagi, menurut Engkau
Mata ini sering tersalah
Hati ini sering terlalai
Hanya Engkau yang paling mengetahui arti kebaikan
Bukan saya atau siapapun

Hembusan Angin...


Perjalanan waktu menghantar wasilah ini semakin menunjukkan existensinya menuju muara harap dan cita cita yang semakin hari semakin mendekat dari serangkaian harapan dan cita-cita futuhat para qiyadah sedari kecil lingkaran keajaiban tarbiyah itu di gelar di bumi nusantara hingga sampai di hadapan kini. Dari kecil dibangun, dari tidak memiliki apa-apa di pupuk, dari keterbatasan demi keterbatasan bangunan ini disiram, hingga buah keikhlasan dan kesabaran itu mampu dirasakan kini sebagai Rahmat dari Nya. Mari tanyakan pada mereka bagaimana sukarnya menanam, memupuk, menyiram, merawat bangunan dakwah ini. Mensejarahi perjuangan keseriusan mereka bagi kita adalah kemestian yang tidak boleh diabaikan begitu saja, memberikan hikmah pada kita bahwa, tidak mungkin bangunan jamaah ini dibangun dengan ketidak seriusan, tanpa ada kesadaran dan pengorbanan serta berfikir hanya akan melewati sedikit dan mudahnya beban.

Namun, semakin ia tinggi dan besar, maka angin yang berhembus pun akan terasa semakin kencang dan menghantam. Semakin ia tinggi semakin besar badai itu merobek bendera bangunan ini, semakin tumbuh maka semakin besar tantangan itu harus dihadapi, dan proses alam ini akan menghantarkan kita pada sebuah proses penilaian alamiah yang akan membuktikan siapa diantara mereka yang tetap dalam kesabaran dan keistiqomahannya atau siapa diantara mereka yang "ada" hanya disaat mudah saja serta "menghilang" saat harus melawan angin kencang dan badai yang menghantam.

”Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu Keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu Amat jauh terasa oleh mereka. mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: "Jikalau Kami sanggup tentulah Kami berangkat bersama-samamu." mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta” (At-Taubah:42)

Ikhwah, makna lain itu bernama cobaan, karena besarnya pahala yang Allah berikan berbanding lurus dengan besarnya angin yang dihembuskan, dan Allah bila mencintai suatu jamaah dakwah maka Allah akan hembuskan ia dengan angin yang akan semakin kencang sebagai satu dari tanda cintanya yang Maha indah yang terkadang keluar dari konteks kemanusiaan kita. Bila kita benci dengan apa yang telah dihembuskan-Nya maka kita kan beroleh kebencian-Nya, namun sebaliknya pabila kita ridho dengan apa yang diujikan-Nya kepada kita, maka kita kan beroleh keridhoaan-Nya pula. Semoga kaki yang lemah ini ditopang dengan azzam yang kuat ditambah bumbu kebersamaan yang akan selalu bersama menahan dan bertahan dalam alunan perputaran roda jamaah ini yang akan selalu berputar menuju mihwarnya yang semakin hari semakin dinamis saja, yang semakin hari semakin menemukan jenis angin yang semakin beragam, yang semakin hari semakin terlihat sebenar-benarnya tantangan musuh-musuh itu, dan tentu semua itu memerlukan pensikapan yang bijak dari kita sebagai bagian darinya.

Allahumma innanasalukal shobron...

Farrosih

Cinta dan kehilangan

“Yaumun lana wa yaumun ‘alaina”

Pada suatu hari kita beroleh kemenangan dan pada hari yang lain kita pula yang dikalahkan. Pada suatu hari kita berjumpa dengan yang kita inginkan dan pada hari yang lain kita pula yang ditinggalkan.

Disuatu sore, sahabatku yang kalem dari tanah kelahirannya di selatan Kalimantan Timur mengirim pesan singkat melalui handphone nya:

”Assalaamu’alaikum. Mohon do’anya ikhwah semua untuk kesembuhan abi, agar dapat melalui masa kritis penyakit jantung. Jazakallah. Wslm”

Aku hanya bisa menjawab
”Iya akhi... antum sabar ya...”

Sejenak kemudian tidak berselang beberapa jam, kabar dari sahabat yang lain datang bertamu di handphone ku.

“Innalillahi wa innailairoojiun, telah berpulang ke rahmatullah ayahanda akhi sholeh (hamas/paser) jam 16.30 sore tadi”

Hati ini langsung bergetar, sesosok wajah kalem nan bersahaja tiba-tiba muncul dihadapan pikiranku dengan senyum lembutnya membersamai takdir yang harus diterima, takdir yang telah membawa pergi harapan yang selama ini menjadi mimpi untuk kebahagiaannya. Kayu telah menjadi arang, bumi sudah terlanjur berjanji akan terus berputar tanpa harus berhenti melihat siapa yang kedinginan dengan malam dan siapa yang kepanasan dengan siang. Takdir itu telah menjadi nyata, ayat-ayat itu telah benar bukti adanya, ucapan dari lisan Nabi tercintapun telah menjelma dihadapan. Bahwa hari itu akan tiba, saat dimana kita harus berpisah dengan orang-orang yang kita cintai, dengan tangan mereka yang melambai ataukah tangan kita yang akan melambai mereka. Berharap adalah manusiawi, bersedih adalah biasa, menangis adalah wajar. Saat seperti itu, ketika cinta dan kehilangan harus berbenturan, maka hanya satu wadah paling aman dan setia menumpahkan perasaan dan kegalauan sebagai manusia yang begitu lemah, ya.. ALLAH lah tempat itu.

Mengingatkan kita pada kata bijak:

“Yaumun lana wa yaumun ‘alaina”

Pada suat hari kita bahagia dengan cita dan harapan kita, pada suatu harinya nanti, kecewa sedang menanti diujung sana. Bagai berputarnya bumi ia dipergilirkan sebagai rahmat yang begitu indah menyeksamai hikmah dari perjalanan hidup yang sebentar ini. Dan bila mimpi indah itu telah terbang kedunia lain membawa serta harapan dan cita-cita cinta kita, maka ingatlah kembali saat tentara uhud kaum muslimin kembali dari peperangan dengan wajah lesu dan menghilangnya semangat dan cita-cita mereka. Saat itu tujuh puluh Mujahid fii sabilillah gugur, diantaranya adalah paman Nabi sendiri Hamzah bin Abdul Muthalib, Nabi sendiri pun mendapat luka. Maka terlihatlah kelesuan, kebimbangan, lemah semangat dan duka cita menghinggapi di hampir semua pasukan kala itu. Maka kedatangan merekapun disambut dengan kalimat motivasi dari Allah SWT sang penentu takdir ”Wala tahinu, wala tahzanu, wa antumul a’launa inkuntum mu’minin”, kalimat itu datang dari langit, membangunkan jiwa-jiwa yang kehilangan, kehilangan orang yang dicintai, kehilangan harapan yang terlanjur membumbung tinggi, menyeksamai arti penting dari ”cinta dan kehilangan”

Maka sahabat, cintailah apa adanya, bencilah ala kadarnya, sehingga bila suatu saat terluput maka tiada ada yang terasa berat dalam sengsara. Bila kita telah siap dengan bahagia, cukuplah adil bila kita harus siap pula dengan kecewa. Bahagia dan kecewa adalah bagai dua sisi mata uang yang akan selalu bersama dalam menghargai arti dari sebuah kehidupan yang semakin hari, semakin menunjukkan corak warna warninya. Bahagia adalah manusiawi, kecewa adalah manusiawi, tertawa adalah manusiawi, menangis pun adalah manusiawi, namun mereka akan bernilai indah, dengan seni ibadah bernilai dihadapan Rabb kita, manakala ia dibingkai dengan keimanan yang selalu menyertai Allah dimanapun dan bagaimanapun warna itu ada. Namun satu hal yang menjadi pentingnya sebuah catatan adalah manakala kita bisa berbaik sangka padaNya dengan sebaik-baik sangkaan yang pernah ada dan yang pernah kita kenal.

”Akupun bahagia
Dan akupun akan kecewa”

Farrosih

KETIKA MAHAKAM BERTASBIH
















Gelombangmu tenang
Setenang dzikir Abu Hurairah
Selembut azan Bilal bin Rabbah
Kesunyian pagimu mengakrabi lelah
Diantara canda burung bersayap
Angin berhembus dari arah selatan
Menghantam dingin sekujur badan
Membersamai surya dibalik senyum awan
Di timur ufuk tak berkawan
Dalam nafas kutarik panjang
Tak kuasa ku tak berucap subhanaLLah….


Mahakam menggemuruhkan syairnya, sungai terpanjang itu membacakan ayat-ayat kauniyah dalam ketenangan dan kesunyiaannya, rukuk, sujud, bertasbih kepada Tuhannya, melaksanakan kewajiban sebagai ciptaan dihadapan Sang Khaliq. Seorang anak manusia sedang duduk ditepinya, tepi sungai mahakam yang menjadi sumber inspirasi membangun jiwa dihadapan gelombang ketenangan dan lantunan alam yang membentang dihadapan, apalagi dihiasi indah Masjid Islamic Centre dipandang dari kejauhan yang masih saja terlihat megah dan mempesona. Menelusuri hikmah, mencari bukti dan kebenaran dari suguhan yang dipersembahkan oleh sang pencipta, tadi, selepas fajar subuh ia pacu kendaraan menujunya melepas kepenatan dari serangkaian aktifitas yang menguras energi dan waktu. Berkawan mushaf kecil ia mencoba rehat dalam kesunyian, disuatu tempat belajar mentafakkuri alam sembari melepas kepenatan baik fisik maupun fikiran, menarik nafas panjang sepanjang kelelahan yag selalu membersamainya, disebuah sungai terpanjang dan terbesar di Kalimantan ini, Sungai yang membelah provinsi Kalimantan Timur, Panjang sungai ini mencapai 920 km dan di hilir Sungai Mahakam lebamya kira-kira 500 m. sebuah tempat dimana ia terbiasa bersamanya, bersama alam membuat kesimpulan-kesimpulan kecil dan sederhana memaknai hikmah yang masih tersirat dan perlu penafsiran menemani serangkaian perjalanan masa terlewati untuk dijadikan pelajaran berharga dalam hidup dan kehidupan kedepannya. Disuatu ahad pagi sekali saat tidak ada seorangpun ditempat ini, saat jalan ditengah kota masih lengang oleh kendaraan berasap, saat hanya ada belasan burung mengepakkan sayap-sayap bermain mesra sesamanya diatas sungai menyambut datangnya matahari yang akan muncul diufuk timur. Angin berhembus dari arah selatan menghantam dingin sekujur tubuhnya seolah membawa pesan singkat dan menegaskan bahwa ia akan selalu ada dan dapat dirasakan keberadaannya meski tiada seorangpun yang mampu melihat angin tersebut, angin mengabarkan bahwa Allah itu Maha ada dan dapat dirasakan keberadaaNya, meski tiada seorangpun yang mampu melihat. Allah Maha “ada” sebelum kata “ada” itu ada, dan Allah akan tetap “ada” meski kata “ada” itu tidak ada, karena adanya Allah karena ketiadaan manusia, karena Allah itu WUJUD. Menjadi kesedihan yang sangat, sebuah tempat yang indah dikala pagi seperti ini menjadi objek wisata kemaksiatan dikala senja dan malam hari, wadah yang semestinya dimanfaatkan untuk tadabbur akan keagungan Allah di salah gunakan sehingga memaksa menjadi tadabbur akan kemurkaan Allah SWT.

Mencoba beralih pandang kearah luas sungai yang bergelombang dan beriak kecil. AIR bergerak dari hulu ke hilir, bergerak menelusuri apa yang memang harus ia telusuri. BEGITULAH HIDUP, harus bergerak dan mengalir, tidak boleh berhenti pada satu titik perhentian, apabila air tidak bergerak dan tidak mengalir maka ia akan menjadi air yang tergenang, berwarna keruh, berbau dan berasa aneh, hingga beracun, tidak suci dan tidak bisa mensucikan. Kepada siapapun yang menghendaki kedinamisan hidup bak air inilah kita menteladaninya, mari bersama bergerak dan bergerak jangan pernah berhenti berjuang menuju bintang, jangan pernah merasa bahwa hidup tidak akan mengalirkan kita sumber mata air semangat menuju cita-cita, mengalirlah terus, bergeraklah terus, bukankah tidak akan ada suara merdunya pabila huruf-huruf dalam alqur’an tidak ber harokat, maka teruslah ‘berharokah’, bergerak dan mengalir seperti air sehingga gerak kita bersuara merdu yang nadanya didengar penghuni bumi dan langit, menghujam dan mengetarkan hati musuh-musuh kebaikan yang bertengger dan bersembunyi dibalik warna mereka.

