Ada sebuah kisah cantik yang dikutip oleh Syaikh ’Abdullah Nashih ’Ulwan dalam Taujih Ruhiyah-nya. Kisah menarik ini, atau yang semakna dengannya juga termaktub dalam karya agung Ibnul Qayyim Al Jauziyah yang khusus membahas para pencinta dan pemendam rindu, Raudhatul Muhibbin.
Ini kisah tentang seorang gadis yang sebegitu cantiknya. Dialah sang bunga di sebuah kota yang harumnya semerbak hingga negeri-negeri tetangga. Tak banyak yang pernah melihat wajahnya, sedikit yang pernah mendengar suaranya, dan bisa dihitung jari orang yang pernah berurusan dengannya. Dia seorang pemilik kecantikan yang terjaga bagaikan bidadari di taman surga.
Sebagaimana wajarnya, sang gadis juga memendam cinta. Cinta itu tumbuh, anehnya, kepada seorang pemuda yang belum pernah dilihatnya, belum pernah dia dengar suaranya, dan belum tergambar wujudnya dalam benak. Hanya karena kabar. Hanya karena cerita yang beredar. Bahwa pemuda ini tampan bagai Nabi Yusuf zaman ini. Bahwa akhlaqnya suci. Bahwa ilmunya tinggi. Bahwa keshalihannya membuat iri. Bahwa ketaqwaannya telah berulangkali teruji. Namanya kerap muncul dalam pembicaraan dan doa para ibu yang merindukan menantu.
Gadis pujaan itu telah kasmaran sejak didengarnya sang bibi berkisah tentang pemuda idaman. Tetapi begitulah, cinta itu terpisah oleh jarak, terkekang oleh waktu, tersekat oleh rasa asing dan ragu. Hingga hari itu pun tiba. Sang pemuda berkunjung ke kota si gadis untuk sebuah urusan. Dan cinta sang gadis tak lagi bisa menunggu. Ia telah terbakar rindu pada sosok yang bayangannya mengisi ruang hati. Meski tak pasti adakah benar yang ia bayangkan tentang matanya, tentang alisnya, tentang lesung pipitnya, tentang ketegapannya, tentang semuanya. Meski tak pasti apakah cintanya bersambut sama.
Maka ditulisnyalah surat itu, memohon bertemu.
Dan ia mendapat jawaban. ”Ya”, katanya.
Akhirnya mereka bertemu di satu tempat yang disepakati. Berdua saja. Awal-awal tak ada kata. Tapi bayangan masing-masing telah merasuk jauh menembus mata, menghadirkan rasa tak karuan dalam dada. Dan sang gadis yang mendapati bahwa apa yang ia bayangkan tak seberapa dibanding aslinya; kesantunannya, kelembutan suaranya, kegagahan sikapnya. Ia berkeringat dingin. Tapi diberanikannya bicara, karena demikianlah kebiasaan yang ada pada keluarganya.
”Maha Suci Allah”, kata si gadis sambil sekilas kembali memandang, ”Yang telah menganugerahi engkau wajah yang begitu tampan.”
Sang pemuda tersenyum. Ia menundukkan wajahnya. ”Andai saja kau lihat aku”, katanya, ”Sesudah tiga hari dikuburkan. Ketika cacing berpesta membusukkannya. Ketika ulat-ulat bersarang di mata. Ketika hancur wajah menjadi busuk bernanah. Anugerah ini begitu sementara. Janganlah kau tertipu olehnya.”
”Betapa inginnya aku”, kata si gadis, ”Meletakkan jemariku dalam genggaman tanganmu.”
Sang pemuda berkeringat dingin mendengarnya. Ia menjawab sambil tetap menunduk memejamkan mata. ”Tak kurang inginnya aku berbuat lebih dari itu. Tetapi coba bayangkan, kulit kita adalah api neraka; yang satu bagi yang lainnya. Tak berhak saling disentuhkan. Karena di akhirat kelak hanya akan menjadi rasa sakit. dan penyesalan yang tak berkesudahan.”
Si gadis ikut tertunduk. ”Tapi tahukah engkau”, katanya melanjutkan, ”Telah lama aku dilanda rindu, takut, dan sedih. Telah lama aku merindukan saat aku bisa meletakkan kepalaku di dadamu yang berdegub. Agar berkurang beban-beban. Agar Allah menghapus kesempitan dan kesusahan.”
”Jangan lakukan itu kecuali dengan haknya”, kata si pemuda. ”Sungguh kawan-kawan akrab pada hari kiamat satu sama lain akan menjadi seteru. Kecuali mereka yang bertaqwa.”
Kita cukupkan sampai di sini sang kisah. Mari kita dengar komentar Syaikh ’Abdullah Nashih ’Ulwan tentangnya. ”Apa yang kita pelajari dari kisah ini?”, demikian beliau bertanya. ”Sebuah kisah yang indah. Sarat dengan ’ibrah dan pelajaran. Kita lihat bahwa sang pemuda demikian fasih membimbing si gadis untuk menghayati kesucian dan ketaqwaan kepada Allah.”
”Tapi”, kata beliau memberi catatan. ”Dalam kisah indah ini kita tanpa sadar melupakan satu hal. Bahwa sang pemuda dan gadis melakukan pelanggaran syari’at. Bahwa sang pemuda mencampuradukkan kebenaran dan kebathilan. Bahwa ia meniupkan nafas da’wah dalam atmosfer yang ternoda. Dan dampaknya bisa kita lihat dalam kisah; sang gadis sama sekali tak mengindahkan da’wahnya. Bahkan ia makin berani dalam kata-kata; mengajukan permintaan-permintaan yang makin meninggi tingkat bahayanya dalam pandangan syari’at Allah.”
Ya. Dia sama sekali tak memperhatikan isi kalimat da’wah sang pemuda. Buktinya, kalimatnya makin berani dan menimbulkan syahwat dalam hati. Mula-mula hanya mengagumi wajah. Lalu membayangkan tangan bergandengan, jemarinya menyatu bertautan. Kemudian membayangkan berbaring dalam pelukan. Subhanallah, bagaimana jika percakapan diteruskan tanpa batas waktu?
”Kesalahan itu”, kata Syaikh ’Abdullah Nashih ’Ulwan memungkasi, ”Telah terjadi sejak awal.” Apa itu? ”Mereka berkhalwat! Mereka tak mengindahkan peringatan syari’at dan pesan Sang Nabi tentang hal yang satu ini.”
Ya. Mereka berkhalwat! Bersepi berduaan. Ya. Sang pemuda memang sedang berda’wah. Tapi meminjam istilah salah seorang Akh yang paling saya cintai dalam ’surat cinta’-nya yang masih saya simpan hingga kini, ini adalah ”Da’wah dusta!” Da’wah dusta. Da’wah dusta. Di jalan cinta para pejuang, mari kita hati-hati terhadap jebakan syaithan. Karena yang tampak indah selalu harus diperiksa dengan ukuran kebenaran.
taken from: Jalan Cinta Para Pejuang
by Salim A. Fillah
Sholatlah dua rakaat!, lalu bacalah al qur'an! fahami maknanya! lalu pilihlah diantara ribuan inspirasi yang muncul...
Belajar dari sang bunda dan sang bayi
Suatu hari Rasulullah SAW ditanya oleh shahabatnya :
"Ya Rasulullah, kepada siapa aku harus berbakti paling baik?"
Jawab Rasul : "Kepada ibumu", "Lalu ?", tanya sang sahabat kembali.
Jawab Rasul : "Kepada ibumu", "Lalu ?", tanya kembali sang shahabat,
kembali Rasul menjawab: "Kepada ibumu"
Sang shahabat bertanya kembali "Lalu ?",jawab Rasul "Kepada ayahmu".
Demikianlah, sebuah perkataan/ hadits yang singkat tetapi berdasarkan perenungan yang panjang akan makna hakiki seorang ibu. Perenungan ini pula yang mengerakkan saya menulis kolom ini. Renungan ini mengantarkan saya pada sebuah fenomena bahwa ternyata sosok ibu adalah contoh atau profil pendidik yang terbaik, sementara itu sang bayi pun merupakan profil pembelajar terbaik. Mari kita telusuri profil mereka
Ketika sang bayi terbangun dan menangis di malam hari, dengan sigap sang ibu pun ikut bangun, dengan lembut ia menggantikan popok sang bayi, lalu memberikan yang terbaik untuk sang bayi yaitu ASInya dan menemaninya sampai sang bayipun tertidur pulas. Sungguh semua itu dilakukannya hampir tanpa keluhan, bahkan dengan bahagianya dia menjalankan amanah tersebut. Bagaimana bisa?, Kasih sayang jawabnya. Andaikan kita para pendidik mampu mengadopsi jawaban tersebut dalam menjalankan amanah mendidik kita, niscaya luar biasa percepatan belajar yang akan terjadi pada anak didik kita. Rasa cinta dan kasih sayang membuat amanah menjadi mudah & membahagiakan.
Ingatkah kita bagaimana sang bunda menyediakan berbagai jenis mainan di sekeliling kita. Betapa kita merasakan bagaimana bentuk dan warna mainan itu membuat mata kita aktif tajam memperhatikannya, suara mainan itu membuat telinga kita aktif asyik mendengarkannya, bagaimana gerakan mainan itu membuat tangan dan kaki kita menjadi tak bisa diam. Dan kita pun menjadi semakin cerdas karenanya. Maka mari belajarlah dari sang bunda bagaimana dia memfasilitasi, untuk menjadikan anak didik menjadi semakin cerdas.
Berdiri, melangkah dan berjalan merupakan sebuah proses yang rumit dalam perkembangan sang bayi. Ketika sang anak berusaha berdiri, lalu terjatuh, bangun berdiri dan terjatuh lagi, bangun lagi, dengan kesabaran yang luar biasa sang bunda terus mendampingi dan terus memotivasi kita untuk bisa. Dalam hatinya dia berkata "Suatu hari anakku pasti akan bisa !". Rasanya tak ada seorangpun ibu yang putus asa ketika melihat bayinya terjatuh kembali dalam usahanya untuk mampu berdiri, lalu dia berkata ,"Sudahlah nak, kamu memang tak bakat berdiri, merangkak sajalah…" Masih adakah kita kurang sabar dan merasa putus asa dengan prestasi yang baru dicapai anak didik kita?.
Sosok sang bunda sebagai pemotivasi sungguh luar biasa. Betapapun kecilnya perkembangan yang dicapai sang bayi, tetapi ungkapan wajah bahagia dan senyum dari sang bunda selalu ditampakkannya, membuat sang bayi menjadi lebih termotivasi lagi. Betapa kita perhatikan bagaimana sang bayi mencapai percepatan belajar yang luar biasa dalam lingkungan yang begitu memotivasi. Tatkala sang bayi baru mampu melangkah satu langkah, maka tepukan tangan, seruan gembira dan bahagia dari sang bunda dan orang-orang disekelilingnya, membuat sang bayi semakin termotivasi untuk melangkah lebih maju lagi. Bagaimanakah kita mampu menyediakan lingkungan yang begitu memotivasi untuk anak didik kita?.
Sang bunda paham benar apa jenis makanan yang tepat untuk tahapan usia bayinya. Marilah kita pahami tahapan anak didik kita dan berikanlah ‘makanan terbaik’ untuknya sesuai tahapannya.
Majalah-majalah yang memuat informasi-informasi perkembangan anak hampir selalu laris terjual. Rasa haus sang bunda akan informasi yang diperlukannya dalam mengasuh dan membesarkan putranya, membuatnya menjadi pembelajar sepanjang usia. Marilah kita para pendidik untuk lebih bertekad menjadi pembelajar sejati. Kita boleh putus sekolah, tetapi kita tak boleh putus belajar.
Ketika tiba waktunya, maka sang bunda akan membawa bayinya ke Posyandu, Puskesmas atau bidan agar bayinya memperoleh imunisasi. Disadari sang bunda bahwa proses itu sesaat akan menyakitkan bayinya, panas yang meningkat akan dideritanya selama satu atau dua hari. Tetapi keinginannya yang kuat untuk menjadikan bayinya lebih terjaga kesehatannya membuat sang bunda dengan tabah menjalani proses sesaat anaknya tersakiti. Bagimana kita dapat ‘mengimunisasi’ anak didik kita?.
Dalam setiap kesempatan yang ada, terlebih ketika memandangi bayinya yang sedang tertidur pulas, hampir tak pernah terlewatkan betapa ikhlas sang bunda memanjatkan dengan penuh kekhusyu’an do’a-do’a untuk anaknya. Mengapa kita tak mencoba untuk membiasakan mendo’akan kebaikan untuk setiap anak didik kita?.
Saya yakin masih cukup banyak ‘pesan dari sang bunda’ yang dapat kita lihat, telinga kita dengar dan hati kita fahami. Renungkanlah…
Sekarang mari kita alihkan perhatian kita pada sang bayi yang ternyata memiliki profil pembelajar terbaik.
Perhatikanlah bagaimana proses belajar sang bayi, betapa tinggi rasa ingin tahunya. Tatkala kita sodorkan padanya sebuah mainan, dengan serta merta dia ingin mengetahui mainan itu. Dipegangnya lalu digerakkannya dan dipandanginya seluruh permukaan benda itu, setelah puas lalu dia masukkan mainan ke mulutnya untuk mengetahui rasanya. Lalu biasanya dilemparkannya mainan itu untuk mengetahui reaksinya dan akhirnya diraihnya kembali mainan itu. Adakah rasa ingin tahu kita selaku pembelajar sebesar itu?, Rasa ingin tahulah yang mengantar kita pada temuan-temuan terbaru. Ibnu Abbas ra pernah ditanya seorang shahabatnya, “Bagaimana engkau bisa secerdas ini?”, jawab beliau : “Dengan akal yang gemar berfikir dan dengan lisan yang gemar bertanya” Betapa tinggi rasa ingin tahu beliau. Ikutilah….
Ketika sang anak berusaha berdiri, lalu terjatuh, bangun berdiri dan terjatuh lagi, adakah dia mengenal rasa putus asa dalam dirinya? Dia tidak mengenal kata putus asa! Bahkan dalam hatinya dia berkata “Suatu hari aku pasti akan bisa, seperti yang lain pun bisa!”. Masih adakah kita begitu mudah untuk kurang sabar dan cepat merasa putus asa dengan prestasi yang baru kita capai saat ini selaku pembelajar?.
Jika kita memberikan sebuah mainan kotak kecil pada sang anak, maka di tangan si kecil mainan kotak itu dapat menjadi mobil-mobilan, kapal terbang, perahu, rumah-rumahan dan berbagai macam mainan lainnya dapat tercipta dalam imajinasinya. Benar-benar sebuah miniatur kreativitas. Apakah pola pikir rutinitas masih mendominasi kita? Mengapa kita enggan mencoba mencari pendekatan lain yang diluar kerutinan kerja kita? Padahal ada banyak jalan lebih baik sebanyak ikhtiar kita untuk menemukannya. Buatlah lebih baik, tidak asal beda. Make it better, not just different.
Saya yakin masih begitu banyak pesan yang dapat kita peroleh dari sang ‘ pembelajar’ bayi.. Lengkapilah oleh Anda daftar ‘pesan-pesan bunda dan bayi’ ini . Fa’tabiruu yaa ulil abshaar.
Renungkanlah oleh anda bagaimana sang bayi memiliki sifat sifat pembelajar terbaik.
Senyum sang bayi sang bunda menenteramkannya.
"Ya Rasulullah, kepada siapa aku harus berbakti paling baik?"
Jawab Rasul : "Kepada ibumu", "Lalu ?", tanya sang sahabat kembali.
Jawab Rasul : "Kepada ibumu", "Lalu ?", tanya kembali sang shahabat,
kembali Rasul menjawab: "Kepada ibumu"
Sang shahabat bertanya kembali "Lalu ?",jawab Rasul "Kepada ayahmu".
Demikianlah, sebuah perkataan/ hadits yang singkat tetapi berdasarkan perenungan yang panjang akan makna hakiki seorang ibu. Perenungan ini pula yang mengerakkan saya menulis kolom ini. Renungan ini mengantarkan saya pada sebuah fenomena bahwa ternyata sosok ibu adalah contoh atau profil pendidik yang terbaik, sementara itu sang bayi pun merupakan profil pembelajar terbaik. Mari kita telusuri profil mereka
Ketika sang bayi terbangun dan menangis di malam hari, dengan sigap sang ibu pun ikut bangun, dengan lembut ia menggantikan popok sang bayi, lalu memberikan yang terbaik untuk sang bayi yaitu ASInya dan menemaninya sampai sang bayipun tertidur pulas. Sungguh semua itu dilakukannya hampir tanpa keluhan, bahkan dengan bahagianya dia menjalankan amanah tersebut. Bagaimana bisa?, Kasih sayang jawabnya. Andaikan kita para pendidik mampu mengadopsi jawaban tersebut dalam menjalankan amanah mendidik kita, niscaya luar biasa percepatan belajar yang akan terjadi pada anak didik kita. Rasa cinta dan kasih sayang membuat amanah menjadi mudah & membahagiakan.
Ingatkah kita bagaimana sang bunda menyediakan berbagai jenis mainan di sekeliling kita. Betapa kita merasakan bagaimana bentuk dan warna mainan itu membuat mata kita aktif tajam memperhatikannya, suara mainan itu membuat telinga kita aktif asyik mendengarkannya, bagaimana gerakan mainan itu membuat tangan dan kaki kita menjadi tak bisa diam. Dan kita pun menjadi semakin cerdas karenanya. Maka mari belajarlah dari sang bunda bagaimana dia memfasilitasi, untuk menjadikan anak didik menjadi semakin cerdas.
Berdiri, melangkah dan berjalan merupakan sebuah proses yang rumit dalam perkembangan sang bayi. Ketika sang anak berusaha berdiri, lalu terjatuh, bangun berdiri dan terjatuh lagi, bangun lagi, dengan kesabaran yang luar biasa sang bunda terus mendampingi dan terus memotivasi kita untuk bisa. Dalam hatinya dia berkata "Suatu hari anakku pasti akan bisa !". Rasanya tak ada seorangpun ibu yang putus asa ketika melihat bayinya terjatuh kembali dalam usahanya untuk mampu berdiri, lalu dia berkata ,"Sudahlah nak, kamu memang tak bakat berdiri, merangkak sajalah…" Masih adakah kita kurang sabar dan merasa putus asa dengan prestasi yang baru dicapai anak didik kita?.
Sosok sang bunda sebagai pemotivasi sungguh luar biasa. Betapapun kecilnya perkembangan yang dicapai sang bayi, tetapi ungkapan wajah bahagia dan senyum dari sang bunda selalu ditampakkannya, membuat sang bayi menjadi lebih termotivasi lagi. Betapa kita perhatikan bagaimana sang bayi mencapai percepatan belajar yang luar biasa dalam lingkungan yang begitu memotivasi. Tatkala sang bayi baru mampu melangkah satu langkah, maka tepukan tangan, seruan gembira dan bahagia dari sang bunda dan orang-orang disekelilingnya, membuat sang bayi semakin termotivasi untuk melangkah lebih maju lagi. Bagaimanakah kita mampu menyediakan lingkungan yang begitu memotivasi untuk anak didik kita?.
Sang bunda paham benar apa jenis makanan yang tepat untuk tahapan usia bayinya. Marilah kita pahami tahapan anak didik kita dan berikanlah ‘makanan terbaik’ untuknya sesuai tahapannya.
Majalah-majalah yang memuat informasi-informasi perkembangan anak hampir selalu laris terjual. Rasa haus sang bunda akan informasi yang diperlukannya dalam mengasuh dan membesarkan putranya, membuatnya menjadi pembelajar sepanjang usia. Marilah kita para pendidik untuk lebih bertekad menjadi pembelajar sejati. Kita boleh putus sekolah, tetapi kita tak boleh putus belajar.
Ketika tiba waktunya, maka sang bunda akan membawa bayinya ke Posyandu, Puskesmas atau bidan agar bayinya memperoleh imunisasi. Disadari sang bunda bahwa proses itu sesaat akan menyakitkan bayinya, panas yang meningkat akan dideritanya selama satu atau dua hari. Tetapi keinginannya yang kuat untuk menjadikan bayinya lebih terjaga kesehatannya membuat sang bunda dengan tabah menjalani proses sesaat anaknya tersakiti. Bagimana kita dapat ‘mengimunisasi’ anak didik kita?.
Dalam setiap kesempatan yang ada, terlebih ketika memandangi bayinya yang sedang tertidur pulas, hampir tak pernah terlewatkan betapa ikhlas sang bunda memanjatkan dengan penuh kekhusyu’an do’a-do’a untuk anaknya. Mengapa kita tak mencoba untuk membiasakan mendo’akan kebaikan untuk setiap anak didik kita?.
Saya yakin masih cukup banyak ‘pesan dari sang bunda’ yang dapat kita lihat, telinga kita dengar dan hati kita fahami. Renungkanlah…
Sekarang mari kita alihkan perhatian kita pada sang bayi yang ternyata memiliki profil pembelajar terbaik.
Perhatikanlah bagaimana proses belajar sang bayi, betapa tinggi rasa ingin tahunya. Tatkala kita sodorkan padanya sebuah mainan, dengan serta merta dia ingin mengetahui mainan itu. Dipegangnya lalu digerakkannya dan dipandanginya seluruh permukaan benda itu, setelah puas lalu dia masukkan mainan ke mulutnya untuk mengetahui rasanya. Lalu biasanya dilemparkannya mainan itu untuk mengetahui reaksinya dan akhirnya diraihnya kembali mainan itu. Adakah rasa ingin tahu kita selaku pembelajar sebesar itu?, Rasa ingin tahulah yang mengantar kita pada temuan-temuan terbaru. Ibnu Abbas ra pernah ditanya seorang shahabatnya, “Bagaimana engkau bisa secerdas ini?”, jawab beliau : “Dengan akal yang gemar berfikir dan dengan lisan yang gemar bertanya” Betapa tinggi rasa ingin tahu beliau. Ikutilah….
Ketika sang anak berusaha berdiri, lalu terjatuh, bangun berdiri dan terjatuh lagi, adakah dia mengenal rasa putus asa dalam dirinya? Dia tidak mengenal kata putus asa! Bahkan dalam hatinya dia berkata “Suatu hari aku pasti akan bisa, seperti yang lain pun bisa!”. Masih adakah kita begitu mudah untuk kurang sabar dan cepat merasa putus asa dengan prestasi yang baru kita capai saat ini selaku pembelajar?.
Jika kita memberikan sebuah mainan kotak kecil pada sang anak, maka di tangan si kecil mainan kotak itu dapat menjadi mobil-mobilan, kapal terbang, perahu, rumah-rumahan dan berbagai macam mainan lainnya dapat tercipta dalam imajinasinya. Benar-benar sebuah miniatur kreativitas. Apakah pola pikir rutinitas masih mendominasi kita? Mengapa kita enggan mencoba mencari pendekatan lain yang diluar kerutinan kerja kita? Padahal ada banyak jalan lebih baik sebanyak ikhtiar kita untuk menemukannya. Buatlah lebih baik, tidak asal beda. Make it better, not just different.
Saya yakin masih begitu banyak pesan yang dapat kita peroleh dari sang ‘ pembelajar’ bayi.. Lengkapilah oleh Anda daftar ‘pesan-pesan bunda dan bayi’ ini . Fa’tabiruu yaa ulil abshaar.
Renungkanlah oleh anda bagaimana sang bayi memiliki sifat sifat pembelajar terbaik.