Diseberang sana ia melihat Masjid Islamic Centre berdiri dengan anggun, dihiasi puncak gunung yang diselimuti tumbuhan hijau yang mulai terkelupas yang sedikit banyak menambah indah wajah Samarinda kala pagi hari. Tak sengaja matanya melihat beberapa pohon yang berdiri diatas takdirnya menjalankan tugasnya sebagai ciptaan, lama ia lihat dan mencoba menelusuri serangkaian kalimat yang ada di dalamnya, menggali hikmah yang semoga bisa melembutkan hati yang terlalu sering lalainya dari pada ingatnya, muncul sebuah kesimpulan sederhana bahwa ternyata peran penting dari sebuah pohon adalah AKAR, begitu besar peran akar dalam proses pertumbuhan si “pohon”, ia mencari sumber energi, menelusuri setiap kelam tanah berlumpur, yang kemudian mengaliri mineral ke seluruh bagian pohon, sehingga menghasilkan batang yang kuat, ranting yang kokoh, daun yang mekar dan buah yang bermanfaat bagi manusia. Kawan, meski besar dan pentingnya peran akar, namun akar tetap tenang dalam kesunyiannya di dalam tanah, tak terlihat, jauh dari bising ketenaran, hanya bisa berusaha dan berdoa untuk kebagiaan apa yang dicintainya meski tidak seorangpun melihatnya. Si “akar” berpesan, “Biarlah Allah saja yang menilai, biarlah Allah saja yang melihat, biarlah Allah saja yang mengatur. Berbuatlah, bergeraklah dan beramallah karena Allah saja, ikhlaskanlah segala derap langkah kaki berpijak, agar tidak sia-sia amalmu, agar tidak menguap segala upayamu hanya karena berharap manusia, berharap puji manusia, berharap puja mereka”. Mengingatkannya ketika suatu hari berkunjung kesebuah desa, melihat sawah orang tua kawannya yang begitu luas, disana ada PADI yang kalau mau ditarik sebuah kesimpulan, semakin padi itu berisi maka semakin merunduk ia, semakin tidak berisi si Padi maka bertambah pongah menjulang kelangit ia. Tidak ada tanda-tanda kesombongan darinya pabila si padi berisi, berisi sesuatu yang begitu bermanfaat yang menjadi salah satu kebutuhan pokok hari-hari bagi manusia, yaa.. bagi kita semua. Sahabat, mari belajar dari akar dan padi, karena sudah terlalu banyak mereka yang terjebak dalam penyakit ini sadar atau tanpa disadari, ketahuilah bahwa tidak ada alasan bagi Allah mengusir syetan dari tempat yang mulia kecuali Kesombongannya, sebegitu besar dampak buruk dari kesombongan sampai-sampai dia yang kita cintai selalu beristighfar tidak kurang dari 70 kali setiap harinya, Rasulullah SAW pun bersabda: “Tidak akan masuk syurga orang yang dalam hatinya terdapat sifat sombong, meskipun hanya sebesar biji zarroh”. Allahumma tohhir quluubana minannifaq wal kibr, Wa ‘amaluna minarriya…

Dibukanya mushaf itu kembali, di dapatinya sebuah ayat yang menjadikan Nabi tercinta menangis tersedu-sedu hingga air matanya terjatuh mengaliri pipi hingga melewati sekujur tubuh membasahi tanah rumahnya dan disaksikan istri tercinta Aisyah, ya… dalam Alqur’an Allah berfirman:

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal“

Langit itu, awan itu, gunung itu, pohon itu, kapal itu, angin ini, sungai ini, dan masih banyak yang lai lagi, dalam pergantian musim dan waktu, siang ataupun malam, semua berjalan mengikuti sunnahNya, taat dan tunduk tanpa keluh kesah dan pertimbangan keberatan. Semua yang diciptakanNya berjalan sesuai tugasnya masing-masing, tidak ada yang terlewatkan, sangat sempurna tanpa cacat sedikitpun, tiada satupun dari ciptaanNya yang tidak berguna bagi kita makhluqNya, apapun itu, dari semua yang ada sungguh terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang menggunakan akalnya, tanda-tanda ilmiah yang mampu membangun jiwa sehingga menjadikan diri serasa sebegitu kecil dan lemah dihadapanNya. Bagaimana terbentuknya hujan, mengapa ada sungai, seberapa manfaat awan, matahari, angin, dan sebagainya. Semua terdapat tanda-tanda dan kalimat penting bahwa ALLAH itu Maha Besar, manusia kecil, Allah Maha perkasa dan manusia lemah, Allah maha suci dan manusia kotor dan teramat kecil dan tak layak dijadikan pembanding dengan ciptaanNya saja apalagi denganNya, sungguh Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu. Maka bertasbihlah mensucikan namaNya, sebelum lisan ini tak mampu lagi bertasbih. Diatas sebuah sungai ia mencoba terus memaknai secuil tetas air diatas jarum yang dicelupkan diatas sungai itu, yang kemudian kusimpulkan bahwa ILMU ALLAH tak terbatas sementara ilmu manusia selayak tetes air diatas jarum. Lalu masih sulitkan diri bersimpuh dihadapanNya, mengakui segala kelemahan dan kekurangannya, mengakui akan segala kesalahan demi kesalahan yang sudah sangat terbiasa sebagai insani. Sahabat, mari rengkuh kalimat Allah, jadikan ia pendamping hidup yang kan selalu membersamai hidup mengarungi muaranya sehingga kelak kita kan berucap.. Subhanallah..

Ya Allah begitu mempesona ciptaanMu, cantik nian ia, karuniakan sifat kesyukuran diatas lemah dan keterbatasan yang semakin terbatas atas diri-diri kami, sungguh kami hanya manusia biasa yang belajar mencintaiMu dengan pelajaran cinta yang Kau suguhkan pada kami dari semua ciptaanMu yang terbentang dihadapan. Wa’fuanna, waghfirlana, warhamna, anta maulana....

Farrosih

Fase pembuktian

" Dan diantara mereka ada yang berkata: Izinkanlah aku (tinggal), dan janganlah engkau fitnahi aku… " (Pangkal ayat QS. Ataubah: 49)

Ladang itu bernama Tabuk, Bulan Rajab tahun kesembilan tepatnya diantara Madinah dan Damaskus, disanalah berbilang pembuktian di sodorkan oleh mereka yang benar janjinya ataupun diantara mereka yang tidak benar janjinya. disanalah fase pembuktian itu digelar, membuka tabir yang selama ini sulit terlacak, gelap tak berjejak. saat Yaumul 'Usrah dibentang dihadapan jiwa, musim panas, belanja kurang, saat masa dimana buah sedang ranum siap dipetik, musim memetik buah adalah musim yang dinanti sepanjang tahun masa menanam, ditengah hasutan para munafikun, bergabungnya kabilah kabilah Arab, kabilah lakham dan juzam yang telah memeluk agama Nasrani kedalam barisan tentara Heraclius, raja bangsa Rum yang telah mempersiapkan 40.000 tentara Rum untuk memperlemah dan menhancurkan kekuatan umat Islam yang berpusat di Madinah. Sementara kaum muslimin harus menjemput dan menghadapinya diluar Madinah. Perjalanan ke Tabuk itu memanglah akan menempuh kesulitan, dari Madinah ke Tabuk 11 Marhalah atau 610 kilometer. apatah lagi musim panas, mereka baru saja pulang dari penaklukan Makkah, pertempuran Hunain dan pengepungan Thaif. Mereka hendak beristirahat dulu dan memetik kurma yang sedang musimnya untuk memetik. Saat seperti itu Rasulullah menyerukan nafir peperangan untuk menghadapi pasukan tentara Rum dengan segala kekuatan dan kelengkapan pasukan militernya, pasukan harus menjemput bola, jangan biarkan pasukan Rum itu sampai lebih dulu ke Kota Madinah.

Disinilah saat saat penting membiarkan alam menilai manusianya, memberikan kabar kebenarannya, membuktikan lewat episode ketakutan yang menghantui jiwa manusia. Diantara mereka ada yang tegar laksana batu karang diterjang gelombang berhari dan bertahun tahun lamanya, pun ada diantara mereka selaksa Abdullah bin Ubay, Kaab bin Malik ataupun Abu khaitsumah ataupun mereka yang lebih memberatkan badannya kebumi. namun pula semangat ibnu ummi makhtum yang buta menjadi hasil pembuktian episode kepahlawanan itu. Semua itu berbanding lurus dengan tingkat keimanannya masing masing dan saat kegalauan dan ketakutan itulah saat yang tepat membuktikannya.

Diantara itu semua, ada seorang diantara mereka yang bernama Jidd bin Qais. Dia meminta izin untuk tidak pergi ke Tabuk, namun alasan yang dikemukan "lain dari pada yang lain", ia mengatakan pada Rasulullah bahwa alasan meminta izinnya dikarenakan dia tidak akan tahan terkena fitnah kecantikan perempuan perempuan bangsa Rum. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa kulit orang Rum ialah Ashfar, yaitu arti asalnya dalam bahasa arab ialah kuning, dan dalam loghat Melayu Indonesia disebut "Orang Kulit Putih". Di semenanjung Tanah Melayu bangsa barat itu disebut "Orang Kulit Putih". Perempuan-perempuan Rum itupun berkulit demikian dalam hal ini berarti mereka cantik-cantik. Adalah kebiasaan bangsa Rum pabila bertempur selalu membawa perempuan-perempuan mereka kedalam lahan pertempuran. dan itu yang menjadi kekhawatiran seorang Jidd bin Qais untuk meminta izin tidak ikut bererang terkalahkan oleh perasaan akan terjerumus kedalam "fitnah kecantikan".

" Dan diantara mereka ada yang berkata: Izinkanlah aku (tinggal), dan janganlah engkau fitnahi aku "

Maka bersabdalah lanjutan ayat: " Ketahuilah, bahwa kedalam fitnah itulah mereka telah terjatuh", artinya, kalau mereka mengatakan bahwa melihat kecantikan perempuan Rum kelak ketika berhadapan dengan orang Rum, mereka katakan satu fitnah, maka ketahuilah bahwa sebelum bertemu dengan fitnah melihat wajah perempuan Rum yang belum terjadi itu, mereka telah tenggelam terlebih dahulu kedalam fitnah, yaitu fitnah kelemahan hati, fitnah mencari-cari dalih, sedang fitnah perempuan didalam perang bukanlah fitnah sebab perang dalam Islam memiliki aturan yang jelas. Setidaknya begitu yang di sampaikan Buya Hamka dalam tafsirnya.
Allah mengirimkan kabar langsung dalam kitab yang sempurna itu tentang Jidd bin Qais, membuka rahasia tabir kegelapan yang bersandar pada perasaan disudut sunyi hatinya. Kalau demikian lalu bagaimana dengan Rasul dan Sahabat yang lain? bukankah mereka akan mengahadapi perempuan perempuan itu juga. Allahu Latief, Allah yang paling mengetahui bahaya yang lebih bahaya dari fitnah itu, yakni hatinya yang ragu atau pengecut.

Menganalisa serangkaian pemandangan silam yang tertuang dalam tintah sejarah peradaban kegemilangan Islam menjadikan aliran darah mengalir deras membersamai masa kini yang jauh lebih mudah dan berbeban ringan. Alangkah naifnya bila kita membandingkan jenuh lelah perjuangan ini kedalam fase dimana Rasul membuktikannya kala itu, hanya tidaklah seberat pejuang Palestina, tidaklah setumpuk darah afghanistan, tidaklah berbilang nyawa di Irak, hanya waktu dan peluh yang tak seberapa, lalu kau mundur kebelakang, mensejarahi Jidd bin Qais yang menutupnya dengan alasan. Sahabat, kalaulah bukan karena Allah tidaklah mungkin kita "disini", menghias hidup dengan nilai Rabbani yang mengajarkan kita saling berempati kepada ummat ini, belajar menangis dalam ketertawaan malam, dihiasi sinar kelemahan kaki melangkah. Sahabat, tepis semua keraguan, jangan lagi ada bimbang, kita sudah berada dijalan yang benar, meski jalan-jalan yang lain memanggil dalam indah mempesonanya kenangan. Jangan ada lagi kelemahan keinginan itu untuk terus masuk merangsek dalam medan pertempuran baru di dunia kini, berlatih adalah kemestian, lubang berkedalaman panjang selalu akan ada dihadapan, meskipun begitu tetaplah berada bersama jamaah ini, bersama membersamai dakwah yang semakin dinamis ini, kalaulah ada kesalahan siapapun kita, termasuk qiyadah adalah mungkin sebagai insan yang tak luput dari kesalahan, kalaulah medannya kini harus di siyasi, maka bersabarlah karena itu lebih baik daripada mundur kebelakang, memang inilah fase kita kini, disini kita membuktikan bahwa tarbiyah mampu menjadikan kita orang-orang yang biasa dengan keinginan luar biasa membangun bangunan kebaikan dalam apapun marhalahnya kini. Sahabat, bersabar dan kuatkan kesabaran, tinggikan cita cita membumbung tinggi higga mereka tak lagi berkata "kau pecundang".

Farrosih

17 hari menanti kepastian

berada diantara ambisi dunia
kepulan asap berhambur seantro ruang
wajah haus tabungan itu tertawa lebar
berteriak dibalik ingin si ambisi jabatan
aroma alkohol mengakrabi mereka
bersembunyi dibalik botol aqua
bercampur kuning pewarna menipu daya

ahh.. aku ingin segera pulang
tapi itu hanya keinginan
nyatanya aku tidak boleh kebelakang
masanya kini harus disini
membersamai mereka menanti kepastian

akupun belajar memaknainya
ternyata sederhana keinginan mereka
hanya penyambung nafas di usia yang menua
meski harus bermalam ria
ditengah masa kerja ataukah rehat masa

17 hari aku kini
mengawal wasilah suara perjuangan
letih sudah tak berbilang
lelah sudah kelelahan
namun itu hanya setetes upaya
sederhana inginnya
kebaikan harus menghadapinya
menantang kebathilan yang sudah jelas ada
dan akan semakin berkuasa

Farrosih
saat mengawal suara di PPK

Kilaunya matahari mengakrabi cinta

Tersebutnya dalam nama Abu Bakar, seorang lemah yang kuat karena cinta, mampu bertahan dalam badai karena cinta, mampu menepis keraguan akan Rasul karena cinta, mampu melukis hias sejarah karena cinta. Dahulu ia rela disengat kalajengking dan ular agar supaya yang dicinta RasulNya tidak terbangun dari tidur lelap di pahanya, sesekali berjalan didepan Rasululah, sesekali berpindah berjalan dibelakang Rasulullah dalam satu kisah hijrahnya suatu hari, menghadirkan sedikit gundah yang menjelma menjadi pertanyaan dari lisan Rasulullah, MENGAPA?, ternyata itulah Abu Bakar yang berjalan di depan Rasul karena hawatir musuh sedang mengendap-ngendap mengintip yang bisa menyergap dari depan, sesekali kemudian berjalan di belakang Rasul karena hawatir musuh mengejar dari belakang, menegaskan kita, bahwa ternyata Abu Bakar lebih rela terhilang nyawanya lebih dulu dari pada Rasulullah, sekali lagi ia mampu berbuat demikian karena cinta. Menangis ia tidak akan pernah makan setelah pingsan dan sakitnya dikeroyok dipukul seusai khutbah yang pertamakalinya ia kumandangkan demi syiar Islam diawal era ta'sis, tidak akan makan sebelum bertemu Rasullah, sebelum ia meyakinkan bahwa Rasulullah baik baik saja. menjadi asbab penting sang ibu bertemu dan bersyahadat dalam Islam dhadapan Rasulullah. Semua ia mampu lakukan karena cinta. Suatu hari ia mendapat kabar dari orang Yahudi bahwa "Rasulullah adalah pembohong besar" karena memberikan kabar bahwa bisa melakukan perjalanan dari masjidil Haram ke masjidil Aqsa lalu naik ke sidratul muntaha hanya dalam masa semalam, ketika didapatinya orang Yahudi itu, ia mengatakan "andai ada kabar yang lebih dahsyat dari pada itu, asalkan kabar itu datang dari lisan Rasulullah maka aku akan mempercayainya". Padahal saat itu ia belum mendengar langsung dari Rasullah tentang kabar isro Mi'rajnya, ia membenarkan Rasul pertama kali saat orang-orang mendustakan dan menertawainya, ia yang membenarkan Rasul pertama kali saat orang lain dijelma keraguan dan kebimbangan akan kebenaran kabar dari lisan Rasulullah, itulah mengapa ia digelari As Shiddiq, orang yang membenarkan Rasulullah kala orang lain mendustakannya. Sampai suatu hari ia ditanya "lalu apa untuk mu dan keluargamu, bila kau sumbangkan seluruh hartamu untuk Islam ini" ia hanya menjawab: Allah dan RasulNya untukku dan keluargaku. Teman, sekali lagi ia mampu melakukan itu semua karena cinta. Ya Allah ridhoilah dan rahmatilah ia yang tersebut namanya dengan Abu Bakar As Shiddiq.