Senyum sang bayi sang bunda menenteramkannya.
Setahun membersamai cinta
Satu tahun tepat kita layari laut kehidupan
Telah kita sapa ombaknya, telah kita singgahi karangnya
Masih jelas terkenang saat pertama kusentuh tangan itu
Disela senyum riang genit para tamu undangan
Di raut wajah yang tenang namun tanganku bergetar hebat
Satu tahun sudah cerita itu kita isi
telah kau insyafkan betapa tak mudah menjadi lelaki
karena tak pernah sempurna aku memberi
meski telah kukerahkan segala cinta dan daya diri
karena tak pernah utuh aku menjadi suami
sebagaimana kau rasakan aibku di sana-sini
Istriku,….
Aku mencintaimu
bukan karena hartamu
Bukan karena nasabmu
bukan hanya karena kecantikanmu
tapi kuniatkan karena agamamu
dan agama ini menjadikanmu wahai istriku
menjadikan barokah hartamu
menjadikan baik keturunanmu
menjadikan cantik parasmu
bukan… sekali lagi bukan
bukan hanya cinta biasa
yang lahir hanya keinginan jiwa
yang mamaksa untuk kenikmatan sementara
sekali lagi bukan
tapi cinta karena akhlaqmu
kesetiaan, kejujuran senyummu
kematangan arifmu, apa adanya dirimu
yang menjadikanku jatuh cinta
yang belum aku rasakan cinta seperti ini sebelumnya
apalah arti pernikahan ini tanpa kejujuran
dan Allah yang menjadi saksi
bahwa cinta ini bukan hanya dibibir semata
tapi cinta yang dibimbing oleh-Nya
“Untuk Heldawati, isteriku tercinta
satu tahun sudah, 4 oktober silam, masih ingat?
selamat hari jadi ya chayankk… luv u...
oke.. oke.. oke… "
Telah kita sapa ombaknya, telah kita singgahi karangnya
Masih jelas terkenang saat pertama kusentuh tangan itu
Disela senyum riang genit para tamu undangan
Di raut wajah yang tenang namun tanganku bergetar hebat
Satu tahun sudah cerita itu kita isi
telah kau insyafkan betapa tak mudah menjadi lelaki
karena tak pernah sempurna aku memberi
meski telah kukerahkan segala cinta dan daya diri
karena tak pernah utuh aku menjadi suami
sebagaimana kau rasakan aibku di sana-sini
Istriku,….
Aku mencintaimu
bukan karena hartamu
Bukan karena nasabmu
bukan hanya karena kecantikanmu
tapi kuniatkan karena agamamu
dan agama ini menjadikanmu wahai istriku
menjadikan barokah hartamu
menjadikan baik keturunanmu
menjadikan cantik parasmu
bukan… sekali lagi bukan
bukan hanya cinta biasa
yang lahir hanya keinginan jiwa
yang mamaksa untuk kenikmatan sementara
sekali lagi bukan
tapi cinta karena akhlaqmu
kesetiaan, kejujuran senyummu
kematangan arifmu, apa adanya dirimu
yang menjadikanku jatuh cinta
yang belum aku rasakan cinta seperti ini sebelumnya
apalah arti pernikahan ini tanpa kejujuran
dan Allah yang menjadi saksi
bahwa cinta ini bukan hanya dibibir semata
tapi cinta yang dibimbing oleh-Nya
“Untuk Heldawati, isteriku tercinta
satu tahun sudah, 4 oktober silam, masih ingat?
selamat hari jadi ya chayankk… luv u...
oke.. oke.. oke… "
Membingkai cinta
"Allah tidak menjamin pernikahan bagi orang yang bercinta, tapi Allah menjamin cinta bagi orang yang menikah"Kitalah manusia itu, yang sejatinya ada dibersamai oleh unsur unsur pelengkap kemanusiaan sebagai anugrah fakta yang tak bisa disanggah akan Maha Mengetahui dan Maha Pengasihnya Allah SWT terhadap ke ghaib-an masa depan. Unsur itu sangat lengkap dan tak terhitung jumlahnya, salah satunya adalah manusia dilengkapi oleh Allah SWT dengan rasa cinta. Hanya manusia yang bengis saja yang tidak memiliki rasa cinta, hanya manusia yang melawan fithrah saja yang marah kala berbicara cinta, padahal ia ada bukan untuk di hindari atau di prasangkai. Hanya yang menjadi persoalan kemudian adalah bagaimana seseorang membingkainya. Sebagai seorang insan dari sang Pencipta, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk membingkai rasa cinta itu dengan bingkai keimanan yang sumber mata air alirannya adalah Allah SWT. Dari Hulu ke Hilir ia mengalir, baik tidaknya muara di Hilir sana, sangat tergantung murni tidaknya mata air di Hulu sini. Kala yang menjadi sumber pijakan itu adalah Allah SWT, maka muaranya akan bersandar pada pelabuhan yang bernama Pernikahan. Karena pernikahan adalah refleksi dari membingkai cinta dengan keimanan. Dan Allah yang akan menjamin wujud cinta itu kala dibingkai dengan keimanan yang terefleksikan dengan ikatan suci. Sangatlah benar kata bertuah diatas bahwa "Allah tidak menjamin pernikahan bagi orang yang bercinta, tapi Allah menjamin cinta bagi orang yang menikah". Karena cinta bukan satu satunya alasan orang menikah, tapi menikah adalah alasan orang menggapai cinta. Karena cinta bukanlah satu satunya asbab orang dapat menikah, tapi menikah adalah asbab orang mendapatkan cinta. Suatu hari seorang anak manusia datang bertanya pada gurunya, mengatakan: "Ustadz bagaimana dengan menikah tanpa ada rasa cinta?" sang gurupun berdiam sejenak, kemudian menjawab: "akhi.. karena memang kita tidak berhak dan tidak boleh mencintai yang memang bukan hak kita, saat menjadi pasangan yang sah itulah antum berhak mencintainya dalam arti cintanya bani Adam". sobat.. mari bertanya pada mereka tentang keabsahan jawaban ini!!
Sahabat, ditengah apapun kondisi hati kita saat ini, dalam tema ini marilah kita belajar dari kisanya kang Abik dalam "pudarnya pesona Cleopatra", disana ada sisi kemanusian sebagai keturunan Adam, disana ada seni bagaimana cinta itu muncul karena sikap dan keteladanan yang terus menerus dalam amal amal ikhlas kebaikan, disana kita belajar bagaimana rahasia cinta itu bisa muncul meski kata "terlambat" harus menyudahi kisahnya.
Mengutip pesan KH. Bahrani Selamat, dalam beberapa pekan terakhir saat mentafsir hadits yang mengharuskan anak manusia mengutamakan agamanya dari pada apapun (LIDINIHA), beliau mengatakan: "Dengan agamanya ia akan mampu menjadi kaya, karena bila rezeki itu ada banyak tidak diboros-boroskan, bila ada sedikit dipada padakan, banyak tidak dilebih lebihkan, sedikit dicukup cukupkan, dalam bahasa akhlaqnya adalah qonaah. Dengan agamanya ia akan mampu memperbaiki nasabnya (keturunannya). karena orang yang beragama mampu memahami bagaimana ia harus bersikap. Dengan agamanya ia akan mampu mempercantik dirinya. Tidak hanya cantik sebelum menikah namun juga cantik ketika sudah menikah dihadapan suaminya, karena orang yang baik agamanya sangat faham tugas dan kewajibannya dalam hal penampilan". Itulah sedikit pesan beliau dalam sebuah obrolan santai penuh kehangatan bagai seorang kakek yang sangat sayang pada cucu nya.
Oleh karena itu sahabat, yakinlah dengan pernikahan, bahwa ia akan menjadi sarana bagi kita untuk lebih mendekat dalam ibadah khusu' pada Allah SWT, sehingga cita cita Imam Syahid Hasal Al Banna dalam marotibul amal nya, dapat kita realisasikan dalam hidup dan kehidupan berjamaah nya kita dalam dakwah ini.
Farrosih
"Saat belajar dari kealpaan"
Teruntuk saudara (i) ku di hari bahagianya(akhi harianto & ukhti iis, akhi didit & ukhti eka, akhi Nur & ukhti siti)
Bungkus godaan syetan
ثَوْبُ إِغْرَاءِ الشَّيْطَانِ Bungkus Godaan Setan
يَقُوْلُ مُصْطَفَى اَلسِّبَاعِيُّ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ DR. Musthafa As-Siba’i rahimahullah berkata:
إِنِّيْ لاَ أَخْشَى عَلَى نَفْسِيْ أَنْ يُغْرِيْنِي الشَّيْطَانُ بِالْمَعْصِيَةِ مُكَاشَفَةً.. وَلَكِنَّيْ أَخْشَى أَنْ يَأْتِيَنِيْ بِهَا مُلَفَّعَةً بِثَوْبٍ مِنَ الطَّاعَةِ.. Saya tidak mengkhawatirkan diriku digoda oleh setan melalui maksiat secara terbuka… akan tetapi saya khawatir setan datang kepadaku dengan membawa maksiat yang dibungkus dengan baju ketaatan..
يُغْرِيْكَ الشَّيْطَانُ بِالْمَرْأَةِ عَنْ طَرِيْقِ الرَّحْمَةِ بِهَا.. وَيُغْرِيْكَ بِالدُّنْيَا عَنْ طَرِيْقِ الْحَيْطَةِ مِنْ تَقَلُّبَاتِهَا.. Setan menggodamu dengan wanita dengan alasan kasihan kepadanya … dan menggodamu dengan dunia dengan alasan agar tidak menjadi korban gonjang-ganjingnya..
وَيُغْرِيْكَ بِمُصَاحَبَةِ الأَشْرَارِ عَنْ طَرِيْقِ اْلأَمَلِ فِيْ هِدَايَتِهِمْ.. وَيُغْرِيْكَ بِالنِّفَاقِ لِلظَّالِمِيْنَ عَنْ طَرِيْقِ الرَّغْبَةِ فِيْ تَوْجِيْهِهِمْ.. Dan menggodamu untuk berkawan dengan orang-orang buruk dengan alasan demi memberi petunjuk kepada mereka dan menggodamu untuk bersikap munafik kepada orang-orang zhalim dengan alasan ingin mengarahkan mereka..
وَيُغْرِيْكَ بِالتَّشْهِيْرِ بِخُصُوْمِكَ عَنْ طَرِيْقِ اْلأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ.. وَيُغْرِيْكَ بِتَصْدِيْعِ وِحْدَةِ الْجَمَاعَةِ عَنْ طَرِيْقِ الْجَهْرِ بِالْحَقِّ.. Dan menggodamu untuk mempublikasi keburukan lawan-lawanmu dengan alasan demi melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan menggodamu untuk memecah belah jama’ah dengan alasan lantang menyuarakan kebenaran..
وَيُغْرِيْكَ بِتَرْكِ إِصْلاَحِ النَّاسِ عَنْ طَرِيْقِ الاِشْتِغَالِ بِإِصْلاَحِ نَفْسِكَ.. وَيُغْرِيْكَ بِتَرْكِ الْعَمَلِ عَنْ طَرِيْقِ الْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ.. Dan menggodamu agar tidak memperbaiki orang lain dengan alasan sibuk memperbaiki diri sendiri dan menggodamu untuk tidak beramal dengan alasan ini sudah menjadi takdir..
وَيُغْرِيْكَ بِتَرْكِ الْعِلْمِ عَنْ طَرِيْقِ الاِنْشِغَالِ بِالْعِبَادَةِ.. وَيُغْرِيْكَ بِتَرْكِ السُّنَّةِ عَنْ طَرِيْقِ اِتِّبَاعِ الصَّالِحِيْنَ.. Dan menggodamu untuk tidak menuntut ilmu dengan alasan sibuk beribadah dan menggodamu untuk meninggalkan sunnah dengan alasan mengikuti orang-orang shalih..
وَيُغْرِيْكَ بِالاِسْتِبْدَادِ عَنْ طَرِيْقِ الْمَسْؤُوْلِيَّةِ أَمَامَ اللهِ وَالتَّارِيْخِ.. وَيُغْرِيْكَ بِالظُّلْمِ عَنْ طَرِيْقِ الرَّحْمَةِ بِالْمَظْلُوْمِيْنَ.. Dan menggodamu agar otoriter dengan alasan demi tanggung jawab di hadapan Allah dan sejarah dan menggodamu untuk berbuat zhalim dengan alasan demi memberikan kasih sayang kepada mereka yang terzhalimi..
يَقُوْلُ مُصْطَفَى اَلسِّبَاعِيُّ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ DR. Musthafa As-Siba’i rahimahullah berkata:
إِنِّيْ لاَ أَخْشَى عَلَى نَفْسِيْ أَنْ يُغْرِيْنِي الشَّيْطَانُ بِالْمَعْصِيَةِ مُكَاشَفَةً.. وَلَكِنَّيْ أَخْشَى أَنْ يَأْتِيَنِيْ بِهَا مُلَفَّعَةً بِثَوْبٍ مِنَ الطَّاعَةِ.. Saya tidak mengkhawatirkan diriku digoda oleh setan melalui maksiat secara terbuka… akan tetapi saya khawatir setan datang kepadaku dengan membawa maksiat yang dibungkus dengan baju ketaatan..
يُغْرِيْكَ الشَّيْطَانُ بِالْمَرْأَةِ عَنْ طَرِيْقِ الرَّحْمَةِ بِهَا.. وَيُغْرِيْكَ بِالدُّنْيَا عَنْ طَرِيْقِ الْحَيْطَةِ مِنْ تَقَلُّبَاتِهَا.. Setan menggodamu dengan wanita dengan alasan kasihan kepadanya … dan menggodamu dengan dunia dengan alasan agar tidak menjadi korban gonjang-ganjingnya..
وَيُغْرِيْكَ بِمُصَاحَبَةِ الأَشْرَارِ عَنْ طَرِيْقِ اْلأَمَلِ فِيْ هِدَايَتِهِمْ.. وَيُغْرِيْكَ بِالنِّفَاقِ لِلظَّالِمِيْنَ عَنْ طَرِيْقِ الرَّغْبَةِ فِيْ تَوْجِيْهِهِمْ.. Dan menggodamu untuk berkawan dengan orang-orang buruk dengan alasan demi memberi petunjuk kepada mereka dan menggodamu untuk bersikap munafik kepada orang-orang zhalim dengan alasan ingin mengarahkan mereka..
وَيُغْرِيْكَ بِالتَّشْهِيْرِ بِخُصُوْمِكَ عَنْ طَرِيْقِ اْلأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ.. وَيُغْرِيْكَ بِتَصْدِيْعِ وِحْدَةِ الْجَمَاعَةِ عَنْ طَرِيْقِ الْجَهْرِ بِالْحَقِّ.. Dan menggodamu untuk mempublikasi keburukan lawan-lawanmu dengan alasan demi melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan menggodamu untuk memecah belah jama’ah dengan alasan lantang menyuarakan kebenaran..
وَيُغْرِيْكَ بِتَرْكِ إِصْلاَحِ النَّاسِ عَنْ طَرِيْقِ الاِشْتِغَالِ بِإِصْلاَحِ نَفْسِكَ.. وَيُغْرِيْكَ بِتَرْكِ الْعَمَلِ عَنْ طَرِيْقِ الْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ.. Dan menggodamu agar tidak memperbaiki orang lain dengan alasan sibuk memperbaiki diri sendiri dan menggodamu untuk tidak beramal dengan alasan ini sudah menjadi takdir..
وَيُغْرِيْكَ بِتَرْكِ الْعِلْمِ عَنْ طَرِيْقِ الاِنْشِغَالِ بِالْعِبَادَةِ.. وَيُغْرِيْكَ بِتَرْكِ السُّنَّةِ عَنْ طَرِيْقِ اِتِّبَاعِ الصَّالِحِيْنَ.. Dan menggodamu untuk tidak menuntut ilmu dengan alasan sibuk beribadah dan menggodamu untuk meninggalkan sunnah dengan alasan mengikuti orang-orang shalih..
وَيُغْرِيْكَ بِالاِسْتِبْدَادِ عَنْ طَرِيْقِ الْمَسْؤُوْلِيَّةِ أَمَامَ اللهِ وَالتَّارِيْخِ.. وَيُغْرِيْكَ بِالظُّلْمِ عَنْ طَرِيْقِ الرَّحْمَةِ بِالْمَظْلُوْمِيْنَ.. Dan menggodamu agar otoriter dengan alasan demi tanggung jawab di hadapan Allah dan sejarah dan menggodamu untuk berbuat zhalim dengan alasan demi memberikan kasih sayang kepada mereka yang terzhalimi..
Kami datang
ya.. kami datang
kami datang tidak ingin mendapatkan
tapi kami datang ingin memberi
bukan untuk mendapatkan simpati
apalagi perhiasan dunia yang mencerai hati
kami datang tidak hanya untuk pertisipasi
tapi kami ingin berkontribusi
kami datang karena maslahat mereka
bukan hanya maslahat kami
kami datang untuk mengangkat agama ini
meski Allah tidak kurang kuasa dengan tidak datangnya kami
bukan malah menjatuh azzam sampai mati
karena kami tahu...
dengan disini
kami berharap janji yang pasti
dari Dia yang tidak pernah ingkar janji
dari Dia yang selalu menepati
dari Dia yang kami cintai
karena Dia... kami datang
(Farrosih)
kami datang tidak ingin mendapatkan
tapi kami datang ingin memberi
bukan untuk mendapatkan simpati
apalagi perhiasan dunia yang mencerai hati
kami datang tidak hanya untuk pertisipasi
tapi kami ingin berkontribusi
kami datang karena maslahat mereka
bukan hanya maslahat kami
kami datang untuk mengangkat agama ini
meski Allah tidak kurang kuasa dengan tidak datangnya kami
bukan malah menjatuh azzam sampai mati
karena kami tahu...
dengan disini
kami berharap janji yang pasti
dari Dia yang tidak pernah ingkar janji
dari Dia yang selalu menepati
dari Dia yang kami cintai
karena Dia... kami datang
(Farrosih)
Kalau tidak
Sibukkanlah diri dalam perkara-perkara besar, kalau tidak anda pun akan disibukkan dengan perkara-perkara kecil.
Sibukkanlah diri dalam perbuatan yang bermanfaat kalau tidak Anda akan di sibukkan dengan perbuatan yang tidak bermanfaat.
Gunakanlah waktu Anda untuk beribadah di jalan Allah, kalau tidak waktu Anda pun suatu saat akan habis, tapi tidak untuk ibadah di jalan Allah.
Gunakanlah tenaga Anda untuk berjuang di jalan Allah, kalau tidak tenaga Anda pun suatu saat akan habis tapi tidak untuk berjuang di jalan Allah.
Infakkanlah sebagian harta Anda sebagai tabungan di akhirat kelak, kalau tidak harta anda pun suatu saat akan habis, tapi Anda tidak punya tabungan di akhirat kelak.
Matilah kita semua dalam taat kepada Allah, kalau tidak suatu saat pun kita pasti akan mati tapi tidak dalam taat pada Allah.
Sibukkanlah diri dalam perbuatan yang bermanfaat kalau tidak Anda akan di sibukkan dengan perbuatan yang tidak bermanfaat.
Gunakanlah waktu Anda untuk beribadah di jalan Allah, kalau tidak waktu Anda pun suatu saat akan habis, tapi tidak untuk ibadah di jalan Allah.
Gunakanlah tenaga Anda untuk berjuang di jalan Allah, kalau tidak tenaga Anda pun suatu saat akan habis tapi tidak untuk berjuang di jalan Allah.
Infakkanlah sebagian harta Anda sebagai tabungan di akhirat kelak, kalau tidak harta anda pun suatu saat akan habis, tapi Anda tidak punya tabungan di akhirat kelak.
Matilah kita semua dalam taat kepada Allah, kalau tidak suatu saat pun kita pasti akan mati tapi tidak dalam taat pada Allah.
Dibaliknya
Suatu hari si “bahagia” datang kepada “kecewa”
Bertanya akan kabar darinya. Lalu si “kecewa” menjawab
“Aku baik-baik saja”. Si “bahagia” ragu dengan jawaban itu, lalu ditanyanya pula “mengapa ada kecewa yang baik-baik saja?”. Lalu di jawab oleh “kecewa”, “karena kecewa adalah bagian dari “bahagia”, karena semakin kecewa ia maka semakin terasa makna bahagia. Seketika itu si “bahagia” kecewa dengannya. (Farrosih)
Bertanya akan kabar darinya. Lalu si “kecewa” menjawab
“Aku baik-baik saja”. Si “bahagia” ragu dengan jawaban itu, lalu ditanyanya pula “mengapa ada kecewa yang baik-baik saja?”. Lalu di jawab oleh “kecewa”, “karena kecewa adalah bagian dari “bahagia”, karena semakin kecewa ia maka semakin terasa makna bahagia. Seketika itu si “bahagia” kecewa dengannya. (Farrosih)

Wahai takdirku...
Sebentar lagi bulan akan tenggelam
Dan akan berlutut dikaki pagi
Bila mentari telah benar-benar terbit ditimur sana
Maka sebelumnya mari...
Kita persiang malam dengan do'a,
Do'a yang berlayangan
Tangan yang merekah
Hati yang tertunduk
Kalau harus menangis... Maka menangislah !!
Biarkan air mata itu jatuh membasahi bumi
Karena nanti bunga yang ada ditaman hati akan tersenyum mekar
Dan pinta diatas puja adalah benar pinta bukan dusta
Hingga penduduk langit ikut membantu
Merayu Dia supaya rindu adalah benar
Supaya sayang adalah benar
Supaya cinta adalah benar
Pintakan untukku
Supaya lurus...
Selalu iman
Supaya kuat...
Selalu mampu bertahan
Karena lemah yang begitu menyelimut
Karena dosa yang tak bersebut
Duhai takdirku...
Sambutlah tangan ini
Bersama kita tuju yang kita nanti
Yang menjadi bara dalam api aktifitas
Yang menjadi sinar dalam gelap rutinitas
(terimakasih telah menjadi istriku)
Akhi tersayang...
akhi tersayang... ternayata banyak cara bagi Allah memuliakan hambaNya, tepat saat-saat di 10 malam terakhirNya di bulan ramadhan yang penuh keberkahan ini Allah memanggilmu untuk selamanya sepulang mengisi acara ifthor mahasiswa pasca sarjana, melalui takdirNya yang sempurna yang hanya Dia yang mengetahui rahasianya, kecelakaan itu hanya perantara saja dari kehendakNya, Allah tlah menetapkan semuanya, termasuk kapan kita harus bertemu denganNya. akhi... padahal beberapa hari lalu dalam obrolan panjang ditelephone kita telah berjanji untuk bertemu di Samarinda pada tanggal 4 oktober, Yogyakarta adalah daerah terakhirmu membersamai dunia yang fana ini, ternyata Allah lebih menyayangimu daripada kami akh, karena cintaNya kaupun dipanggilNya, meski tak kuasa kutahan airmata ini, kenangan persahabatan sejati dijalan Allah tak akan pernah kulupa selamanya. kami tahu perjalananmu dibumi keraton adalah untuk dakwah, kami tahu kalau misimu untuk memuliakan agama Allah sekembalinya nanti dengan bidang ilmu yang kau pelajari, kami menginspirasimu dan akan melanjutkan perjuangan itu.
wahai akhi tersayang.. selamat jalan, selamat bertemu Allah SWT, selamat tinggal wahai pejuang, meski selamanya kita tak akan bertemu lagi, semoga di 'disana' ditempat yang hanya Allah yang mengetahuinya kita dikumpulkan oleh Allah dalam keridhoan yang menjadi asbab cinta persahabatan kita selama ini. dan semoga Allah mengkaruniakan pahala syahid untukmu
akhi Sujarno.. selamat jalan
Ya Allah.. sabarkan keluarganya, muliakan siapapun yang pernah mencintainya...