Farrosih

Dua mata, dua tangan

ada kalanya kita seperti dua mata
tak pernah berjumpa
tapi selalu sejiwa
kita menatap ke arah yang sama
walau tak berjumpa
mengagumi pemandangan indah
dan berucap subhanaLlah
kita bergerak bersama
walau tak berjumpa
mencari pandangan yang dihalalkan
menghindar dari yang diharamkan
dan berucap astaghfiruLLah
kita menangis bersama
walau tak berjumpa
dalam kecewa, sedih, ataupun gembira
duka dan bahagia
dan tetap berucap alhamduliLLah
kita terpejam bersama
walau tak berjumpa
memberi damai dan rehat
sambil berucap laa haula
wa laa quwwata illa billaah..
tapi kadang kita perlu menjadi dua tangan
berjumpa dalam sedekap shalat
berjama’ah menghadap Allah
tapi kadang kita perlu menjadi dua tangan
berjumpa dalam membersihkan
segala kotor dan noda dari badan..

Salim A. Fillah
Untuk persahabatan karena Allah

Tertunduk ku lemas

Pagi yang cerah menghantar ayunan langkah menuju muara harap menjalani serangkaian aktifitas disuatu pagi. Rupanya fajar masih belum rela meninggalkan embunnya untuk sang surya, sekejap saja dingin yang menjalar di sekujur tubuh menguap menjadi kehangatan membersamai datangnya harapan pagi pada mentari. Disuatu tempat dalam dialog mesra penuh kehangatan ukhwah, kujabat tangannya dan kutatap ia rindu:
"apa kabar ustadz?" awalku, "segala puji bagi Allah, akhi" jawabnya dengan senyum merona, dalam batin ku merasa selalu saja "nama" itu tak pernah luput dari lisannya. "afwan akhi" tambahnya pendek kuturut dengan mempertajam perhatian menunggu apa yang akan keluar dari lisan tawadhu itu. "saya untuk sementara tidak bisa melakukan kewajiban rutin saya pada kas kita, karena saya baru saja dapat musibah" lanjutnya. Membawa serangkaian gundah menjelma menjadi cemas. Ia melanjutkan "semalam motor saya hilang, dicuri maling". "astaghfirullah...bagaimana bisa ustadz?" responku kaget. Hanya senyum ikhlas yang kutangkap dari raut wajah itu, menambah rasa kagumku untuk selalu dekat dengannya.

Ya,.. Itulah hidup memancarkan warna-warni kehidupannya membawa segudang hikmah yang coba dipersembahkan bagi semua jiwa, semua yang berharap akan pelajaran dari ayat-ayat cintanya yang dahsyat disekeliling alam yang terbentang dihadapan. Setahuku motor itu selalu ia gunakan untuk aktifitas kebaikan, bahkan lebih dari kebaikan, namun mengapa Allah mengambilnya? Sementara tidak ada satupun daun dihutan belantara yang terjatuh dari pohonnya melaikan pasti atas izin dan sepengetahuan dariNya, apatah lagi gugurnya motor dakwah itu pada tangan-tangan picik tak berperasa, semua pasti atas izin dan kehendak dariNya, dan pasti pula dissaya telah tersisip makna dari tujuan sang pemberi takdir mengambil barang yang dicintai. Akupun lemas, karena setahuku pula beberapa bulan lalu, rumahnya pun terbakar hebat, barang-barang berharga lainnya hangus tak berjejak, disuatu tengah malam api itu meluluhlantahkan harapan dan kecintaannya, melerai diisak tangis ketiga putra-putrinya. Dan sekarang musibah itu datang lagi mengambil barang berharga yang bisa terselematkan dari kobaran api itu. Aku hanya bisa termenung, tertunduk lemas, bukan dia dengan segudang deraan masalah yang kupikirkan namun "diriku sendiri", aku hanya bisa berucap padanya "Allah teramat sayang sama ustadz, Allah teramat cinta pada ustadz", justru orang-orang sepertikulah yang perlu diberikan pertanyaan "apakah Allah masih cinta padaku", "apakah Allah masih memperhatikanku?". Bukan berharap agar musibah datang padaku, tapi yang kucinta Rasulullah SAW pernah menjelaskan apabila Allah menghendaki kebaikan pada diri seseorang maka akan diberikan cobaan padanya, Allah pun dalam kitab yang sempurna berfirman: "Apakah kalian dibiarkan saja mengatakan kami beriman, padahal belum diuji lagi...". Sang mentari perlahan beranjak keatas ubun-ubun, selalu saja pertanyaan itu selalu terngiang-ngiang dikepala "apakah Allah masih sayang dan cinta padaku?". "apakah Allah masih sayang dan cinta padaku?", diatas motor bermandikan cahaya siang mencoba terus merasakan yang dirasa sahabatku, sementara diri terus mengiba dan mengiba dalam lemah kaki melangkah, dalam terbatasnya isi jiwa. Allahummajalkhoiro umrii aakhirohu wa khoiro a’mali khowaatimahu wa khoiro ayyamii yauma liqooik.

Farrosih
Saat memaknai arti cinta

Mata Air Kehidupan

Refleksi Muhasabah Rasa

Maka perasaan yang tadinya masih terasa samar-samar, laksana masih mencari-cari diantara si hamba dengan Tuhannya, sekarang rahasia itu telah terbuka

“Engkau telah mengatakan dalam ujung kataMu, bahwa Engkau tetap belas-kasihan kepada aku, hambaMu yang lemah ini, ya Tuhanku! Sebenarnya aku sendiripun begitu kepada Engkau. Aku cinta kepada Engkau! Engkau berikan kepadaku perasaan yang halus, suatu Iffah atau Wijdan. Terasa dalam hati kecilku bahwa tidak pernah aku lepas dari tilikanMu, selalu aku Engkau bimbing, banyak nikmatMu kepadaku. Aku hanya selalu menerima saja, aku tidak dapat memberi kepadaMu. Bagaimana aku akau akan dapat memberi sedang nyawakupun, nyawa yang sedekat-dekatnya kepadaku, Engkau yang punya. Lantaran itulah maka kasih-cintaku kepada Engaku tumbuh dengan mesranya. Aku takut kepada Engkau karena Engkau. Hanya dengan sebuah tempurung aku menerima nikmatMu yang seluas lautan. Tetapi sungguhpun aku takut, akupun rindu kepada Engkau. Aku cemas, akan tetapi didalam cemasku itu akupun mempunyai penuh harapan. Tuhanku! Engkau ada, hatiku merasainya. Aku ingin sekali berjumpa dengan Engkau, tetapi aku tidak tahu kemana jalan. Dan aku Engkau takdirkan menjadi manusia. Aku sendiri tahu kelemahan dan kekuranganku. Sebab itu kadang-kadang terasa malu aku akan melihat Engkau, tetapi aku hendak melihat juga. Tuhanku, tolong aku, tolong aku. Tolong aku dalam penyesalan soalku ini”

Disinilah datang jawaban Tuhan. ” Jika sungguh-sungguh engkau cinta kepadaKu, maka jalan buat menemuiKu mudah saja. Memang Aku Maha Mengetahui, bahwa banyak hambaKu yang seperti engkau, ingin menemuiKu, ingin bersimpuh di hadapanKu, hatinya penuh dengan ingat kepadaKu. Sebelum engkau Aku adakanpun telah Kuketahui keinginan, kerinduan dan kecintaan itu. Untuk itulah Aku utus RasulKu kepadamu, dialah petunjuk jalan menuju Aku itu. ”Hai utusanKu! Sampaikanlah pesanKu itu kepada seluruh hambaKu yang rindu, asyik dan cinta kepadaKu itu. Bentuklah sebuah rombongan itu: Zumaran, berbondong-bondong. Tiap-tiap rombongan dibawah pimpinan engkau, wahai utusanKu! Katakanlah kepada mereka wahai RasulKu, cinta mereka Aku balas, bertepuk tidak sebelah tangan. Tadi mereka menyebut bahwa mereka sebagai menusia pernah bersalah. Aku tahu itu, Aku lebih tahu. Sebab aku yang mengetahui asal kejadian. Maka apabila rombongan itu telah terbentuk dan mereka telah berkumpul didalamnya, dan engkau sendiri yang memimpin, tandanya mereka telah benar-benar telah berjalan menuju Aku. Aku ampuni dosa mereka. Aku mempunyai pula suatu nama yang menunjukkan sifatKu yaitu, Tawwab, artinya memberi taubat, menerima hambaKu yang kembali. Akupun mempunyai suatu nama menunjukkan sifatKu, yaitu Ghafur, Pemberi ampun. Akupun Rahim, Amat Penyayang. Bagaimana akan kamu ketahui kebesaran AsmaKu itu, kalau yang bersalah diantara kamu memohon ampun tidak Aku ampuni?”

Allah SWT yang Maha Penyayang tak pernah pilih sayang, yang Maha Pengasih tak pernah pilih kasih, yang Maha Kuasa Sang Pencipta alam semesta berfirman:

”Katakanlah: jika memang kamu cinta kepada Allah, maka turutkanlah Aku, niscaya cinta pula Allah kepada kamu dan akan diampuniNya dosa-dosa kamu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Penyayang” (Q.S. Ali Imran: 31)

Diperintahlah kita untuk selalu membersamai Al Quran dalam tiap jejak kaki menapak, dengan sebenar-benar baca, menjuruskan fikiran kepadanya. Didapatlah sebuah kesimpulan mempesona bahwa Allah itu amat Penyayang, amat Kasih kepada hamba-hambaNya. Sehingga orang yang pernah bersalah diberi kesempatan untuk menurutkannya pada amalan baik sehingga memudarkan kesalahan yang disertai memohon ampun. Tuhan selalu bersedia menerima kedatangan hambaNya yang demikian.

Ada kesan mendalam yang terasa saat membaca ayat demi ayat dalam kitab yang sempurna. Ialah cinta, kasih sayang Tuhan kepada hambaNya. Maka dengan sendirinyapun, dalam perasaan sihamba terasalah pula keinginan untuk membalas cinta itu. Bertepuk tidak sebelah tangan hendaknya. Sebab turunnya ayat tersebut, salah satunya dari 60 orang utusan rombongan Nasrani yang 14 orang terkemuka sedang berada di Madinah. Nabi Musa yang besar telah mengajarkan kepada Bani Israil suatu ajaran yang berintisari Pengorbanan, sifatnya adalah Jalal, kemuliaan. Nabi Isa Al masih yang agung telah membawa lanjutan ajaran yang berdasar Hubb, cinta. Sifatnya adalah jamal, keindahan. Sekarang datang Nabi Muhammad saw menyempurnakan penyertaan diri kepada Tuhan itu, ISLAM. Sifatnya ialah Kamal, Kesempurnaan. Nyatalah bahwa ayat-ayat ini meninggalkan kesan yang mendalam juga pada angota-anggota utusan Nasrani itu; Muhammad saw pun membicarakan dari hal cinta. Memang cintalah pintu pengajian itu yang selalu dibuka dengan ucapan. Bismillahirrahmanirrahim.

Tetapi cinta dalam ucapan sajapun tidaklah cukup, bahkan menyatakan cinta hati tidak diikuti pengorbanan tidaklah cukup. Menyatakan cinta, padahal kehendak hati yang dicintai tidak diikuti, adalah cinta palsu. Sementara Allah tidak menyukai kepalsuan.

Kamu durhakai Allah, padahal kamu menyatakan cinta kepadaNya.
Ini adalah mustahil dalam kejadian, dan ini adalah ganjil dalam perkara.
Jika memang cintamu itu cinta sejati, niscaya kamu taat kepadaNya.
Sebab orang yang bercinta, terhadap yang dicintai, selalu patuh akanNya


Setidaknya demikian yang diucapkan penyair

Apabila kamu telah cinta pada Allah
Niscaya fana lah kesukaan dirimu sendiri,
Lebur kedalam kesukaan Allah SWT
Niscaya bertaubat kau, hanya satu Dia saja ingatanmu
Tidak terbelah-belah lagi.
Kalau terbelah sedikit saja, maka terbelah pula ketaatanmu,
Palsulah cintamu.


Dibalik ini, seorang sedang berkaca: ”ya Allah aku hanya manusia, manusia bersimbah kesalahan demi kesalahan, aku malu menghadapMu, tapi aku ingin menatapMu, masih adakah kesempatan untukku memperbaikinya..., maafkan cinta ini, maafkan cinta ini, maafkan cinta ini”

Farrosih
Referensi: Tafsir Al Azhar BUYA HAMKA

Cinta Sahabat


Sahabat,
Teringatku saat dahulu bersua
Saat pertama kali kampus membentuk
Bersua kita di jalan ini
Membersamai perjuangan
Secuil namun bermakna
Sepercik namun berarti
Hingga usia kampus Mamaksa beralih masa
Dengan sekuat upaya
Kitapun lulus dengan luar biasa nikmat
Dan alam nyatapun telah dihadapan
Dan pangabdian upaya mengantar kau
Pergi merambah dakwah dibumi kelahiran
Kita berpisah dalam kerangka dakwah
Sampaikan Islam di sana
Bawa islam bermakna
Sampaikan salam untuk para pejuang
Ikrar kita akan tetap sama
Untuk membersamai dakwah ini
Hingga diujung masa
Kini, setelah lama tak sua
Diakhir bulan lalu
Aku pergi ke tanah kelahiranmu
Bersama kawan bermisi pula
Sahabat... kita bersua, kita bersua
Kita bersua saat kau pegang microphone
Dihadapan para pejuang lain
Dihadapan ikhwan dan akhwat
Subhanallah.. dulu kita bersua dalam dakwah
Kita berpisah dalam dakwah
Dan kini kita bersua kembali dalam dakwah
Dak kitapun harus berpisah kembali dalam dakwah pula
Sahabat... berjanjilah untuk tetap bersama jalan ini
Berjanjilah pegang erat ikatan ini
Berjanjilah saat bersua nanti
Entah dimana dan bagaimana
Bukan hanya microphone yang kau pegang
tapi cucu’ buat orang tuamu

SEHARI BERSAMA LELAH


Catatan kronologi hikmah dari sepercik kisah hidup, secuil namun berarti.