"Jangan pernah surutkan semangatmu untuk terus berjuang... Jalan dakwah ini masih panjang..." (Sujarno)
Farrosih
Malam di "Lailatul Khatibah"

Malam di Lailatul Khatibah
Menyeksamai pesan nubuwwah
Dari para pengemban risalah
Pesannya “antum harus tabah”
Pintanya “antum harus qonaah”
Serunya “antum harus istiqomah”
Ibanya “teruslah berdakwah”
Menerawang membaca rahasia tsiqoh
Pengalaman yang akan menjadi petuah
Guru yang akan menjadi qudwah
Suatu hari nanti saat membersamai masalah
Dengannya semoga kami tidak kalah
Semua tergantung Rahmat Ilallah
Terimakasih ustadz, Ana uhibbukum fillah
Doakan kami tetap kokoh dalam tarbiyah
Doakan kami agar selalu dibimbing hidayah
Doakan kami menjadi hamba yang amanah
Diantara lemah kaki kami melangkah
Ditengah tetes demi tetes air mata resah
Thursday, August 07th 2009
Farrosih, Al Hamra
Rahasia dua lelaki
dari balik tabir, kudengarkan wanita itu bicara
mengisahkan pengalaman yang akan menjadi guru
***
“aku bertemu dua lelaki”, dia memulai cerita
dengan suara lembut, riang, sekaligus sendu
aku menerka demikian pula wajahnya
“kurasa dua-duanya mampu membuatku tak bisa menolak
jika mereka punya kehendak”
“oh ya?”, kudengarkan sambil dalam hati mengucap “Rabbi..”
***
“lelaki pertama berparas titisan yusuf,
hartanya warisan sulaiman, gagahnya serupa musa”
wanita itu berhenti, sejenak menghela nafasnya
aku menggigit bibir dan mendalamkan tundukku
***
“dan tahukah kau”, suaranya cekat kini,
“setelah bicara padanya, aku pulang terpesona
merasa telah berjumpa dengan lelaki paling rupawan
bercakap dengan insan paling bijaksana”
***
aku tak ingin tahu lebih banyak,
jadi kutanyakan padanya tentang lelaki kedua
dan sepertinya dia tersenyum
***
“seusai berbincang dengan lelaki kedua”, katanya
“aku pulang dengan bahagia, merasa penuh pesona
merasa menjadi wanita paling jelita
merasa diriku perempuan paling cendikia”
***
“jadi di antara mereka”, tanyaku sambil mengepalkan jemari
“siapa yang lebih tampan, siapa yang lebih mengagumkan?”
kurasa dia tersenyum lagi, menertawakanku barangkali
“laki- laki pertama lebih mencintai dirinya sendiri
dia bersukacita saat menebarkan pesona
dia bahagia ketika banyak hati memujanya”
***
“laki-laki kedua mempesona bukan karena dirinya
daya pikatnya ada pada perhatiannya, yang membuatku
merasa ada, merasa bermakna, merasa berharga”
***
“jadi”, aku menyimpulkan perlahan, “kaumemilih yang kedua?”
dia tersenyum lagi, “aku telah mendapatkan yang ketiga”
“laki-laki suci; yang memuliakanku dengan menikahiku
dia menjaga kesuciannya dengan pernikahan
dia menjaga pernikahannya dengan kesucian
dia berupaya untuk mempunya pesona lelaki pertama, tanpa mengumbarnya
dia belajar memiliki pesona lelaki kedua, untuk mengagungkan isterinya
meski jauh dari sempurna dia mengingatkanku pada sabda Sang Nabi;
sebaik-baik lelaki adalah yang paling memuliakan perempuan”
Taken from: http://fillah.co.cc
mengisahkan pengalaman yang akan menjadi guru
***
“aku bertemu dua lelaki”, dia memulai cerita
dengan suara lembut, riang, sekaligus sendu
aku menerka demikian pula wajahnya
“kurasa dua-duanya mampu membuatku tak bisa menolak
jika mereka punya kehendak”
“oh ya?”, kudengarkan sambil dalam hati mengucap “Rabbi..”
***
“lelaki pertama berparas titisan yusuf,
hartanya warisan sulaiman, gagahnya serupa musa”
wanita itu berhenti, sejenak menghela nafasnya
aku menggigit bibir dan mendalamkan tundukku
***
“dan tahukah kau”, suaranya cekat kini,
“setelah bicara padanya, aku pulang terpesona
merasa telah berjumpa dengan lelaki paling rupawan
bercakap dengan insan paling bijaksana”
***
aku tak ingin tahu lebih banyak,
jadi kutanyakan padanya tentang lelaki kedua
dan sepertinya dia tersenyum
***
“seusai berbincang dengan lelaki kedua”, katanya
“aku pulang dengan bahagia, merasa penuh pesona
merasa menjadi wanita paling jelita
merasa diriku perempuan paling cendikia”
***
“jadi di antara mereka”, tanyaku sambil mengepalkan jemari
“siapa yang lebih tampan, siapa yang lebih mengagumkan?”
kurasa dia tersenyum lagi, menertawakanku barangkali
“laki- laki pertama lebih mencintai dirinya sendiri
dia bersukacita saat menebarkan pesona
dia bahagia ketika banyak hati memujanya”
***
“laki-laki kedua mempesona bukan karena dirinya
daya pikatnya ada pada perhatiannya, yang membuatku
merasa ada, merasa bermakna, merasa berharga”
***
“jadi”, aku menyimpulkan perlahan, “kaumemilih yang kedua?”
dia tersenyum lagi, “aku telah mendapatkan yang ketiga”
“laki-laki suci; yang memuliakanku dengan menikahiku
dia menjaga kesuciannya dengan pernikahan
dia menjaga pernikahannya dengan kesucian
dia berupaya untuk mempunya pesona lelaki pertama, tanpa mengumbarnya
dia belajar memiliki pesona lelaki kedua, untuk mengagungkan isterinya
meski jauh dari sempurna dia mengingatkanku pada sabda Sang Nabi;
sebaik-baik lelaki adalah yang paling memuliakan perempuan”
Taken from: http://fillah.co.cc
Tulang rusuk, perumpamaan

Telaah madah
Dalam kensunyian ramai, menelaah panjang diawal pagi, kucoba berdiam menyeksamai persoalan romantika "benarkah siti hawa tercipta dari tulang rusuk nabi Adam?", kabar yang berlayangan hingga hinggap dibenak setelah seorang penulis yang berasal dari Kota Samarinda* yang tulisannya banyak menelaah tentang perbandingan agama mengatakan tepat dihadapanku "ternyata pemahaman bahwa siti hawa diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam adalah pemahaman umat Yahudi yang berasal dari Taurat", benarkah? mari seksamai tulisan berikut, insyaAllah membawa kebaikan.
Berfirman Allah swt
"dan berkata Kami: Wahai Adam! tinggallah engkau dan istri engkau ditaman ini, dan makanlah berdua daripadanya dengan sukamu berdua, dan janganlah kamu berdua mendekat pohon ini, karena (kalau mendekat) akan jadilah kamu berdua dari orang orang yang aniaya" (Q.S. 2:35)
setelah lepas dari ujian tentang nama nama ilmu yang diajarkan oleh Allah dan lulus ujian ini melebihi Malaikat, setelah lepas dari ujian kepada Malaikat yang diperintahkan sujud, dan sujud semua kecuali Iblis, barulah Adam disuruh berdiam didalam taman itu bersama istrinya. Dalam ayat ini keberadaan istri nabi adam telah ada dijadikan oleh Allah, yang namanya telah diketahui oleh ketiga agama, Islam, yahudi dan nasrani, yang tersebut dengan nama HAWA. namun tidak dijelaskan dalam ayat ini asal kejadian itu (bahwa hawa tercipta dari tulang rusuk nabi Adam) dan tidak pula diterangkan dalam ayat yang lain. Bagi orang yahudi dan nasrani, berdasar pada Kitab Perjanjian Lama (Kejadian, pasal 2 ayat 20 s/d 24) mempunyai kepercayaan bahwa, Hawa itu dijadikan Tuhan dari tulang rusuk nabi Adam, yang dicabut tulang rusuknya saat dia sedang tertidur, lalu diciptakan menjadi perempuan untuk dijadikan istrinya.
Didalam islam kepercayaan yang umum tentang Hawa terjadi dari tulang rusuk nabi Adam itu, bukanlah karena percaya kepada kitab kejadian pasal 2 tersebut, karena nabi saw telah memberi ingat bahwa kitab-kitab taurat yang sekarang ini tidaklah asli lagi, sudah banyak catatan manusia dan manusianya itu tidak terang siapa orangnya. bahkan naskah aslinya hingga sekarang tidak ada. hal ini diakui sendiri oleh orang yahudi dan nasrani. Akan tetapi nabi saw sendiri pernah bersabda, ketika beliau mengingatkan laki-laki terhadap perangai dan tabiat perempuan, agar supaya pandai-pandai membimbingnya. Maka tersebutlah dalam sebuah hadis yang drawikan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah, beliau bersabda:
"Peliharalah perempuan-perempuan itu sebaik baiknya, karena sesungguhnya perempuan dijadikan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya yang paling bengkok dari tulang rusuk itu, ialah sebelah atasnya. Maka jika engkau coba meluruskannya niscaya engkau patahkan dia. Dan jika engkau tinggalkan saja dia akan tetap bengkok. sebab itu peliharalah (jagalah) perempuan itu baik-baik"
Pabila kita menyeksamai hadist diatas, tidaklah ia dapat dijadkan alasan bahwa perempuan, terutama siti hawa, terjadi daripada tulang rusuk nabi Adam. yang menjadi maksud hadist ini adalah membuat perumpamaan dari bengkok atau bengkoknya jiwa perempuan, sehingga sulit membentuknya, sama keadaannya dengan tulang rusuk, dan kaidah tulang rusuk adalah tidak bisa dipaksa-paksa, karena ia akan patah. Bila dibiarkan saja dan tidak sabar menghadapinya, ia akan semakin bengkok. Didalam hadist shahih bukhori Muslim yang lain juga diterangkan, nabi saw bersabda
"Perempuan itu adalah seperti tulang rusuk, jika engkau coba meluruskannya diapun patuh. Dan jika engkau bersuka-sukaan dengan dia, maka bersuka-suka juga engkau, namun dia tetap bengkok"
dari riwayat Imam Muslim, Nabi saw bersabda
"sesungguhnya perempuan itu dijadikan dari tulang rusuk, dia tidak akan dapat lurus untuk engkau atas suatu jalan. jika engkau mengambil kesenangan dengan dia, namun dia tetap bengkok, dan jika engkau coba meluruskannya, niscaya engkau mematahkannya. patahnya itu talaknya"
Pada hadits pertama sudah nyata tidak ada tersebut bahwa Hawa terjadi dari tulang rusuk Adam. Pada hadits yang kedua sudah jelas lagi bahwa itu hanya perumpamaan. Hadits yang ketiga menjadi lebih jelas karena telah ada hadits yang kedua, bahwa itu adalah perumpamaan. Hadits yang ketiga menambah jelas kalau laki-laki tidak berhati-hati membimbing istrinya dan bersikap keras terhadapnya maka talaklah yang terjadi dan patah aranglah bahtera rumah tangga.
Memang ada tersebut dalam sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, al Baihaqi dan Ibnu 'Asakir, yaitu perkataan dari Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud dan beberapa orang dari kalangan sahabat-sahabat Rasulullah saw, mereka berkata:
"Tatkala Adam telah berdiam didalam syurga itu, berjalanlah dia seorang diri dalam kesepian, tidak ada pasangan (istri) yang akan menentramkannya. Maka tidurlah dia, lalu dia bangun. Tiba -tiba disisi kepalanya seorang perempuan sedang duduk, yangtelah dijadikan Allah daripada tulang rusuknya"
Rwayat itu sudah jelas bukanlah sabda Rasulullah Saw melainkan perkatan Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Mas'ud. Oleh karena riwayat ini adalah perkataan sahabi, maka nilainya untuk dipegang sebagai suatu aqidah tidak sama lagi dengan hadits yang shahih dari Nabi, apatah lagi dengan Al qur'an. Besar kemungkinan perkataan kedua shabat itu terpengaruh oleh berita berita orang yahudi yang ada di Madinah saat itu, yang berpegang kepada isi kitab kejadian pasal 2 ayat 21 "maka didatangkan Tuhan Allah kepada Adam itu tidur yang lelap, lalu tidurlah ia, maka diambil Allah tulang ditutupkannya pula degan daging. Maka dari tulang yang telah dikeluarkan dari dalam Adam itu, diperbuat Tuhan seorang perempuan, lalu dibawakan kepada Adam"
Rasul memberikan pedoman kepada para sahabat dalam hal menilai berita yang disampaikan ahlul kitab,
"dan telah mengeluarkan bukhori daripada hadits abu hurairah, kata Abu Hurairah itu: adalah ahlu kitab itu membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan mereka tafsirkan dia kedalam bahasa arab untuk orang orang Islam. Maka berkatalah Rasulullah saw: Janganlah kamu langsung membenarkan ahlul kitab itu dan jangan pula langsng kamu dustakan, tetapi katakanlah: Kami beriman kepada Allah"
Berdasar dari hadits ini jadi besarlah kemungkinan bahwa siti hawa terjadi dari tulang rusuk nabi Adam yang diberikan ibu abbas dan ibnu mas'ud ini didengar mereka dari Taurat yang dibacakan ahlul kitab itu, lalu mereka terima saja sebagaimana adanya sebagai suatu fakta yang mereka terima, yang boleh diolah dan diselidiki. Maka darik hal itu pula, tidaklah salah kalau ada orang yang tidak memgang teguh i'tikat bahwasanya hawa terjadi daripada tulang rusuk nabi Adam, sebab tidak firman Allah dalam al qur'an dan tidak ada sabda nabi yang menerangkan akan hal itu. Yang ada hanya berita atau penafsiran dari Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Mas'ud yang besar kemungkinan mereka mendengar dari dari orang Yahudi.
Dan hadits bukhori dan Muslim yang tiga diatas kita terima dan kita amalkan dengan segala kerendahan hati, untuk pedoman menghadapi kaum wanita, sebagai teman hidup laki laki di dunia ini. apatah lagi dikuatkan dengan hadits berikut, nabi saw bersabda,
"Peliharalah perempuan itu sebaik baiknya, karena kamu telah mengambilnya dengan amanat dari Allah, dan kamu halalkan kehormatan mereka dengan kalimat kalimat Allah"
Syeikh Muhammad Abduh dalam pelajaran tafsrinya, yang dicatat oleh muridnya Sayid Muhammad Rasyid Ridho dalam tafsirnya al manar menyatakan pula pendapat hadits yang mengatakan perempuan terjadi dari tulang rusuk itu bukanlah benar benar tulang rusuk, melainkan suatu kias perumpamaan belaka, sebagaimana contoh lain dalam al quran surah 21 ayat 27 "telah dijadikan manusia itu dari sifat terburu buru". dan benar atau tidaknya riwayat siti hawa terjadi daripada tulang rusuk nabi Adam, namun demikian istri tidaklah terjadi dari tulang rusuk suaminya.
Tulang rusuk, sebuah Perumpamaan
Maka begitulah tulang rusuk yang harus diakui oleh wanita, suka ataupun tidak. Untuk pmebahasan laki laki karena bab pembahasannya akan berbeda. Dalam dunia rumah tangga manakala seorang suami tidak mengenal bengkoknya jiwa istri ini, lalu bersikap keras maka perceraianlah yang akan terjadi, sehingga pabila terdapat sesuatu kekurangan difihak istri agar tidak tergesa gesa menjatuhkan talak, sebab hadits diatas memberikan tuntunan yang sangat dalam. Fahamilah bahwa "Tidak ada lesung yang tidak berdetak", "tidak ada gading yang tidak retak", tidak ada seorang perempuanpun dimuka bumi ini yang sunyi dari kelemahan jiwa demikian, demikian pula para lelaki. Tetapi laki laki atau suami yang memegang ketiga hadits diatas ditambah hadits yang ke empat akan sanggup hidup rukun dengan istrinya dalam irama rumah tangga yang kadang kadang gembira juga kadang kadang muram. Hal itu sangat diperlukan mengingat seorang laki-laki atau suami juga akan menghadapi wanita wanita diluar istrinya, disana ada adik perempuannya, disana ada anak anak perempuannya, dsb. wallahu'alam bis showaf
Farrosih
Referensi: Tafsir Al Azhar, Buya Hamka
aku merindukanmu

telah lama aku menunggu
perjumpaan disuatu senja
saat lengkingan takbir bergemuruh
menanda saat berlepas dahaga
tak kuat lagi kupendam
rasa ingin membersama
saat tidurnya menuai pahala
saat sedikitnya berpesan barokah
kupejam mata ini
kudiamkam sejenak hati ini
kuperkuat kerinduan ini
kuperpanjang azzam di hati
menyeksamai perjumpaan hari
dimana sang Perkasa menutup rapat pintu neraka
dimana sang Penguasa membuka lebar pintu syurga
syahrut taubah
syahrut tarbiyah
satu bulan berhadap sebelas nya
berbekal untuk menghadapinya
ramadhan...
ramadhan...
aku rinduimu
kalau memang benar
ini ramadhanku yang terakhir
maka beri kesempatan aku menyempurnakannya
Farrosih
Dakwah ini mengajarkan kami

Dakwah ini mengajarkan kami,
Saat kami terlelah,
Saat aktifitas yang bergelombang disetiap jam berputar menjadikan kaki lemah ini terasa nyilu, namun disaat itu pula berlayangan dalam benak hati terdalam kami bahwa tak seberapanya pengorbanan yang kami berikan, bahkan tak layak dibandingkan sebagaimana rasul beserta sahabat dahulu yang bukan hanya terlelah bahkan terancam, tersakiti, tertindas dalam dakwahnya, namun semua itu ia hadapai bak teguh gunung yang menjulang perkasa. Adalah dakwah yang menginspirasi kami bahwa "biarlah kelelahan itu yang merasa kelelahan mengejar ngejar kami" sampai suatu hari allah takdirkan tempat terbaik yang dijanjikan. Dakwah ini mengajarkan kepada kami bahwa balasan kebaikan yang allah berikan berbanding lurus dengan kadar kelelahan yang dikerjakan, maka bukanlah kelelahan yang menjadi ketakutan kami namun saat niatan yang tidak berorientasikan allah membersamai langkah ini mendominasi disetiap detik irama nadanya.
Dakwah ini mengajarkan kami,
Saat kami diuji ketahanan,
Saat dunia menawarkan keelokan sutra bertabur mutiara indah bermandikan kesilauan, saat satu persatu aktivis dakwah perlahan mundur karena kecewa atau tidak bisa menerima, atau perlahan idealisme itu berhamburan, berlayangan tak karuan hingga tak bisa membedakan apakah ini baik, syubhat atau tidak, seolah telah melupakan bahwa berkumpulnya kita di sini karena allah yang menjadikan dakwah ini sebaik baik aktifitas. "tertahan menjadi terasing, tetap disini menjadi diprasangkai, menjaga idealisme dengan hijab dikata idealis dan bukan zamannya". Tapi kami berazzam selama matahari masih terbit disisi timur dunia, dan rembulan masih bersinar terang, kami tlah berikrar bahwa pertemuan dan perpisahan adalah semua oleh karena allah, membenci dan mencintai adalah semua oleh karena allah, asal kami tetap disini bertahan dengan amal amal yang diridhoinya.
Dakwah ini mengajarkan kami,
Saat kami diperintah,
Saat seruan itu hampir disetiap harinya mengisi dan mendominasi disetiap inbox pesan di hp kami, ternyata dakwah ini mengajarkan kami, bahwa disana ana pahala, disana ada kerjasama, disana ada barokahnya bekerja, kami yakini bahwa ini bukan dalam konteks "sapi perah" karena kami lihat disana ada sang pengirim pesan sedang juga membersamainya.
Dakwah ini mengajarkan kami,
Saat hati bergejolak,
Saat sang waktu tidak cukup bijak mengejar terus menerus usia yang tak terasa melebihi angka dewasa, ada sebenih titik kehampaan karena berjalan seorang, dibalik sujud kami berkata "robb.. Diamkan hati ini, jangan biarkan ia mengambil menguras sebagian besar waktu kami, amal kami, ukhwah kami baik ukhwah kawan maupun jamaah", suatu perasaan yang sulit ditafsir tapi teramat mudah ditebak. Sekali lagi dakwah mengajarkan kami untuk bersabar dalam penantian.
Dakwah ini mengajarkan kami,
Saat cinta datang menghampiri,
Saat perasaan itu berlayangan dan bergantungan dikolong langit, saat menyeksamai sekumpulan mereka yang tidak lagi menjaga pandangan, berdalih "saya tidak menatap orangnya, tapi hanya fotonya, boleh kan? " sekali lagi dakwah mengajarkan kami untuk selalu mengedepankan husnudzon, dakwah ini mengajarkan kami bahwa ikrar kami adalah "cinta ini hanya untuk allah", "cinta ini untuk rasul allah", "cinta ini untuk orang-orang yang selalu memuji allah dalam syair cintanya", "cinta ini untuk mereka yang cinta pada allah". Meski tak dipungkiri kitalah manusia itu dengan aksesoris kelemahan dan kealpaan, menengadah berharap cinta itu bermuara kepada orang yang diridhoi diin dan akhlaqnya.. Siapapun mereka...
Dakwah ini mengajarkan kami,
Saat berumah tangga,
Bahwa kapal yang berlayar adalah kapal yang berani berhadap ombak, berani berhadap gelombang, berani berhadap karang, berani berhadap badai menghantam membersamai luas dan dalamnya lautan. Berharap suatu hari nanti kami bisa mendarat dipesisir syurga bersama dalam perjuangan menghadapi kenyataan hidup yang sesungguhnya.
Dakwah ini mengajarkan kami,
Saat menghadapi masalah,
Saat satu persatu ujian demi ujian itu hinggap membersamai kenyataan hidup berbumbu tangis beraroma kesedihan yang entah oleh sebab sukar ataupun senang. Kami diajarkan oleh dakwah, bahwa yang menjadi permasalahan bukan terletak pada apa itu masalah, tapi sikap dalam menghadapi permasalahan itulah sesungguhnya yang sering menjadi masalah, selama allah yang menjadi tujuan, allah yang menjadi asbab, allah yang menjadi tempat cucuran perasaan, maka selama itu pula semua masalah akan menjadi barokah dan akan menempa kami untuk semakin berani mencari solusi
Dakwah ini mengajarkan kami,
Saat tua nanti, saat kami tidak pernah menyesal telah ada dan akan selalu ada bersama dan membersamai dakwah yang telah mengajarkan kami untuk menyeksamainya hingga ajal menjemput. Nahnu duat qobla kullai syai'.