Pagi ini begitu cerah, mentari dengan kehangatannya menyapa diawal pagi menyambut penuh cinta siapapun yang merindukan karunia-Nya, berlomba-lomba mencari sebutir nafas dari hidup yang semakin berwarna, mulai dari senang, sulit, sempit, mudah, hingga berat dan pelik membutuhkan pensikapan yang bijak dari setiap episode hidup yang harus dilalui. Pagi ini aku melangkahkan kaki menuju MUI Kota Samarinda dengan penuh harap, namun entah sedikit cemas, Majelis Ulama Indonesia tepatnya, kantor tempat dimana aku biasa bekerja membantu pak kiayi Zaini Na’im sebagai ketua Umumnya melaksanakan tugas-tugasnya dalam hal kesekretariatan dari mengetik dan mengarsipkan surat, membayar rekening, menerima tamu, mendengarkan konsultasi-konsultasi masyarakat yang berisi keluhan, kesalan, tangisan, perceraian, warisan, ikrar syahadat, hingga aktifitas-aktifitas keummatan lainnya, banyak pengalaman yang menjadi pelajaran berarti sejak Allah takdirkan kaki ini bersama MUI, sesekali aku merenung, berfikir, mencoba mengeja setiap titian hidup yang aku lalui, muncul pertanyaan mengapa Allah memilihkan MUI sebagai tempatku beraktifitas?, kini barulah kumengerti ternyata banyak cara Allah memberikan pelajaran pada hamba-Nya, banyak cara Allah mendidik hamba-Nya dengan tarbiyah hidup yang didapat dari manapun ia berada, bahkan dengan tanpa disadarinya, dan kini ada nuansa baru dari tarbiyah yang selama ini kudapat, disinilah aku belajar dari kehidupan seorang Ulama beserta warna-warninya, dari setiap taushiyah dan pelajarannya, belajar mengerti bahwa hidup ini bukanlah tujuan akhir, belajar mengerti bahwa permasalahan ummat ternyata begitu bermacam jenisnya, belajar memahami bahwa ‘sedikit memang orang yang ingin mengurus ummat’ dengan problematika dalam keluh kesahnya, dalam setiap tetes air matanya, dalam setiap deraan masalah yang mau tidak mau terlanjur mereka lakukan, namun mereka ingin sekali bertaubat. Ya itulah hidup, penuh dengan dugaan yang terlampau sulit untuk ditelusuri hikmahnya kalau tidak dengan hidayah-Nya. Allahumma innanasalukal hudaa..

Sesampai dikantor setelah malalui jalan raya dengan debu yang mulai mengental, akupun terkejut melihat Ketua Dewan Penasehat MUI Kota Samarinda sudah ada di tempat, dan kali ini aku kalah cepat masuk kantor. Namanya KH. Bahrani Selamat, disenjanya usia tidak menyurutkannya untuk terus lantang meneriakkan kebenaran dalam khutbah-khutbah dan ceramah-ceramahnya, bahkan ia terpilih menjadi ketua umum Dewan Masjid Indonesia untuk wilayah Kalimantan Timur. Bagiku ia seorang ayah, seorang syekh, seorang teman, seorang sahabat, seorang kakek, seorang yang begitu mengerti akan seluk beluk hidup di senjanya usia, selalu dihitungnya setiap hari yang dilaluinya sampai ia sangat faham berapa tahun usianya sampai detik sekarang, berapa bulan dan berapa hari, hingga sebegitu detailnya penghargaan beliau terhadap sisa usia. 71 Tahun 2 bulan kurang usianya kini, namun dengan senyum ramah disepanjang harinya menjadikan kakek dengan 6 anak dan 15 cucu itu terlihat semakin segar saja, senyuman khas ala Buya Hamka dengan peci hitam lancip dikepala menjadikannya seorang tua yang masih muda apalagi humor-humor ringan ala banjar amuntainya menjadikannya seorang yang ‘berkarakter’. Dari beliaulah aku belajar banyak tentang kehidupan, belajar banyak tentang seni, nasehat-nasehat pernikahan yang selalu ditujukannya padaku seolah mengisyaratkan sesuatu, dari beliaulah aku mengenal sosok Ulama Buya Hamka dengan karya-karya seninya. Suatu hari beliau berujar ’persoalah hidup itu memang akan selalu ada, namun kita akan bisa menyelesaikannya dengan dua kata yakni, SKILL and ART’ inilah yang diajarkannya padaku selain hikmah-hikmah dalam Al quran dan hadits, kalau ingin masalah hidup dilalui maka dengan mempunyai keterampilan dan cita rasa seni insya ALLAH kita akan bisa mengatasinya, dengan SKILL atau kemampuan terbuka pintu keluar dari sekian rentetan masalah, karena kita punya kuncinya, dengan SENI kita mampu menjadikannya lebih ber ‘garam’ dan ber ‘warna’ indah. Tambahnya pula. Lagi-lagi aku dapat pelajaran, terima kasih ya Allah. Bersabda nabi SAW : “Tidakkah kalian ingin kuberitahu ttg orang yg paling baik dari kalian? Maka jawab para sahabat : Mau wahai rasuluLLAH SAW. Kata nabi SAW : Org yg paling baik dari kalian ialah orang yg jika orang2 lain melihatnya akan mengingatkan pd ALLAH.” (HR Ibnu Majah, kitab az-Zuhd, bab Man la Yu’bihi lahu, juz-II hal.1379)

Kebetulan kerjaan hari ini sedikit lebih banyak, setelah obrolan santai namun berfaedah, akupun mulai melaksanakan kewajibanku untuk mengerjakan tugas-tugas rutinku, diantaranya adalah bayar rekening telepon, kupacu sepeda motorku keluar kantor, kemudian mengantri agak panjang dan kembali lagi ke kantor untuk melaksanakan tugas-tugas lainnya,mengetik surat, melayani tamu yang berkunjung, dan lainsebagainya. Karena hanya mitra Pemerintah Kota, MUI Kota Samarinda aktif hanya dari pukul 08.00 pagi hingga pukul 12.00 siang, menjadikanku lebih tenang karena bisa mengisi waktu disiang hari dengan aktifitas lainnya. Hingga menuju tengah hari dengan badan yang sudah agak kelelahan apalagi setelah waktu sholat dzuhur ada pekerjaan lain yang menantiku diluar sana.

Setelah sholat Dzuhur, saat siang menyapa, saat harus tutup kantor, setelah pak kiayi Zaini Na’im kembali pulang dengan mobil avanzanya dan pak Bahrani Selamat mengikutinya, setelah kututup rapat pintu-pintu kantor, sesaat kemudian datang seorang perwira Poltabes mengantarkan surat, ternyata surat undangan, padahal pak kiayi baru saja keluar pulang, seketika langsung kuhubungi beliau dengan telepon kantor, karena acaranya besok pagi dan itu adalah acara yang sifatnya protokoler dan penting maka aku diminta untuk mengantarkan surat itu langsung ke rumah beliau di Citra Griya. Karena harus mengajar siang di SDIT Cordova maka aku katakan kalau akan kuantar sore saja. Dengan badan yang sudah kelelahan akhirnya kupacu kembali motor setiaku menuju sekolah untuk melaksanakan kewajibanku yang lain, mengajar. Siang mulai menunjukkan watak aslinya, karena memang begitulah seharusnya, terik panas membakar kumpulan debu yang menggantikan peran angin menghembuskan dirinya, awan tidak mau diajak kompromi agar berbaik hati menutupi mentari agar tidak semakin terbakar ari-ari kulit dikepala, kututup rapat kaca helemku agar tidak semakin berasa debu yang selalu menghiasi Kota Samarinda bila sudah panasnya. Namun hari harus dilalui, waktu terus berputar, nasib tak kan berubah kalau kita tak mau merubahnya, karena proseslah yang akan menuntun kita pada apa jadinya kita nanti meski lelah sudah sangat merasuki.

Akhirnya aku sampai juga di Sekolah, SDIT Cordova adalah wadah penting dari sejarah hidup, disinilah aku belajar memaknai kesabaran, keikhlasan dan pengorbanan meskipun berat. Salah seorang ustadz yang sangat teguh sikapnya, yang menjadi panutan bagiku pernah mengatakan “disekolah inilah insyaAllah akan lahir pemimpin-pemimpin baru, disekolah inilah InsyaAllah akan lahir para pejuang-pejuang dakwah”. Mendengar ucapan beliau menjadikanku semakin terbakar semangat untuk terus memberikan yang terbaik dari apapun yang aku punya minimal selama takdir menuntunku untuk tetap berada disekolah ini, meski lemah kaki melangkah, meski haus dahaga menerpa. Ada dua kelas dengan mata pelajaran Bahasa Inggris yang harus aku masuki siang ini, kelas IV IBNU SINA dan kelas IV IBNU KHOLDUN. Anak-anak masih berhamburan di dalam kelas setelah bel masuk dibunyikan, pelajaranpun dimulai, sekuat mungkin aku fokus terhadap bahan ajarku dengan buku pegangan dan silabus ditangan. Salah satu yang membuatku senang mengajar anak-anak adalah kepolosan mereka yang tidak dibuat-buat, tidak ada sandiwara, tidak ada kepura-puraan, semua beralun dengan apa adanya mereka, ketika harus tertawa, mereka tertawa dengan lepas, ketika harus menangis, mereka menangis dengan lepas, ketika harus marah, mereka marah dengan lepas, berlari, berkelahi, namun sejenak kemudian suasana perdamaian dan keakrabanpun kembali terjalin. Sapaan khas mereka memanggilku dan semua guru disini dengan sebutan “ustadz” menambah beban dihati, hawatir tidak sesuai dengan artinya, namun karena makna ustadz disini bukanlah sebagaimana makna Ulama dengan keilmuannya yang kredibel, namun sebagaimana guru-guru lain disekolah lainnya, ustadz sama maknanya dengan “pak guru” atau “bu guru” disekolah lain, tidak lebih, ini hanya sebagai tarbiyah atau pendidikan bagi anak didik agar menjadikan sekolah sebagai taman menimba ilmu agama di bidang apa saja selalu ada agama, entah di Matematika, di Fisika, di Bahasa inggris dan lainnya selalu ada unsur-unsur agamanya dan hal itu tidak boleh dipisahkan. Bel pertanda jam usai telah di nyalakan, nafas terus naik turun meresapi setiap iringan langkah hidup, berjalan dengan irama lelah disetiap langkahnya.

Dua kelas sudah aku masuki, sekarang saatnya kembali pulang kerumah, kulihat waktu menunjukkan pukul 15.30, sebentar lagi azan waktu sholat ashar akan dilantunkan, dan azan itupun benar-benar terlantun dari salah seorang anak murid di SDIT Cordova kelas V, di Masjid Al hamra, mengingat nama masjidnya, mengingatkanku pada sebuah Masjid yang ada di sebuah Kota di puncak peradaban Islam di Cordoba, Spanyol saat puncak kegemilangan Islam tumbuh disana. Dan kini insyaAllah kami ingin membangun bangunan yang roboh itu disini dari mendidik anak-anak menjadi insan yang memiliki kekuatan intelektual yang baik dan kekuatan spritual yang mumpuni. Kuambil air wudhu, kuusap wajah yang sudah tidak berbentuk ini karena kelelahan yang begitu sangat sejak dari kantor MUI tadi hingga berteriak, berceloteh dihadapan para murid-muridku, kuletakkan dahi ini dengan sholat dua rakaat qobliyah ashar, kucium lantai masjid al Hamra dengan takjub di empat rakaat sholat ashar, kuucap salam diakhir rakaatnya setelah sujud panjang diakhir sholat. Mentaripun perlahan mulai bergerak lambat beranjak keperaduan, siang berganti sorepun akan segera menjelang. Diantara dzikir anak-anak, doa-doa yang dilantunkan hingga doa berangkat pulang menjadikan suasana nyaman menghinggapi seluruh jamaah sholat mengakhiri hari belajarnya.

Akhirnya pulang juga, aku ingin cepat pulang, merebahkan tubuh yang sudah kelelahan ini, bersama kipas angin tentunya menjadi kenyamanan tersendiri. Sesampainya di rumah kulepaskan tasku dan langsung kurebahkan tubuh ini ke tempat tidur sambil kunyalakan kipas angin. Sesaat kemudian handphone ku berbunyi, dan kulihat dari nomor yang tidak aku kenal. Kuangkat handphone dengan hati bertanya siapa yang menghubungi disaat aku ingin istirahat. “Assalaamu’alaikum, akh Arros, sebentar lagi acara akan dimulai, teman-teman sudah hampir kumpul semua, ini dari ana akh, ikhwan Fakultas Kedokteran Unmul”. Astaghfirullahaladzim.. aku lupa kalau hari ini teman-teman Fakultas kedokteran mengundangku hadir dalam acara diskusi pengurus KMM As-Syifa, mengapa aku bisa lupa ya... sambil kujawab dengan tenang, akupun mengakhiri pembicaraan dengan menyanggupi untuk datang, bagaimana tidak, sedang aku telah berjanji jauh-jauh hari untuk hadir dalam undangan tersebut. Astaghfirullahaladzim.., akupun belum mempersiapkan bahan diskusinya sedikitpun, karena aku diundang untuk menjadi salah satu narasumber diskusi maka dengan janji yang sudah aku buat dan tidak ada halangan syar’i untuk tidak berangkat, kuhujamkan kembali niat untuk merelakan dan meninggalkan si ‘istirahat’. memang kuakui belakangan ini aktifitasku sangat padat-padatnya, baik di MUI, SDIT, LPDI dan Organisasi yang lainnya menuntut untukku terlibat pula, akhirnya dengan cepat aku nyalakan notebook, berharap ada sisa-sisa bahan materi yang bisa dijadikan bahan diskusi bersama teman-teman pengurus KMM As-Syifa dengan sedikitnya sisa waktu yang ada, hanya 5 menit. Seketika rasa lelah memang harus dihilangkan, melupakan kipas angin yang sedang berputar kencang, kubuka tas gendongku dan kudapat surat undangannya, kulihat kembali dengan cermat, persoalan apa yang akan diangkat oleh teman-teman KMM As Syifa dalam diskusi kali ini, dalam surat undangannya tercantum beberapa kisi-kisi yang ingin dijadikan bahan diskusi,

Tertulis dengan jelas disana: Semangat dakwah yang kian menurun, Ukhwah yang kurang tertata dengan baik, malas dalam menuntut ilmu, dan kefuturan.