”orang yang gagal sebenarnya bukan orang yang tidak bisa, tapi kebanyakan orang yang gagal adalah mereka yang tidak bisa menyalakan apai kecil dalam dadanya, dan api kecil itu bernama semangat"
Oleh karena itu wahai diri, semangatlah mengejar impian dakwah kita, buang jauh prasangka negatif, singkirkan keragu raguan, enyahkan syetan dari dalam dada kita, usir ia dari setiap aliran nadi darah kita dengan selalu mengingat-nya, sehingga suatu hari nanti kita bisa bertemu dengan allah dalam keadaan allah ridho kepada kita. Wallahu’alam bis showab
Farrosih
Memaknai Luas Samudra

Menelaah seuntai kisah yang tertinggal disekian masa silam menyeksamai kegembiraan yang akan telah berlenggang diantara ramai canda tawa santri santri pesantren Daarut Tauhid. anak putri pertama Aa Gym menggenapkan kesempurnaan separoh agamanya menyelaksai diusia yang semakin dewasa bertemu dengan pangerannya diatas ridho sang ayah. ketika suatu hari ditengah kegembiraan yang berlayangan disebuah daerah yang terletak di Bandung itu, seorang bertanya kepada sang ayah (Aa Gym) tentang apa pesannya pada putrinya yang dipersunting lelaki gagah nan sholeh, sang ayah hanya berpesan "SELAMAT BERJUANG ANAK ANAKKU". Dalam lebatnya hujan akupun berfikir dalam ingatan yang tak mau diam untuk bertanya mengapa pesan sang ayah "selamat berjuang". Ternyata setelah difaham dalam, ditelaah jauh, direnung panjang, mahligai keluarga adalah samudra seni hidup sesungguhnya yang disanalah terletak lukisan peradaban berbumbukan airmata, air mata bahagia juga airmata lainnya. Selamat berjuang adalah simbol pengorbanan, adalah simbol pertempuran, adalah simbol pergolakan, adalah simbol kematangan kala ujian baik senang ataupun tidak terhampar dihadapan. Pesan yang begitu indah mengingat sayang sang Ayah kepada anak-anaknya, bahwa kapal yang berlayar adalah kapal yang berani berhadap ombak, berani berhadap gelombang, berani berhadap karang, berani berhadap badai menghantam membersamai luas dan dalamnya lautan. berharap suatu hari nanti mereka bisa mendarat dipesisir syurga bersama dalam perjuangan menghadapi kenyataan hidup yang sesungguhnya.
“Tak jarang badai yang paling ganas justru semakin mempercepat laju kapal berlayar di tengah laut”
adalah Allah SWT yang Maha mengetahui hajat dan masa belakang maupun depan anak manusia, melukiskan dengan indah menyeksamai makna pesan sang ayah "selamat berjuang". Allah SWT berfirman "apakah kalian mengira akan masuk syurga, padahal Allah belum melihat diantara kalian siapa yang bersungguh-sungguh (berjuang) dan siapa yang bersabar".
Tiada kata bijak seindah hikmah, tiada pesan ikhlas seindah bekal. Maka sahabat, berekallah... karena lautan itu dalam, karena samudra itu luas, yang anginnya kencang dan gelombangnya menghantam. Namun dibalik itu semua ada seuntai harap dalam asa terpendam yang selalu menjadi api kecil dalam dada semangat, menjadi inspirasi memotifasi, kala Allah menjanjikan separoh agama, kala Allah menjanjikan fadhilah, kala Allah menjanjikan ketenangan yang tak bisa diraih selain dengan mengarunginya, mengarungi samudra pernikahan dengan pernak periknya. Berbekallah sebagaimana Rasul berbekal, Berbekallah sebagaimana siti khadijah berbekal, berbekallah sebagimana Ali dipersiapkan, sebagimana Fatimah di bekalkan, menyeksamai Siti Aisyah yang selalu belajar dan belajar.
Percayalah sahabat, mungkin dibalik itu semua tersemat persoalan lain yang sulit tergoreskan tinta, bahwa Allah itu ada dan Ia ada sebelum kata ada itu ada, meski kata ada itu tidak ada, Allah akan selalu ada. Maka yakinilah Ia, bahwa ketika kita semua berada dalam rahim ibu kita, Allah telah menulis semua perkara kita, dari usia, ajal, jodoh, maupun rezeki. Dan semua itu tidak ada yang terlewatkan dan selisih sedikitpun karena Allah maha Latief, Allah Maha 'alim akan hajat hajat kita sebagai manusia, tidak akan bergeser sedikit masapun kala Allah telah menuliskannya, pun seperti ajal, yang tidak bisa maju walau sedetik, dan tak bisa mundur walau sedetikpun juga. Yang menjadi persoalan sekarang adalah "sejauh mana kita bisa mengambil hati Allah SWT, sejarah telah membuktikan bahwa orang-orang shaleh terdahulu adalah mereka yang pandai mengambil hati Rabbnya, dengan merayu sambil menangis, dengan bersembunyi diantara amal amal diamnya, dengan selalu mengingatNya dalam setiap nadi berdetak, sehingga dengan amalnya Allah menjadi senang dan ridho kemudian mentakdirkan sesuatu yang menjadi impiannya, meski hal itu harus tertunda sampai Allah mengisyaratkan syurga padanya.
Sahabat, Selamat Berjuang
Untuk sabatku yang telah dan akan menyempurnakan agamanya.
Farrosih
Aliran sungai hidayah
Ribuan langkah kau tapaki
Plosok negeri kau sambangi
Ribuan langkah kau tapaki
Plosok negeri kau sambangi
Tanpa kenal lelah jemu sampaikan firman Tuhanmu
Tanpa kenal lelah jemu sampaikan firman Tuhanmu
Terik matahari tak surutkan langkahmu
Deru hujan badai tak lunturkan azzammu
Raga kan terluka tak jerikan nyalimu
Fatamorgana dunia tak silaukan pandangmu
Semua makhluk bertasbih
Panjatkan ampun bagimu
Semua makhluk berdoa
Limpahkan rahmat atas Mu
Duhai pewaris nabi duka fana tak berarti
Surga kekal abadi balasan ikhlas di hati
Cerah hati kami kau semai nilai nan suci
Tegak panji ilahi bangkit generasi Rabbani
(Izzatul Islam)
***
Dahulu saat dunia tidak bisa kami lihat dengan kacamata indahnya Islam, hidup seolah perjalanan panjang melelahkan penuh kebimbangan dan jauh akan nilai ketenangan. Saat dimana silau dunia dan hedonisme hinggap hampir disetiap menit perjalanan waktu berputar. Saat ketenangan menjadi barang mahal yang tidak pernah terjual di toko megah manapun, saat kelembutan sangat sulit dijumpai, saat hati begitu hausnya akan kebahagiaan hakiki, namun jua tak kutemui dimana ia tersimpan. Saat itu datang kepada kami seorang biasa yang penuh kebiasaan baik yang menjadi kebiasaan sehari-hari, dengan ikhlas ditangannya, lembut diwajahnya, ringan tangan bantuannya, menjadikannya seorang biasa yang luar biasa karena kebiasaan-kebiasaan baik yang selalu menyertainya, menghulurkan tangannya dengan penuh kasih sayang, merangkul dan mengajarkan sesuatu yang belum pernah kami temui selama ini, yang pada akhirnya kami mengenalnya dengan sebutan Murobbi. Melalui tangannyalah Allah menyalurkan ketenangan demi ketenangan hidayah kepada jiwa kami yang haus, tempat persinggahan yang selama ini kami cari ternyata kami dapat melalui perantaranya.
Andai ada pahala
Kami rela bila itu semua untukmu
Ditegar mata membasahi tanah
Disela waktu sujud istirahatmu
Kami tahu bahwa kau tak lelah
Selalu mendoa di atas pinta
Yang kami tak tahu rahasianya
Mungkin terasing, mungkin terjauh
Namun selalu saja hati yang kau bela
Terimakasih ....
Farrosih
Plosok negeri kau sambangi
Ribuan langkah kau tapaki
Plosok negeri kau sambangi
Tanpa kenal lelah jemu sampaikan firman Tuhanmu
Tanpa kenal lelah jemu sampaikan firman Tuhanmu
Terik matahari tak surutkan langkahmu
Deru hujan badai tak lunturkan azzammu
Raga kan terluka tak jerikan nyalimu
Fatamorgana dunia tak silaukan pandangmu
Semua makhluk bertasbih
Panjatkan ampun bagimu
Semua makhluk berdoa
Limpahkan rahmat atas Mu
Duhai pewaris nabi duka fana tak berarti
Surga kekal abadi balasan ikhlas di hati
Cerah hati kami kau semai nilai nan suci
Tegak panji ilahi bangkit generasi Rabbani
(Izzatul Islam)
***
Dahulu saat dunia tidak bisa kami lihat dengan kacamata indahnya Islam, hidup seolah perjalanan panjang melelahkan penuh kebimbangan dan jauh akan nilai ketenangan. Saat dimana silau dunia dan hedonisme hinggap hampir disetiap menit perjalanan waktu berputar. Saat ketenangan menjadi barang mahal yang tidak pernah terjual di toko megah manapun, saat kelembutan sangat sulit dijumpai, saat hati begitu hausnya akan kebahagiaan hakiki, namun jua tak kutemui dimana ia tersimpan. Saat itu datang kepada kami seorang biasa yang penuh kebiasaan baik yang menjadi kebiasaan sehari-hari, dengan ikhlas ditangannya, lembut diwajahnya, ringan tangan bantuannya, menjadikannya seorang biasa yang luar biasa karena kebiasaan-kebiasaan baik yang selalu menyertainya, menghulurkan tangannya dengan penuh kasih sayang, merangkul dan mengajarkan sesuatu yang belum pernah kami temui selama ini, yang pada akhirnya kami mengenalnya dengan sebutan Murobbi. Melalui tangannyalah Allah menyalurkan ketenangan demi ketenangan hidayah kepada jiwa kami yang haus, tempat persinggahan yang selama ini kami cari ternyata kami dapat melalui perantaranya.
Andai ada pahala
Kami rela bila itu semua untukmu
Ditegar mata membasahi tanah
Disela waktu sujud istirahatmu
Kami tahu bahwa kau tak lelah
Selalu mendoa di atas pinta
Yang kami tak tahu rahasianya
Mungkin terasing, mungkin terjauh
Namun selalu saja hati yang kau bela
Terimakasih ....