Akhirnya bergegas kupakai kembali tasku, kuambil kunci motorku, kupacu kembali motorku yang sudah terlihat kelelahan pula, menuju musholla Bahrul Ulum, kebetulan acaranya disana. Diatas kendaraan kujadikan waktu berharga menangkap ide dan gagasan, sembari terus memohon kepada Allah agar supaya membimbingku sebagai manusia yang banyak kekurangan dan keterbatasan, hanya Allah saja yang menjadi fokus utama mencari inspirasi materi diskusi. Akhirnya sampai juga dan diskusipun berjalan, yang sebelumnya dibuka oleh moderator, setelah pemaparan sedikit akhirnya diskusipun berjalan, salah seorang akhwat Fakultas Kedokteran melemparkan sebuah wacana yang didalamnya memuat beberapa pertanyaan, tantang kondisi pengurus, terutama ukhwah yang semakin hari semakin luntur, rasa persaudaraan yang kurang kuat menjadikan pengurus merasa sendiri dalam berdakwah apalagi dengan melebarnya sayap dakwah kepada wajihah ammah atau organisasi non LDK. Akupun mencoba turut memberikan komentar alakadarnya bahwa selama ada Allah jangan pernah kita merasa sendiri, membutuhkan kawan disamping dalam berjuang adalah manusiawi, namun bukan berarti saat orang lain meninggalkan dakwah ini, lalu kitapun ikut mundur kebelakang. Dilain hal, ada seorang ikhwan yang memberikan pandangannya tentang tugas di KMM As Syifa, bahwa sebahagian mereka tidak PD dengan peran sebagai da’i, karena basic keilmuan yang kurang. Menurutku, bukanlah karena kita manusia yang bodoh lantas kita meninggalkan jalan dakwah ini, karena memang selama kita bernama manusia selalu terdapat banyak kealpaan dan ketidaksempurnaan. Sementara dakwah tidak mesti lewat mulut saja, dengan tulisanpun bisa berdakwah, dengan teladan dalam perbuatan pun bisa berdakwah, dengan menjadi seksi konsumsi pun, kita berharap Allah mengkaruniakan kita pahala orang-orang yang berdakwah karena kita berada dalam aktifitas dakwah. Dengan panjang lebar diskusi berjalan, dari keengganan pengurus yang sudah mulai mewabah dalam menuntut ilmu, alasan-alasan klasik untuk tidak hadir dalam majelis-majelis kajian, hingga pada hikmah dibalik kefuturan. Akhirnya diskusipun ditutup oleh moderator dengan beberapa kesimpulan yang dipetik dengan komitmen bersama untuk melakukan tugas-tugas perbaikan dalam tubuh organisasi kedepan kearah yang lebih baik. Ya itulah episode hidup yang harus aku lalui, bersama teman-teman saling berbagi, dalam dakwah, dalam cinta karena Allah. Merealisasikan ukhwah tidaklah semudah melafalkan maknanya, ia butuh pengorbanan dan rasa saling mengerti diantaranya, Ustadz Nurhuda pernah mengatakan “akhi,.. saya punya teman yang tidak pernah tertawa terbahak-bahak kepada saya, tersenyumpun hanya senyum kecil, hanya saja saya tahu kalau dia begitu mencintai saya” , ucap beliau dalam salah satu taushiyahnya tentang ukhwah. Karena ukhwah bukan dibibir saja, namun perbuatan yang nyata yang lahir dari jiwa yang yang sadar berpondasikan iman dan aqidah yang kokoh. Akhirnya, mentaripun benar-benar beranjak keperaduan, ditengah kekelahan mencoba menikmati angin sore diatas motor dibawah rimbun pohon-pohon Kampus Unmul. Kuingat kembali kelalaianku dengan peristiwa hari ini, lupa!, ya itulah manusia, tempatnya salah dan lupa, namun justru lupa itu adalah anugrah dari Sang Pencipta lupa.

Ditengah menikmati udara sore, akupun teringat dengan amanahku mengantar surat dari Poltabes untuk pak kiayi Zaini Nai’im, kupercepat laju motor berharap sampai di Citra Griya sebelum maghrib. Kulihat bensin motor sedang kritis, aku harus mampir ke tempat pengisian bensin terlebih dahulu. ditengah perjalanan menuju tempat pengisian bensin, salah seorang kawan yang bertugas menyampaikan dakwah di Kelurahan Jawa menelepon, ku stop laju motor untuk berhenti sejenak.

Assalaamu’alaikum. Akhi, sore ini ada penggalangan masa untuk sosialisasi ba’da isya, antum diminta yang memberikan sosialisasi, kebetulan malam ini untuk warga kelurahan Jawa. Bisa akh ya...?

Akupun tidak bisa merespon banyak, karena malam ini ada jadwal pengajian rutin yang harus aku ikuti dan tidak bisa ditinggal karena pentingnya pengajian tersebut, minimal bagiku yang ingin belajar dan belajar. Aku meminta maaf atas ketidak sanggupanku memenuhi permintaannya, kuusulkan dia saja yang mensosialisasikan agenda dakwah tersebut, dengan beberapa pertimbangan diapun menyetujuinya, karena filenya ada padaku maka dia memintaku untuk mengantarkan filenya ke rumahnya. Setelah selesai mengisi bensin, segera aku menuju rumah kawanku mengantarkan filenya, kepercepat laju motorku karena aku ada janji dengan ketua MUI Samarinda untuk mengantarkan undangan dari Poltabes. Ditengah laju motor disore hari dengan hiasan alam yang begitu indah dan menakjubkan ditambah semburat kekuning-kuningan senja disore hari menjadikan hati ini semakin tenang, kutarik napas ini dalam-dalam diatas motor berkawan lelah, kuningnya senja hingga sedikit berwarna kemerah-merahan menandakan waktu maghrib akan segera tiba, dan benar azan maghrib pun berkumandang, kuayunkan langkahku memarkir motor disebuah musholla kecil yang bernama Raudhatul Jannah, melihat namanya saja sudah membuat hati menjadi tambah tenang, Taman Syurga, luar biasa, musholla kecil nan sederhana, menjadi tempat persinggahan yang sangat nikmat ditengah kelelahan aktifitas. Lagi-lagi kusiram wajah ini dengan air wudhu, dingin dan sejuk sekali. Kuarungi waktu maghrib dengan lantunan ayat demi ayat yang mengalir mesra disekujur tubuh, menambah kekuatan diantara kelemahan manusia, apalagi kulihat jamaah sholat maghribnya sedikit lebih banyak. Pantas saja Rasul dan para sahabat menjadikan sholat sebagai saat-saat paling nikmat untuk istirahat.

Wahai jiwa,
Kalau tidak ingin sholat
Lalu buat apa hidup?
Bukankan untuk ini kita ada


Setelah selesai sholat maghrib, tujuanpun langsung kuarah menuju kelurahan Jawa, mengantar file kepada seorang kawan disana. Kudapati ia disana, dengan wajah senyum khas lembutnya didalam kesibukannya mempersiapkan acara, tak kuasa hati ini selalu ingin berdoa untuknya..ditengah kesibukannya.. ya Allah... jaga diriku dan sahabatku ini dalam keistiqomahan, beri ia kekuatan untuk selalu bertahan, jangan kau biarkan ia terhempas dalam kubangan arus dunia yang semakin indah dan memikat ini.. lirih hatiku. Setelah kuberikan filenya serta jabat tangan tanda akhir jumpa, kulanjutkan perjalanan menuju rumah Ketua MUI di Citra griya, ditengah perjalanan, setelah melalui jalan berkelok dan gelap aku melihat pemandangan yang sangat luar biasa, menakjubkan dan indah sekali, menkajubkan dari dua sisi. Jalan Slamet Riyadi tepatnya, disisi kanan jalan kulihat Masjid Islamic Centre berdiri dengan megah, elok dan indahnya, cahaya kekuning-kuningan yang bersinar disekelilingnya berjodoh dengan sungai Mahakam disisinya, menambah anggun pemandangan Masjid Islamic Centre. Diatas motorku muncul keinginan untuk mampir sholat isya disana sepulang mengantar surat. Dalam renungan, sesekali teringat kemudian setelah melihat realita masjid kebanyakan, pun tak lepas dengan masjid yang satu ini, mengapa masjid yang sebegitu megah dan menghabiskan dana yang sebegitu besar dan tak tahu dari mana sumbernya itu dihadiri dengan sedikit jamaah, hampir tidak pernah melebihi satu shof sholat jamaah, kecuali sholat jumat, apakah karena besarnya Masjid? Atau karena memang ummat telah melupakan pusat peradabannya?, yang sering menjadi pemandangan ketika singgah di Masjid tersebut bukanlah orang-orang yang begitu khusu’ dalam sholat-sholat malamnya, khusu’ dalam dzikir pagi petangnya, atau mereka yang suka memakmurkan masjid dengan ibadah wajib dan sunnah lainnya, namun orang-orang yang datang ke masjid tersebut hanya untuk mengabadikan dirinya dalam photo dan beramai-ramai beserta teman-temannya bercanda, bercengkrama, berkeliling hanya untuk melihat-lihat, hanya dijadikan tempat istirahat dari perjalanan jauh, apabilagi bila sore hari tiba menjelang malam, bahkan tak jarang dijadikan tempat pasangan muda-mudi yang bukan muhrim menikmati pemandangan sekitar. Sedih hati ini... Dan yang lebih menjadikan perasaan ini semakin miris adalah pemandangan disisi kiri jalan Slamet Riyadi dari arah jalan P. Antasari, di sepanjang tepian Sungai Mahakam, sangat dekat dengan Masjid Islamic Centre, bahkan bisa dilihat dari jendela Masjid yang sangat besar itu sekalipun. Dengan remang-remangnya cahaya disana duduk pasangan muda-mudi lainnya, berkholwat, menikmati indah Sungai Mahakam dengan jagung dan snack ditangan, apalagi saat waktu menjelang larut malam begini, dengan aktifitasnya yang sangat beragam ditambah hilangnya rasa malu dan sangat tidak layak untuk dipublikasikan. Naudzubillahim zaalik. Lalu dimana pengurus Masjid?, kemana pada da’i?, kemana orang-orang yang memiliki kekuasaan untuk mencegahnya? Inilah sekelumit potret Kotaku, Samarinda, ibukota provinsi Kalimantan Timur dengan segudang ‘PR’ bagi para penyeru kebaikan dan para penguasa tentunya. Belum lagi tempat-tempat hiburan malam lainnya, berkedok hiburan karoke keluarga namun sarat akan nafsu, menjadi tempat aman bagi mereka yang ingin menghalalkan yang diharamkan oleh Tuhannya, diskotik hingga hotel-hotel yang menyediakan ladang maksiyat. Dan lain sebagainya. Andai Rasulullah ada disini, ya.. saat ini.. orang yang pertama kali dimarahi adalah mungkin orang-orang seperti kita semua, tahu namun tak bisa berbuat apa-apa, para pejabat yang sebenarnya bisa berbuat banyak, namun dikalahkan oleh kepentingan yang lainnya. Namun, setelah kulihat kaki ini, ternyata aku masih didunia, menginjaknya untuk terus melakukan perjalanan panjang hingga hari penentuan nantinya, inilah dunia tempat kita didera, ditempa, dipaksa mengalami sedemikian lembaran sejarah hidup yang tidak melulu sesempurna dan seideal yang kita inginkan pada umumnya. Andai semua orang baik, maka apa arti syurga jadinya, andai semua orang taat, maka apa arti adanya neraka. Bukan masalah yang sebenarnya jadi masalah, namun sikap dan pensikapan kita yang kadang jadi masalah. Maka selama dunia namanya, disana selalu ada warna-warninya.

Akhirnya sampai juga, kudapati pak Kiayi Zaini Na’im setelah kuketuk pintu rumahnya dengan salam, dengan songkoh putih khasnya, senyum ramah ala Ummar bin khattab, mengucapkan terimakasih untuk suratnya. Sepertinya azan isya telah berkumandang, aku pamit untuk kembali pulang, tapi sepertinya aku tidak sempat pulang kerumah karena satu acara lagi sedang menungguku, pengajian.. ya.. pengajian. Keinginan untuk sholat isya di Masjid Islamic Centre urung kulakukan karena azan isya mengantarkan aku dan motorku menuju Masjid Darun Nikmah, sebuah masjid indah yang bertetangga satu pagar dengan sungai Mahakam, persis di tepian sungai Mahakam. Kuparkir kembali motor kesayanganku, kuperbaharui wudhu ku meski aku yakin wudhuku belum batal, di Masjid yang besar ini meski kalah besar dengan Masjid Islamic Centre, masjid Darun Nikmah namanya, ada sepenggal kisahku disekian tahun silam ditempat ini, saat itu sehabis sholat kulihat sandalku hilang, entah kemana perginya, mungkin ada orang yang lebih membutuhkan sandal tersebut. Keterangan dari pengurus masjid sih katanya ada segerombolan anak remaja yang kemungkinan menukar sandalku dengan berpura-pura seolah sandalnya.. ah .. entahlah, mengapa sampai Masjidpun tidak bisa menjadi wadah yang aman untuk sekedar meninggalkan sandal diluar untuk kemudian sholat berjamaah. Apakah ini potret umat islam di Indonesia? Ah.. entahlah.. pelajarannya adalah supaya aku bisa lebih berhati-hati, tidak ingin masuk lubang dua kali, akhirnya kutitip ia di tempat penitipan sandal, dan kukeluarkan sekian rupiah untuk berinfaq. Mungkin ini hikmah lainnya, Allah menyuruhku untuk lebih banyak berinfaq, kalau bukan karena pernah kehilangan mungkin aku tidak mau berinfaq. Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum kecil mengingat beberapa pengalaman di sekian tahun silam hingga saat ini. Hembusan angin sungai Mahakam menghiasi dingin malam dalam lantunan merdu ayat demi ayat yang dibacakan sang imam Masjid, ia membacakan surah Al-A’laa, surah ke 87 dalam Al Qur’an. Dibaca dengan tartil, perlahan penuh penghayatan hingga sampai dengan ayat ke 14 menjadikanku semakin nyaman sholat ditempat ini. “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), Dan Dia ingat nama Tuhannya, lalu Dia sembahyang, Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi, Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”.

Setelah selesai sholat isya dengan sunnah ba’diyah sebelumnya, kuarah pandang kesungai Mahakam, kutarik nafas panjang dan kutatap rumah ustadzku meski tak kulihat untuk kutuju kesana. Kupacu kembali motorku, ya.. motorku yang setia menemaniku kemanapun aku pergi hingga aku merasa kasihan padanya, terkadang ia mulai batuk, demam dan pusing. Panas ia kepanasan, hujan ia kehujanan, sampai tak tega aku melihatnya. Tapi ia tidak pernah berkeluh kesah, aku terkadang yang berkeluh kesah, ia tak pernah cerewet kelelahan, aku yang sering cerewet kelelahan, meski demikian minimal satu bulan satu kali kuajak ia jalan-jalan santai makan bareng di tempat service langgananku.

Perjalanan terus kulanjutkan menuju rumah ustadz Abdu (kalau makna ustadz disini adalah orang yang dijadikan sumber rujukan menimba Ilmu agama) untuk mengikuti pengajian pekanan, kulihat waktu menunjukkan pukul 19.45, masih ada 15 menit waktuku menuju rumah Ustadz Abdu. Sesampainya disana pukul 20.08 dan setelah semuanya berkumpul pukul 20.15, sejenak kemudian diumumkan oleh mas’ul (ketua kelompok) pengajian bahwa Ustadz Abdu sedang mengisi acara dalam perkumpulan masyarakat, dan pengajian baru bisa dimulai pukul 21.30 malam. Mengisi waktu luang, aku dan seorang sahabatku pergi ke sebuah Rumah Sakit A.Wahab Syahrani untuk menjenguk seorang kawan yang sedang tergeletak sakit disana, kabar sakitnyapun baru kami dapatkan di rawat inapnya yang sudah memasuki hari ke 4. Kamipun menuju rumah Sakit dengan satu motor setelah sebelumnya mampir sesaat ke toko roti. Lagi-lagi aku dapat pelajaran berharga di rumah Sakit. Namanya Muhammad. S, seorang kawan dengan satu istri belum memiliki anak di tiga tahun usia pernikahannya. Sakit karena telat makan di sibuknya aktifitas mencari maisyah (pengahasilan). Tiba-tiba aku teringat bahwa aku belum makan dari tadi siang karena belum sempat makan dirumah, untung pas acara diskusi di KMM As Syifa tadi disugukan makanan ringan, sehingga sedikit ada kekuatan dalam melanjutkan perjalanan. Dilain sisi kulihat keluarga kawanku ini adalah keluarga yang berada, ia adalah seorang pengusaha yang bisa dikatakan sukses, ayahnya banyak memilki ruko di kota ini. Mobilnya banyak. Namun demikian, ayahnyapun mengidap penyakit yang jauh lebih serius, membawanya harus berobat ke Singapura, check up ke Salah satu Kota di pulau Jawa setiap 2 pekannya, tentu hal tersebut mengeluarkan banyak biaya. Ya.. itulah hidup.. ada mereka yang miskin tapi sehat-sehat saja, tidak punya harta namun anaknya bak kesebelasan sepak bola, artinya Allah sangat Maha adil, Allah mengetahui kemampuan manusia, Allah menguji manusia tidak akan pernah melewati batas kemampuannya, Allah Maha adil.. Allah Maha adil.. Memberikan kesimpulan lain padaku bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Mungkin gagah atau cantik disatu sisi tapi malas ibadah disisi lain, mungkin kaya dan berpangkat disatu sisi tapi kurang menghargai pasangannya disisi lain, mungkin wajahnya biasa saja disatu sisi tapi penuh tanggung jawab terhadap keluarga disisi lain meski harta tak berpunya, mungkin baik dalam ibadahnya disatu sisi tapi kurang berharta bahkan miskin di sisi lainnya, dan lain sebagainya. Kulihat pemandangan dari pintu kamar rumah sakit yang terbuka, angin sedikit demi sedikit berhembus kencang, kilatan langit perlahan menandakan akan segera turun hujan, teringatku pada panasnya siang hari tadi membakar kulit. Kamipun berpamitan untuk meninggalkan ruangan berpacu dengan takdir hujan menerobos angin malam berharap sampai sebelum turunnya hujan menuju rumah ustadz Abdu. Ditengah perjalanan, langitpun tak kuasa menahan tangisnya, air itupun tumpah membasahi pipi dunia, pertanda cinta dari sang Pencipta kepada seluruh makhluq di dunia baik mereka yang beriman, maupun mereka yang kufur kepada nikmatn-Nya. Karena waktu yang terbatas, dengan hujan yang menusuk-nusuk membasahi seluruh tubuh ini, dengan satu motor dua penghuni kami lanjutkan perjalanan meski harus berbasah-basah. Karena kondisi yang tidak memungkinkan aku putuskan untuk menuju rumahku sejenak untuk berganti pakaian berhubung arahnya tidak berseberangan. Sesampainya dirumah dengan pakaian yang basah kudapatkan keluargaku lagi makan malam bersama dihadapan televisi, duduk lesehan melingkar bak majelis. Kupandang wajah ibuku yang menatap heran kearahku, mungkin dalam hatinya berucap “dari mana nak..,?”. segera kuganti pakaianku yang basah dengan jaket dan mantel hujan yang tadi lupa kubawa. Keluar dari kamar tidurku langsung kupeluk ibuku yang sedang duduk dengan piring ditangannya bersebelahan dengan ayahku sambil menyampaikan permohonan maaf karena harus keluar rumah lagi dan tidak bisa ikut makan malam bersama. Sambil tersenyum, Ibuku hanya bisa berucap hati-hati dijalan karena hujan belum begitu reda. Salah satu kesyukuran yang membuatku sangat beruntung adalah dikaruniakan keluarga yang sangat memahami aktifitasku, mereka sangat percaya kepada anak-anaknya bahwa anak-anaknya tidak akan berbuat hal yang macam-macam, dan terus kujaga serta kubuktikan kepercayaan itu. Segera kuhampiri sahabatku yang menunggu diluar, pakaiannya tidak terlalu basah karena ia duduk dibelakang motor sehingga bisa berlindung dari hujan. Kupacu motorku kembali, kulihat wajah motorku sudah tidak berbentuk, sepertinya ia tersenyum padaku, tapi senyum yang dipaksa, kukatakan padanya “besok kita jalan-jalan ya.. ketempat favoritmu di bengkel bang Dwi...”. hujan belum berhenti, dari atas motor kulihat jalan sudah mulai sepi, dengan sisa waktu mencoba menembus waktu berharap sampai tepat waktu, diantara tusukan hujan bak jarum-jarum yang menusuk-nusuk secara istiqomah. Lampu jalan menambah anggun warna hujan yang bening, pantulan sinarnya sedikit meneduhkan pikiranku yang sedang terbayang wajah ibuku dirumah. “Ya Allah beri hamba kekuatan di lemahnya diri, di lemasnya kaki dan terbatasnya kemampuan diri”

Didepan Rumah ustadz Abdu sudah berderet beberapa motor dan satu mobil. Segera kami masuk dengan disambut wajah-wajah cerah yang selalu kurindu disetiap pekannya. Acara dibuka oleh salah seorang peserta pengajian, kemudian dilanjutkan taushiyah dari salah seorang peserta pengajian lainnya. Didalamnya disampaiakan tentang Quwwatul azzam (Kekuatan Tekat) dalam perjuangan membangun kebaikan demi kebaikan dalam masyarakat. “Ikhwah fillah” ucapnya. “kebaikan itu selalu berhadapan dengan kebathilan, kalau para pendukung kebathilan saja PeDe dengan kebathilannya, mengapa kita tidak PeDe dengan kebaikan kita” Lanjutnya. “Maka kuatkan tekat kita untuk selalu bersama dakwah ini melakukan kebaikan demi kebaikan, Jangan mudah berputus asa dan lawan rasa lelah” tambahnya. Dalam hatiku berucap luar biasa taushiyahnya, semoga aku bisa menjadi seperti yang diucapkannya. Dak akhirnya tiba saatnya Ustadz Abdu menyampaikan madah (materi) pengajiaannya tentang Tadhiyyah (Pengorbanan).

“Ikhwah fillah, Allah berfirman: Tidak akan berubah kondisi suatu kaum, sebelum kita mengubah kondisi yang ada pada kita sendiri, maka mari perbaiki diri untuk kemudian kita lanjutkan kebaikan itu, kita sebarkan kebaikan itu kepada orang lain agar semua orang dapat merasakan kebaikan demi kebaikan sebagai indah dan nikmatnya iman dan Islam ini. Dan tidak akan pernah terwujud kebaikan dan kemaslahan umat kalau tidak dibarengi dengan pengorbanan, kalau bangsa Palestina hari ini berkorban darah dan nyawa, mengapa kita enggan dan malas untuk hanya sekedar berkorban waktu dan tenaga”. Panjang lebar dijelaskan oleh Ustadz Abdu, begitu luar biasa dan menggugahnya, menambah semangat dalam dada untuk dapat memberikan yang terbaik untuk jalan ini. Rasa lelah yang sangat, yang hinggap setia menemani seolah hilang bersamaan dengan guyuran taushiyah Ustadz Abdu. Kami biasa menyebutnya dengan Murobbi, artinya orang yang mendidik, mendidik kami dengan Islam sehingga kami mengerti sedikit demi sedikit tentang Islam ini. Ingin aku katakan padanya bahwa aku akan selalu menjaga jalan ini, aku ingin pula minta maaf kepadanya karena belum bisa menjadi seperti yang diharapkannya padaku. Belum bisa mengoptimalkan amanah yang diberikannya padaku, belum bisa menjadikannya bangga memiliki seorang anggota pengajian seperti ku. Namun yang pasti aku begitu mencintainya karena Allah SWT. Hujan diluar nampak deras sekali, namun kemudian berganti dengan rintikan yang semakin terdengar sayup, suara kilat langit bernyanyi menemani indahnya suasana keakraban malam hari ini. Dalam dada kesyukuran ku mengiba “Robbi.. auzi’ni an asykuro nikmatakallati an am ta’alaiya wa ala waalidayya wa an a’malashoolihan tardhohu wadkhilni birohmatika fii ibadillaahisholihiin”.

Setelah acara pengajian pukul 23.00 malam, Ustadz Abdu meminta kami untuk membantu memasang atribut, untuk pensuksesan agenda dakwah lainnya. Tidak ada kata lain bagi kami, selain “siap”. Memasang atribut dakwah di jalan, mempublikasikan kepada masyarakat agar masyarakat tahu dan mendengar bahwa syiar Islam akan terus berjalan seiring berkembangnya pemahaman masyarakat akan Islam itu sendiri. Yang menjadikan aku kagum, ternyata Ustadz Abdu pun ikut memasang atribut sama seperti kami hingga pukul 03.00 pagi. Aku berfikir, beliaupun punya keluarga, beliaupun punya anak, beliau pun harus mengurus semua itu, tapi untuk kepentingan dakwah ia rela untuk sementara meninggalkan itu semua. Aku pun mulai berfikir, mengapa ada orang-orang seperti beliau, dilain sisi begitu banyak “mereka” yang santai, tidak mengisi pengajian dan tidak pula mambantu pensuksesan agenda dakwah lainnya, tidak memiliki amanah, dengan beribu alasan mereka utarakan untuk membenarkan ketidak terlibatannya dalam dakwah ini. Mengingatkanku sebagaimana sifat orang-orang Yahudi yang menyuruh Nabi Musa pergi berjuang sendirian bersama Tuhannya.

Sepulangnya kerumah tepat pukul 03.00, kubuka pagar rumahku, perlahan kucoba membuka pintu rumah, tapi terkunci. Kalau sudah seperti ini biasanya aku menuju samping rumah, dekat jendela kamar saudara perempuanku, kuketuk jendela kamarnya untuk membukakan pintu rumah. Karena dia orangnya sensitif, tidak bisa mendengan suara sedikitpun langsung bangun, sekali saja kuketuk jendelanya langsung saja ia terbangun dan mengerti maksud ku. Akhirnya dibukanya juga pintu rumah. Dan Alhamdulillah semua orang di dalam keluagaku memahami aktifitasku meski harus pulang dini hari. Ada satu yang kulupa dari perjalananku sampai detik ini, bahwa “aku lelah sekali”. Dalam kondisi rumah yang gelap, aku masuk kamarku, kemudian masuk kamar mandi membasuh kaki dan muka, kulanjutkan dengan berwudhu. Kurebahkan badan dengan kaki yang menggetar ini diatas tempat tidurku, dengan mata yang sudah sayup berharap Allah memberikan mimpi indah malam hari ini, dengan tenaga sisa kustel alaram di handphone ku berharap bisa bangun subuh hari. Suara jangkrik sangat jelas terdengar, ditambah suara 3 ekor angsa tetangga menina bobokkan ku dalam kelelahan yang maha sangat, kesunyian di malam ini menyuruhku segera beranjak dari alam dunia menuju alam lainnya. Bismikallahumma ahya wabismika amuut......... Didalam tidur aku bermimpi bertemu ibu, ibu yang sangat menyayangiku, ia datang kepadaku menggandeng tangan seorang gadis. Diangkatnya tangan gadis tersebut dan diserahkannya padaku. Ah.. ibu... aku mengerti maksudmu...

Bersambung besok

INSPIRING STORY

Sahabat…, hikmah itu bisa datang dari apapun yang kita jumpai, kita pelajari, kita rasai dan kita baca, termasuk dalam hal tersebut adalah kisah berikut yang menginspirasi kita untuk semakin care terhadap siapapun yang sedang atau akan membutuhkan kita disampingnya manakala sesuatu yang hinggap dalam hidupnya menjadikannya lemah tak berdaya mengahapinya seorangan. Begini ceritanya sahabat…

Di sebuah daerah pertanian yang jauh dari bisingnya kota, ada empat hewan bersahabat tinggal disana. Mereka itu Tikus, Ular, Ayam, dan Sapi (namanya juga cerita, jadi ga pa pa dunk mereka temenan….  )

Suatu hari Tikus dengan muka ketakutan datang ke tempat Ular, Ular bertanya kenapa tikus kelihatan takut banget. Kemudian tikus cerita kalo Pak Tani yang punya pertanian itu ingin membuat jebakan – jebakan perangkap tikus. Tikus meminta pertolongan dan saran dari Ular untuk masalah ini. Malang nasib Tikus, Ular cuma bisa simpati tetapi tidak bisa memberi bantuan apa – apa. ”Itu kan masalah Tikus bukan masalahku”, mungkin begitu yang ada di pikiran Ular. Setelah itu, Tikus datang ke tempat teman – temannya yang lain, ayam dan sapi, namun sangat tak diduga mereka pun tidak bisa berbuat apa – apa, mereka hanya bisa kasihan tanpa bisa memberikan solusi apa-apa ditengah rasa ketakutan tikus yang begitu sangat.

Matahari baru saja muncul di timur dunia, Ular berjalan – jalan santai di pertanian. Tiba-tiba…. Prakkkkk!... Pak Tani Mendengar bunyi besi beradu dengan kayu tanda jebakannya mengenai sesuatu, Pak Tani segera datang menuju ke tempat jebakan itu berada. Betapa kagetnya Pak Tani, karena bukan tikus yang terjepit di sana tetapi seekor ular! Ular yang hampir mati terkena jebakan yang sebetulnya disiapkan untuk Tikus, dengan sisa tenaganya sang ular pun menggigit tangan Pak Tani. Akibat gigitan ular tersebut, Pak Tanipun keracunan parah.

Beberapa saat kemudian, anak – anak Pak Tani datang dan segera membawa ayah mereka ke dokter. Menurut dokter, Pak Tani digigit jenis ular yang sangat langka, obatnya adalah hati ayam dan hati sapi. Anak – anak Pak Tani berpikir, Wah kebetulan di rumah ada ayam dan sapi. Segera anak – anak Pak Tani pulang dan menyembelih ayam dan sapi yang ada di rumah mereka. Ayam dan sapi pun harus rela meninggalkan hidupnya.

Di sudut rumah dekat tembok yang sudah berlubang dimakan usia, Tikus bolak – balik mencari sahabatnya yang sudah beberapa hari tidak kelihatan… kemana sahabat-sahabatku…

***

“ Sahabat, mungkin banyak sudah orang yang kita kenal datang, bercerita masalahnya kepada kita, dan kita cuma bisa bilang “Sabar ya…”. Without any advice, any help, even a shoulder to cry on. Kadang mereka butuh lebih, tidak hanya simpati tetapi juga empati. Yang dibutuhkan cuma teman yang mau menangis bareng tapi juga teman yang bisa bantu kasih solusi”

Sahabat…, udahan dulu ya ceritanya…

GOLPUT WAJIB

Fatwa MUI
Tentang: tidak menggunakan hak pilih (golput) dalam pemilihan umum

Dalam ijtima’ ulama komisi fatwa se indonesia ke-iii mengambil tema yang salah satunya adalah masail asasiyyah wathaniyyah (masalah strategis kebangsaan), yang dalam pembahasan didalamnya memunculkan pembahasan yang menjadi masalah dan kebingungan di tengah-tengah masyarakat terkait pemilu di indonesia saat ini, yakni masalah tidak memilih atau golput. Namun, para ulama yang membahas permasalahan tersebut tidak menggunakan istilah golput, karena golput maknanya multitafsir, seolah orang yang tidak memberikan pilihannya (padahal ada calon pemimpin yang layak) adalah orang yang bersih, karena makna golput bisa diartikan golongan putih, putih artinya suci dan bersih, maka, majelis ulama indonesia tidak menggunakan istilah golput, tapi lebih menggunakan istilah tidak memilih. Isi fatwa majelis ulama indonesia dalam hasil ijtima’ ulama komisi fatwa se indonesia ke-iii pada tanggal 24-26 januari 2009 di padang panjang, sumatera adalah sebagai berikut:

1. Pemilihan umum dalam pandangan islam adalah upaya untuk memilih pemimpin atau wakil yang memenuhi syarat-syarat ideal bagi terwujudnya cita-cita bersama sesuai dengan aspirasi umat dan kepentingan bangsa.
2. Memilih pemimpin dalam islam adalah kewajiban untuk menegakkan imamah dan imarah dalam kehidupan bersama.
3. Imamah dan imarah dalam islam menghajatkan syarat-syarat sesuai dengan ketentuan agama agar terwujud kemaslahatan dalam masyarakat.
4. Yakni: memilih pemimpin yang beriman dan bertaqwa, jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah) dan memperjuangkan kepentingan ummat islam hukumnya adalah wajib.
5. Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam butir 1 (satu), atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram.

Rekomendasi
1. Umat islam dianjurkan untuk memilih pemimpin dan wakil-wakilnya yang mengemban tugas amar ma’ruf nahi munkar
2. Pemerintah dan penyelenggara pemilu perlu meningkatkan sosialisasi penyelenggaraan pemilu agar partisipasi masyarakat dapat meningkat, sehingga hak masyarakat terpenuhi.

Dasar penetapan
1. Al qur’an surah an nisa: 59
2. Hadits-hadits nabi
3. Pernyataan abu bakar r.a ketika pidato pertama setelah ditetapkan sebagai khalifah
4. Pernyataan umar dalam pidatonya ketika dikukuhkan sebagai khalifah
5. Kaedah fiqhiyyah, diantaranya adalah:
a. “pada dasarnya segala sesuatu itu adalah boleh, sampai ada dalil yang mengharamkannya"
b. “tidak diingkari adanya perubahan hukum sebab adanya perubahan waktu dan tempat”
6. Kaedah ushuliyah, diantaranya seperti:
a. “apabila suatu kewajiban tidak dapat dilaksankan secara sempurna tanpa adanya sesuatu yang lain, maka pelaksanaan sesuatu yang lain tersebut hukumnya juga wajib”
b. “sesuatu yang tidak didapatkan semua (sesuai dengan idealisme dan kehendak kita), seyogyanya tidak ditinggalkan semuanya.
7. Pasal 28 d (3) uud ri tahun 1945
8. Konsideran UU nomor 10 tahun 2008
9. UU no. 10 tahun 2008 pasal 19 ayat 1

Pimpinan komisi A
Ketua : KH. Ma’ruf amin
Wakil ketua : Masyhuri na’im
Sekretaris : Sholahudin al aiyubi


***

Itulah sebahagian dari hasil-hasil fatwa mui dalam memandang persoalan umat. Terkadang yang terjadi kemudian adalah kesalah kaprahan akan pemahaman fatwa oleh sebagian besar masyarakat yang lebih disebabkan opini media yang salah baik media elektronik maupun media masa yang sangat gencar menyatakan bahwa MUI memfatwakan golput haram sehingga menjadikan masyarakat tidak mendapatkan hasil fatwa yang sempurna sebagaimana tertulis. Padahal kalau difahami dan disimak dengan seksama isi dari pada fatwa tersebut diatas, kita akan mendapatkan pemahaman bahwa:

Memilih calon pemimpin (termasuk caleg) yang memiliki kriteria beriman dan bertaqwa, jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah) dan memperjuangkan kepentingan ummat islam. Memilihnya hukumnya adalah wajib. Dalam keadaan seperti ini tidak memilih hukumnya haram.

Sementara memilih calon pemimpin (termasuk caleg) yang tidak memiliki syarat diatas, memilihnya hukumnya adalah haram. Dalam keadaan seperti ini tidak memilih hukumnya wajib.

Intinya adalah dalam memilih calon pemimpin kita harus berhati-hati dan selektif, sandaran dan patokan dalam memilih kita serahkan kepada Allah dan Rasul-Nya yang dalam persoalan yang kita bahas saat ini kita mempercayakan kepada orang-orang yang memang benar-benar faham akan hukum dalam Islam (baca: Ulama), memilih haruslah melihat syarat-syaratnya, karena bukan haram tidak haramnya yang menjadi soal, akan tetapi lebih kepada syarat-syarat menjadi pemimpinlah yang harus dijadikan fokus perhataian. Bukan hanya karena si ’dia’ adalah keluarga kita, lalu kita memilihnya, bukan hanya karena si ’dia’ atasan kita, lalu kita mencontreng dia, padahal sangat tidak memenuhi syarat untuk menjadi pemimpin.

Mari kita jabarkan perihal syarat-syarat yang dikemukkan diatas
1. Beriman dan bertaqwa
Memilih pemimpin dalam alqur’an hukumnya wajib. Bukan sembarang pemimpin, akan tetapi pemimpin yang memiliki keimanan yang baik kepada Allah, percaya akan kekuasaan Allah, percaya kepada para malaikat Allah yang selalu taat kepada-nya, percaya akan kitab-kitab yang ditunkan kepada para nabi, percaya kepada rasul-rasul nya, percaya akan hari akhir dan percaya kepada takdir yang baik dan buruk yang ditetapkan oleh Allah swt. Keimanan seperti ini bukanlah sebatas pada leef service saja, hanya sampai mulutnya saja namun juga harus menghujam dibenarkan dalam hati, yang kemudian diaplikasikan dalam amal perbuatan. Bertaqwa tidaklah bisa dilepaskan dari keimanan, taqwa dalam hal ini menjalankan segala apa-apa yang diperintahkan oleh Allah swt dan meninggalkan segala larangan-nya. Baik kini dan akan datang. Apakah ada sekarang ini pemimpin yang sangat takut kepada Allah?, apakah ada saat ini pemimpin yang khusuk dalam ibadah-ibdah sholatnya?... Pemimpin yang diharapkan oleh islam kedepan adalah pemimpin yang begitu tinggi dan mumpuninya keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah swt, sehingga urusannya selalu didasarkan kepada keimanan dan ketaqwaan di setiap apapun aktifitasnya, baik ketika di rumah, di kantor, di jalanan, dimasyarakat, dsb.

2. Jujur (siddiq), jujur adalah salah satu sifat dari rasulullah saw, mendapatkan pemimpin yang jujur saat ini bagai mencari jarum dalam jerami, sangat sedikit dan terbatas. Perlu ketelitian yang sangat dalam mengklasifikasikan calon pemimpin yang akan kita pilih. Begitu banyak calon pemimpin yang hanya menyajikan janji-janji semata dihadapan masyarakat, ketika ia terpilih dengan begitu mudahnya ia melupakan janji-janji yang telah dibuatnya. Kong kalikong diantara sesamanya, memanipulasi data anggaran yang sebenarnya diperuntukkan untuk kepentingan orang banyak, sampai pada kebohongan yang dilakukan secara jamaah (bersama-sama) dan terkoordinir dengan sistematis dan terencana yang pada akhirnya hanya ingin mencari keuntungan pribadi semata.

3. Terpercaya (amanah), bisa dipercaya dan bisa diandalkan mampu memperbaiki kondisi masyarakat ditengah penyakit dan kebimbangannya, selalu menjalankan tugas dengan tekun, profesional dan penuh tanggung jawab. Pemimpin yang meyakini bahwa menjadi pemimpin bukan saja amanah yang diberikan oleh rakyat untuknya, namun juga lebih kepada amanah yang dititipkan Allah kepadanya, sehingga pertanggungjawaban yang difahaminya bukan saja LPJ atau laporan Pertanggung Jawaban dihadapan manusia, namun juga ia mempersiapkan LPJ dihadapan Allah SWT dalam sidang Nya yang tidak pernah luput dan terlewat walau hanya sebesar biji zarrah sekalipun bahkan yang lebih kecil dari itu semua.

4. Aktif dan aspiratif (Tabligh), cerita dari beberapa sumber, ada pemimpin yang telah dipilih oleh rakyat yang diharapkan mampu berbicara dan berbuat banyak hanya diam dan tidak pernah berbicara selama 1 tahun masa tugas, lalu apa yang ia lakukan?, mungkin istilah D5 yang dilakukan, Datang, Duduk, Diam, Dahar (makan), datang ke komisi bagi Duit. Kalau mau diporsentasekan (meski tidak ada data yang pasti) jumlah masyarakat yang menghendaki tidak adanya tempat-tempat maksiyat seperti Tempat Prostitusi, Bar-bar, diskotik, warung remang-remang, tempat hiburan berkedok karoke dan panti pijet, perjudian yang dilegalkan, lebih banyak dari pada yang menghendaki adanya tempat-tempat maksiyat tersebut. Lalu apa yang dilakukan oleh pemimpin kita? Apakah mereka aspiratif? Vokal enyampaikan dan berjuang dengan sekuat tenaga (fight) memperjuangkan aspirasi masyarakat karena jelas warna dihadapan, karena terang mana boleh mana haram, karena terpampang mana air mana kotoran.

5. Mempunyai kemampuan (fathonah), sholeh saja tidak cukup tanpa ada kemampuan yang mumpuni dalam menjalankan amanah yang diembannya, kemampuan yang mampu menjadikannya mampu menjadikan masyarakat yang kurang dan tidak mampu menjadi mampu dan sejahtera dalam kehidupannya. Sehingga masyarakat tidak menyesal menjatuhkan pilihan padanya. Memahami spesialisasi bidang yang digarapnya, cerdas, profesional dan memiliki ide-ide yang briliant dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.

6. Memperjuangkan kepentingan umat Islam. Kepentingan umat Islam tidak akan pernah mendiskreditkan umat/agama lain. Sikap toleransi yang telah dibangun umat Islam sampai dengan sekarang di Indonesia dengan mempersilahkan umat lain beribadah sesuai dengan kepercayaannya, duduk bersama dalam forum-forum diskusi menjadi bukti bahwa umat Islam akan selalu duduk bareng bersama umat lain dalam menyelesaikan persoalan masyarakat dalam lingkup NKRI. Hanya saja, dalam Islam memilih pemimpin adalah kewajiban dan pemimpin yang diharapkan adalah pemimpin yang mampu memperjuangkan kepentingan umat Islam, bukan seolah memperjuangkan kepentingan umat Islam namun pada kenyataannya justru hanya menjadikannya alat mencari keuntungan pribadi.

Dari 6 (enam) syarat diatas, tentulah kita akan sangat memahami siapa yang akan kita pilih kedepan. Tulisan diatas mengacu pada fatwa Majelis Ulama Indonesia dalam ijtima komisi fatwanya. Kalau bukan kepada Ulama kita percayakan urusan agama ini, lalu kepada siapa lagi kita akan percaya?. Apakah hanya akan percaya kepada media? Atau keluarga saja tanpa memandang dengan jujur syarat-syarat menjdi pemimpin yang diharapkan oleh agama ini. Yang perlu menjadi catatan tambahan adalah bahwa tidak cukup memilih pribadi yang sholeh sendiri saja namun secara organisasi yang mewadahinya justru sebaliknya, karena peran organisasi yang mewadahinya sangat mempengaruhi proses kepemimpinannya. Baik perorangannya ataupun wadah organisasi yang menaunginya adalah suatu tim yang memiliki syarat-syarat diatas, kalau hanya perorangan namun organisasi (baca: partai) yang menaunginya tidak baik secara agama, maka akan terjadi ketimpangan manakala dikhawatirkan ketika berbuat pelanggaran, organisasi yang menaunginya tidak mampu berbuat tegas sesuai dengan landasan asas organisasi yang berlandaskan kepada Islam. Maka selain orangnya, juga harus melihat yang mewadahinya karena tentu wadah yang baik akan memberikan amanah kepada orang yang baik pula. Sehingga dengan begitu orang-orang yang berkualitaslah dengan wadah yang berkualitas pula yang akan memimpin kita menuju kebaikan demi kebaikan yang kita harapkan sehingga mereka mampu mengahantarkan kita semua menuju syurga-Nya. Kalau orang yang seperti ini yang memimpin kita insyaAllah hidup dan kehidupan kita akan semakin terasa hidup dan menghidupi, karena mereka Pantang Korupsi dan Sogokan, Peduli Kita Semua, dengan syarat diatas Pasti Keluarganya Sakinah, Penuh Kasih Sayang, meski Para Koruptor Sebel, karena pemimpin yang seperti itu adalah Pemimpin Kita Semua.

Farrosih
Sumber: Hasil-Hasil Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI se Indonesia

Syair Iliya Abu Madhi:

Ia berkata, Langit bersedih dan menampakkan kedukaannya
Saya menjawab, Tersenyumlah, maka akan terobati duka laranya
Ia berkata, kerinduan telah menyelimutiku
Kukatakan kepadanya, tersenyumlah
Maka tidak akan kembali kerinduan yang menyekat jiwa
Ia berkata, musuh disekelilingku meneriakkan sesumbarnya
Apakah musuh yang ada disekitarku telah dijamin keselamatannya?
Saya berkata, tersenyumlah, mereka tidak meminta kepadamu jaminan
Meskipun mereka tidak memiliki keagungan dan kemuliaan
Barangkali, orang lain melihat anda dalam kebahagiaan
Namun, mereka melemparkan kesedihan disamping kegembiraan
Apakah anda dapat menebus kesedihan dengan harta yang melimpah?
Apakah anda merasa rugi dengan senyuman yang terpancar di wajah?
Wahai orang yang berteriak, apakah anda rugi dengan merekahnya kedua bibir?
Ataukah anda bangga dengan pucatnya wajah
Tertawalah, karena burung merpati telah menertawaimu
Kokok ayam bersaut-sautan karena mereka mencintaimu

(dari buku ‘Aid Al Qorni, Laa Tahzan)

FIQIH IKHTILAF

Al-Ikhtilaf wa Adabuhu
(Ikhtilaf dan Adab-adabnya)

1. Makna Ikhtilaf

Secara etimologis, ikhtilaf berarti: tidak sama, tidak sepakat (Al-Mu’jam Al-Wasith: 1/251).
Dalam istilah ulama, ikhtilaf atau khilaf memiliki dua arti:
o Perlawanan, perpecahan, perdebatan dan benturan yang menimbulkan permusuhan dan kebencian. Ibnu Mas’ud ra berkata: “Khilaf itu buruk”.
o Perbedaan pendapat dan sudut pandang yang disebabkan oleh perbedaan tingkat kecerdasan dan informasi.(Ma’an ‘ala Thariq ad-Da’wah: 102).

2. Ikhtilaf yang Boleh dan Tidak boleh
o Ikhtilaf dalam Masalah Ushul: Tidak Boleh (Mamnu’un).
o Yang dimaksud masalah Ushul adalah hal-hal yang qath’i, jelas, dan disepakati oleh para ulama.
o Ikhtilaf dalam Masalah Furu’ : Boleh (Jaaizun).
o Masalah Furu’ adalah hal-hal yang zhanni (mengandung dugaan, multi interpretatif), tersembunyi, dan diperselisihkan oleh para ulama. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah: 6:57).
o Yang menjadi acuan penentu ushul dan furu’ adalah Ilmu Ushul Fiqih.

3. Diantara Faktor Penyebab Ikhtilaf dalam Furu’
o Perbedaan kemampuan akal para ulama dalam menyimpulkan ayat atau hadits yang multi interpretative
o Perbedaan informasi dan ilmu yang dimiliki para ulama
o Perbedaan lingkungan, situasi dan kondisi
o Perbedaan ketentraman hati dalam menilai suatu riwayat hadits.
o Perbedaan dalam menempatkan dalil yang harus didahulukan dari yang lain.
(Risalah Da’watuna – Majmu’ah Rasail Al-Banna)

4. Beberapa Prinsip Ikhtilaf
o Ikhtilaf dalam masalah furu’ pasti terjadi
o Ikhtilaf dalam masalah furu’ tidak memecah belah
o Aib itu pada ta’ashub bukan ikhtilaf
o Tidak ada paksaan dalam masalah ijtihad
o Ikhtilaf itu rahmat atau keluasan bagi mukallaf
o Yang menjadi patokan adalah esensi bukan istilah atau nama.
(Sumber: Ma’an ‘ala Thariq ad-Da’wah, Fiqhul I’tilaf)

5. Adab Ikhtilaf
1. Ikhlas dalam mencapai dan mencari kebenaran
2. Keinginan kuat untuk bersatu, berukhuwwah dan berjama’ah
3. Bersikap objektif & adil terhadap pihak yang berbeda
4. Berdiskusi di bawah naungan ukhuwah
5. Menjauhi ta’ashub
6. Tidak mengingkari ikhtilaf yang mu’tabar dan diperbolehkan
7. Meninggalkan yang mustahab demi menyatukan hati
8. Meninggalkan perkara yang tidak membuahkan amal

6. Diantara Tanda Ikhlas dalam Kebenaran

a. Menjadikan ucapan sebagai patokan bukan siapa yang mengucapkan (menerima kebenaran dari orang yang dicintai maupun dibenci)

Salah seorang rahib Yahudi berkata kepada Rasulullah saw:
“Kalian adalah ummat terbaik kalau kalian tidak berbuat syirik.”
Nabi bersabda: “Subhanallah, perbuatan apa?”
“Kalian mengatakan dalam sumpah: Demi Ka’bah.”
Rasulullah saw menerima teguran itu dan memerintahkan para sahabat untuk bersumpah demi Rabb Ka’bah. (Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin: 1/44)

b. Menginginkan kebenaran keluar dari mulut pihak lain yang berbeda pendapat

Hatim Al-Asham berkata: “Aku punya tiga hal untuk mengalahkan lawan bicaraku :
”aku senang jika ia benar, sedih jika ia salah, dan aku jaga diriku agar tidak menzaliminya.”
Imam Ahmad berkomentar tentangnya: “Subhanallah, sungguh beliau laki-laki yang amat berakal.” (Fatawa Ibnu Taimiyah: 20/304)

c. Siap meninggalkan pendapat sendiri dan kembali kepada kebenaran.

Abu Yusuf (murid Imam Abu Hanifah) pernah berbeda pendapat dengan Imam Malik tentang sebuah masalah fiqih. Ketika Imam Malik mengutarakan riwayat mutawatir dari penduduk Madinah sebagai dalil pendapatnya, Abu Yusuf mengoreksi pendapatnya, sambil berkata:
“Jika guruku Abu Hanifah menyaksikan ini, pastilah ia mengoreksi pendapatnya juga.” (Fatawa Ibnu Taimiyah: 20/304)

d. Keinginan kuat untuk bersatu, berukhuwwah dan berjama’ah

Imam Ahmad mengatakan wajib berwudhu setelah berbekam.
Ketika beliau ditanya: “Kalau seorang imam tidak berwudhu setelah berbekam, apakah kita shalat di belakangnya?”
Jawab beliau: “Subhanallah! Apakah kita tidak mau menjadi ma’mum Sa’id bin Musayyib dan Imam Malik bin Anas?” (Ma’an ‘ala Thariq ad-Da’wah: 100)

Sultan Muhammad bin Malik Al-Manshur Qalawun pernah meminta fatwa kepada Ibnu Taimiyah untuk menghukum mati beberapa qadhi. Mereka telah berfatwa untuk menggulingkan Sultan, dan membai’at orang lain (Jasyankir), serta memprovokasi massa utk memusuhi Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyah menolak pembunuhan itu, dan meminta Sultan membebaskan mereka, padahal mereka telah menzalimi Ibnu Taimiyah akibat perbedaan pendapat sengit dalam masalah cabang aqidah. Bahkan beliau malah menghormati mereka.

Ibnu Taimiyah: “Jika engkau bunuh mereka, tak akan engkau dptkan ulama seperti mereka lagi.”
Sultan: “Mereka telah menyakitimu & mencoba membunuhmu.”
Ibnu Taimiyah: “Siapa yang telah menyakitiku aku telah memaafkannya, aku tidak ingin menang untuk diriku sendiri.”
Ibnu Makhluf, salah satu qadhi berkata: “Belum pernah kami menemui orang seperti Ibnu Taimiyah, kami coba menyakitinya tapi kami tidak mampu. Sedang ia dapat membalas kami, tapi ia memaafkan bahkan membela kami.” (Al-Bidayah Wan-nihayah: 14/56)

e. Bersikap objektif & adil terhadap pihak yang berbeda

“Berlakulah adil dan benar dalam menghukum dalam segala hal. Kemarahanmu (kepada orang lain) jangan membuatmu melupakan kebaikannya, dan rasa sukamu kepada seseorang jangan menutup matamu dari keburukannya. Permusuhan jangan membawamu melupakan kebaikan. Katakan yang haq meskipun pahit atas dirimu atau orang terdekat bagimu sekalipun”

Abdur Razzaq bin Hammam, penyusun hadits Rasulullah saw, pernah berkomentar buruk terhadap Umar bin Khattab yang dianggapnya kurang sopan terhadap Rasulullah saw.
Imam Dzahabi mengkritik Abd Razzaq:
“Ini adalah suatu yang besar, jika engkau (wahai Abd Razzaq) diam, tentu itu lebih baik. Umar lebih tahu adab terhadap Rasulullah saw… Meskipun demikian, kita mohon ampun kepada Allah untuk kita dan Abd Razzaq, beliau orang yang terpercaya dan jujur dalam meriwayatkan hadits Rasulullah saw.”( Fiqhul I’tilaf)

f. Dialog di bawah naungan ukhuwah

Dan khilaf fiqih dalam masalah cabang bukan penyebab perpecahan dalam agama, permusuhan dan kebencian. Setiap mujtahid mendapat pahala. Dan tidak mengapa jika dilakukan kajian dan diskusi ilmiah dalam masalah khilaf dalam naungan cinta karena Allah dan saling membantu untuk mencapai hakikat kebenaran tanpa mengakibatkan perdebatan tercela dan fanatisme. (Prinsip ke-8 dari 20 prinsip Ikhwan) (Rukun Al-Fahm – Risalah Ta’alim)

“Dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik” (16/125)

“Aku menjamin rumah di sekitar surga bagi siapa yang meninggalkan debat kusir meskipun ia berada di pihak yang benar” (HR. Abu Dawud)

Ibnu Abbas ra berbeda pendapat dengan Zaid bin Tsabit tentang ‘apakah saudara mendapat warisan jika ada kakek?’ Ibnu Abbas berpendapat ‘ya’ sedangkan Zaid ‘tidak’. Ketika Ibnu Abbas ra melihat Zaid ra menunggang kudanya, ia segera berjalan menuntun kuda Zaid ra sambil berkata: “Beginilah kita diperintahkan menghormati ulama.” Zaid ra berkata: “Kemarikan tanganmu!” Lalu diciumnya tangan Ibnu Abbas ra sambil berkata: “Beginilah kita diperintahkan terhadap ahli bait (keluarga) Nabi kita.” (Ma’an ‘ala Thariq ad-Da’wah: 99)

g. Meninggalkan Tashsub

“Setiap orang dapat diambil ucapannya dan ditinggalkan kecuali Rasulullah saw yang ma’shum. Kita menerima semua yang berasal dari salaf ra dan sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah, jika tidak sesuai maka Al-Quran dan Sunnah lah yang harus diikuti, tetapi kita tidak akan menodai kehormatan seseorang diantara mereka dengan tuduhan atau celaan karena perbedaan pendapat di antara mereka, kita serahkan mereka kepada niat mereka masing-masing, dan mereka sudah mendapatkan balasan apa yang telah mereka lakukan.”
(Prinsip ke-6 dari 20 prinsip Ikhwan – Rukun Al-Fahm Risalah Ta’alim)

“Jika guruku Abu Hanifah menyaksikan ini, pastilah ia mengoreksi pendapatnya juga.” (Abu Yusuf)
“Saya pribadi telah berijtihad dalam berbagai hal tanpa mengikuti sepenuhnya pendapat Imam Al-Banna. Dan saya yakin beliau akan rela dengan sikap saya itu, karena beliau amat senang melihat pengikutnya berpikir merdeka dan sungguh-sungguh, tidak menjadi tawanan atau hamba yang selalu terbelenggu taqlid.”
(Yusuf Al-Qaradhawi: Al-Ikhwan Al-Muslimun: 246)

h. Tidak mengingkari ikhtilaf yang mu’tabar dan diperbolehkan

“Sesungguhnya masalah ijtihadiyyah seperti ini tidak boleh diingkari dengan tangan, siapapun tidak boleh memaksa orang lain mengikuti pendapatnya. Yang bisa dilakukan adalah berbicara dengan argumentasi ilmiah. Siapa yang telah jelas baginya kebenaran suatu pendapat maka dia dapat mengikutinya, dan siapa yang taqlid kepada pendapat lain maka ia tidak boleh diingkari.”
(Ibnu Taimiyah mengutip pendapat ulama madzhab Syafi’i). (Majmu’ Fatawa: 7:250)

i. Meninggalkan yang sunnah untuk mengedepankan kesatuan hati (yang wajib)

Imam Syafi’i berpendapat bahwa qunut subuh itu sunnah, sedangkan Imam Abu Hanifah tidak berpendapat demikian. Ketika Imam Syafi’i pergi ke Kufah, dan menjadi imam shalat subuh, beliau tidak qunut demi menghormati penduduk Kufah yang bermadzhab Hanafi.
(Ma’an ‘ala Thariq ad-Da’wah: 100)

j.Tidak menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak bernilai amal (Meninggalkan perkara yang tidak membuahkan amal)

“Semua masalah yang tidak terbangun di atasnya amal, maka menggelutinya terlalu dalam adalah perbuatan berlebihan yang dilarang oleh syariat…”
(Prinsip ke-9 dari 20 Prinsip Ikhwan – Rukun Al-Fahm Risalah ta’alim)
o Ketika Rasulullah saw ditanya tentang kapan hari kiamat, beliau berkata: “Apa yang telah engkau siapkan untuk menghadapinya?”
o Umar ra mengingkari dan menghukum Shabigh karena banyak bertanya tentang sesuatu yang tidak bermanfaat secara amaliah.
o Ali ra mengingkari Ibnul Kuwa yang banyak bertanya tentang hal yang tidak bermanfaat.
o Begitu juga Imam Malik membenci ucapan yang tidak membuahkan amal.
(Nazharat Fi Risalah Ta’alim: 94-95 )

Suatu hari aku berjalan pada sebuah taman bunga
Kulihat begitu indah beraneka warna yang ada disana
Ada merah, putih, biru, kuning, hijau, ungu, hitam, dll
Saling melengkapi satu sama lain
Tidak menganggap warnanya paling indah diantara warna yang lain
Sejenak kemudian kubayangkan
Andai di taman ini hanya ada satu warna, biru misal
Sungguh hilanglah keindahan taman tersebut
Aku bersyukur tamanku penuh warna
Yang saling melengkapi satu sama lain
Wallahu’alam bis showaf

Farrosih
Dari berbagai sumber