Farrosih
Seimbang
Kelembutan
Itulah karakteristik sahabat Rasul, mempesona bak sinar bulat rembulan kala purnama, mampu menyeimbangkan dua sisi yang sebenarnya sulit untuk berpadu. Diantara jurang yang memisahkan makna dan terapannya, Kelembutan dan Ketegasan. Sesekali ia sebegitu lembutnya dalam khusu' ibadah mahdo'nya maupun sunnah hariannya, menangis tersedu-sedu setiap kali ayat itu dibaca dalam sholatnya mengantarkan keraguan pada diri sahabat yang lain apakah ia mampu menggantikan Rasulullah menjadi imam sementara ia selalu terisak menangis dalam sholat setiap kali membaca ayat dalam al quran, begitu mempesonanya kelembutan itu mensejarahi kehidupan manusia. Itulah Sayyidina Abu bakar, menteladaninya adalah selaksa bintang nun jauh bersinar terang disana, namun dekat di sinar hati pengagumnya. Jauh kita berpisah masa namun dekat kala membuka kembali torehan kisahnya. Namun sahabat, meski kelembutannya seperti lembutnya awan, namun pabila "mereka" ingin kembali kebelakang kearah kekafiran sepeninggal Rasulullah kala itu, iapun menjadi sedemikian tegasnya seperti ketegasan panglima perang dalam berkecamuknya medan, bahkan mengalahkan ketegasan sang Umar Bin Khattab, menandakan keteguhan aqidah dan tafahhumnya akan diin ini. sambil berkata "barang siapa yang menyembah Muhammad maka ia telah mati, namun barang siapa yang menyembah Allah, niscaya Allah takkan pernah mati", kemudian membaca ayat dalam Al quran surah ali imran ayat 144. menginsafkan kegalauan dan keprihatinan Umar yang tak mampu membendung air matanya berat, seberat penerimaannya pada takdir akan berakhirnya masa Rasullah menyampaikan Risalah. Pun mengatakan "aku akan memenggal leher mereka yang memisahkan antara kewajiban sholat dan kewajiban berzakat" . Hanya bisa berucap subhanaLLah
Umar, nama itu selalu menjadi bagian penting dalam sejarah ini, sejarah futuhat-futuhat al khoir, sejarah kegemilangan penyebaran diin ini ke seantro bumi. ia dikenal dengan ketegasannya yang sangat kuat, sampai syetanpun takut padanya, ketegasan sikapnya adalah pertanda matangnya diri dalam totalitasnya pada kebenaran, tidak ada abu-abu, hitam adalah hitam, putih adalah putih. Namun sahabat, setegas singa Umar bersikap dalam banyak peristiwa, namun ia tak kalah lembutnya dengan Abu Bakar. Ketika ayat tentang larangan mengeraskan suara dihadapan Rasulullah turun, ia pun menjadi orang yang sangat lembut kala berbicara hingga suaranya lirih hampir tak terdengar kala berhadapan dengan Rasul, kelembutan nya luar biasa pada satu sisi tempatnya. SubhanaLLah, maha suci Allah yang menciptakan karakter, mewarnai indah hidup ini, mempergilirkan masa dengan karakteristiknya masing-masing. Mengajarkan kepada kita semua bahwa, ketegasan itu landasannya adalah Aqidah, kelembutan itu pun landasannya Aqidah. Manakala harus tegas maka kuatkanlah ketegasan dengan landasan yang kuat pula, namun demikian kelembutan yang penuh rasa cinta harus pula menghiasi hidup ini di sepanjang masa hari hari berjalan karena kelembutan adalah cahaya, yang selalu memberikan terang pada gelap yang tak bersinar. Sahabat tawazun adalah kata kuncinya.
Farrosih
Itulah karakteristik sahabat Rasul, mempesona bak sinar bulat rembulan kala purnama, mampu menyeimbangkan dua sisi yang sebenarnya sulit untuk berpadu. Diantara jurang yang memisahkan makna dan terapannya, Kelembutan dan Ketegasan. Sesekali ia sebegitu lembutnya dalam khusu' ibadah mahdo'nya maupun sunnah hariannya, menangis tersedu-sedu setiap kali ayat itu dibaca dalam sholatnya mengantarkan keraguan pada diri sahabat yang lain apakah ia mampu menggantikan Rasulullah menjadi imam sementara ia selalu terisak menangis dalam sholat setiap kali membaca ayat dalam al quran, begitu mempesonanya kelembutan itu mensejarahi kehidupan manusia. Itulah Sayyidina Abu bakar, menteladaninya adalah selaksa bintang nun jauh bersinar terang disana, namun dekat di sinar hati pengagumnya. Jauh kita berpisah masa namun dekat kala membuka kembali torehan kisahnya. Namun sahabat, meski kelembutannya seperti lembutnya awan, namun pabila "mereka" ingin kembali kebelakang kearah kekafiran sepeninggal Rasulullah kala itu, iapun menjadi sedemikian tegasnya seperti ketegasan panglima perang dalam berkecamuknya medan, bahkan mengalahkan ketegasan sang Umar Bin Khattab, menandakan keteguhan aqidah dan tafahhumnya akan diin ini. sambil berkata "barang siapa yang menyembah Muhammad maka ia telah mati, namun barang siapa yang menyembah Allah, niscaya Allah takkan pernah mati", kemudian membaca ayat dalam Al quran surah ali imran ayat 144. menginsafkan kegalauan dan keprihatinan Umar yang tak mampu membendung air matanya berat, seberat penerimaannya pada takdir akan berakhirnya masa Rasullah menyampaikan Risalah. Pun mengatakan "aku akan memenggal leher mereka yang memisahkan antara kewajiban sholat dan kewajiban berzakat" . Hanya bisa berucap subhanaLLah
Umar, nama itu selalu menjadi bagian penting dalam sejarah ini, sejarah futuhat-futuhat al khoir, sejarah kegemilangan penyebaran diin ini ke seantro bumi. ia dikenal dengan ketegasannya yang sangat kuat, sampai syetanpun takut padanya, ketegasan sikapnya adalah pertanda matangnya diri dalam totalitasnya pada kebenaran, tidak ada abu-abu, hitam adalah hitam, putih adalah putih. Namun sahabat, setegas singa Umar bersikap dalam banyak peristiwa, namun ia tak kalah lembutnya dengan Abu Bakar. Ketika ayat tentang larangan mengeraskan suara dihadapan Rasulullah turun, ia pun menjadi orang yang sangat lembut kala berbicara hingga suaranya lirih hampir tak terdengar kala berhadapan dengan Rasul, kelembutan nya luar biasa pada satu sisi tempatnya. SubhanaLLah, maha suci Allah yang menciptakan karakter, mewarnai indah hidup ini, mempergilirkan masa dengan karakteristiknya masing-masing. Mengajarkan kepada kita semua bahwa, ketegasan itu landasannya adalah Aqidah, kelembutan itu pun landasannya Aqidah. Manakala harus tegas maka kuatkanlah ketegasan dengan landasan yang kuat pula, namun demikian kelembutan yang penuh rasa cinta harus pula menghiasi hidup ini di sepanjang masa hari hari berjalan karena kelembutan adalah cahaya, yang selalu memberikan terang pada gelap yang tak bersinar. Sahabat tawazun adalah kata kuncinya.
Farrosih
Berdirilah disitu
Perjalanan dakwah adalah perjalanan yang tidak berbatas hitungan hari, minggu, bulan ataupun tahun. Perjalanan dakwah akan terus berlanjut hingga kalimatullah berhasil ditegakkan meski harus melampaui banyak generasi. Sesungguhnya para mujahid dakwah dalam perjalanannya yang panjang ini akan menghadapi berbagai bentuk tantangan yang semakin berat. Mungkin perlu kita maknai kembali tetes-tetes keringat dan guratan-guratan lelah pada diri kita. Bahwa semua itu adalah prestasi besar yang mengisi instrumen-instrumen penting dari sebuah kata singkat yang tidak sederhana “PERJUANGAN”. Ditengah-tengah kondisi yang semakin berat, sungguh sangat wajar jika beban dakwah semakin meningkat dan wajar pula jika tuntutan kepada para pengembannya semakin lama kian semakin berat.
Sungguh beruntunglah kita bisa menjadi perpanjangan tangan-tangan rasulullah beserta sahabatnya sebagai penyampai risalah islam dan yang lebih membuat kita bersyukur berada dijalan ini adalah kita sama-sama meyakini bahwa Allah lah yang akan kita temui dipenghujung perjalanan ini, disaat beban-beban dakwah terasa berat, disaat pikulan-pikulan amanah kita memuncak, sungguh tidak ada satupun penghibur hati kita kecuali Allah swt, Robbul izzati, yang selama ini menjadi puncak kerinduan kita. Dialah sebaik-baik penghibur hati. Mari sejenak kita renungi ayat ini:
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu “ (Q.S. Fushshilat: 30)
Berbahagialah dengan janji Allah yang amat pasti, janji Allah yang hanya diberikan kepada orang-orang yang terpilih, yakni orang-orang yang ridho diri, harta, bahkan jiwa raga sekalipun dibeli oleh Allah dalam sebuah perniagaan yang teramat mahal harganya. Biarlah tetes-tetes keringat dan setiap air mata yang tercurah disaat kita meretas perjalanan ini menjadi saksi atas kita di yaumil akhir kelak. Biarlah semua itu menjadi transaksi amal kita dengan Allah. Dengan sepenuh keyakinan dan kesabaran dalam ketundukan mari doakan saudara kita agar mereka mampu menangkap ruh perjuangan dakwah dengan nilai-nilai TARBIYAH yang akan memupuk kita menjadi PEMUDA-PEMUDI ROBBANIYAH yang sedang ditunggu-tunggu ummat. Semoga Allah yang maha agung menyatukan hati kita dan menguatkan keshabaran kita dalam setiap putaran dakwah yang kita lalui.
Farrosih
Inilah salah satu taujih yang pertama kali saya dapat saat pertama kali mengenal dakwah di awal awal semester saat di Kampus pada tahun 2002, bersama beberapa sahabat, kami tertatih membangun idealisme secara perlahan dan susah payah, dan kini (2009) idealisme itu benar-benar mendapatkan lawan yang tangguh, karena begitulah yang seharusnya. Namun kami tetap berikrar akan tetap di jalan dakwah ini hingga ajal menjemput, meski harus menjadi golongan yang sedikit, diantara mereka yang jatuh dan terbangun, kami akan tetap memegang janji kami untuk tetap bertahan dalam dakwah ini. Mengapa kami tetap cinta kepada dakwah ini? Karena kami yakin akan janji Allah SWT
Untuk teman-teman angkatan 2001 Universitas Mulawarman Kaltim dimanapun kalian berada. BERTAHANLAH. sampai suatu hari nanti Allah akan membuka tabir rahasiaNya, sehingga tidak akan ada kata sesal saat dahulu kita membersamai dakwah ini.
Akhukum Fillah,
Farrosih
Sungguh beruntunglah kita bisa menjadi perpanjangan tangan-tangan rasulullah beserta sahabatnya sebagai penyampai risalah islam dan yang lebih membuat kita bersyukur berada dijalan ini adalah kita sama-sama meyakini bahwa Allah lah yang akan kita temui dipenghujung perjalanan ini, disaat beban-beban dakwah terasa berat, disaat pikulan-pikulan amanah kita memuncak, sungguh tidak ada satupun penghibur hati kita kecuali Allah swt, Robbul izzati, yang selama ini menjadi puncak kerinduan kita. Dialah sebaik-baik penghibur hati. Mari sejenak kita renungi ayat ini:
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu “ (Q.S. Fushshilat: 30)
Berbahagialah dengan janji Allah yang amat pasti, janji Allah yang hanya diberikan kepada orang-orang yang terpilih, yakni orang-orang yang ridho diri, harta, bahkan jiwa raga sekalipun dibeli oleh Allah dalam sebuah perniagaan yang teramat mahal harganya. Biarlah tetes-tetes keringat dan setiap air mata yang tercurah disaat kita meretas perjalanan ini menjadi saksi atas kita di yaumil akhir kelak. Biarlah semua itu menjadi transaksi amal kita dengan Allah. Dengan sepenuh keyakinan dan kesabaran dalam ketundukan mari doakan saudara kita agar mereka mampu menangkap ruh perjuangan dakwah dengan nilai-nilai TARBIYAH yang akan memupuk kita menjadi PEMUDA-PEMUDI ROBBANIYAH yang sedang ditunggu-tunggu ummat. Semoga Allah yang maha agung menyatukan hati kita dan menguatkan keshabaran kita dalam setiap putaran dakwah yang kita lalui.
Farrosih
Inilah salah satu taujih yang pertama kali saya dapat saat pertama kali mengenal dakwah di awal awal semester saat di Kampus pada tahun 2002, bersama beberapa sahabat, kami tertatih membangun idealisme secara perlahan dan susah payah, dan kini (2009) idealisme itu benar-benar mendapatkan lawan yang tangguh, karena begitulah yang seharusnya. Namun kami tetap berikrar akan tetap di jalan dakwah ini hingga ajal menjemput, meski harus menjadi golongan yang sedikit, diantara mereka yang jatuh dan terbangun, kami akan tetap memegang janji kami untuk tetap bertahan dalam dakwah ini. Mengapa kami tetap cinta kepada dakwah ini? Karena kami yakin akan janji Allah SWT
Untuk teman-teman angkatan 2001 Universitas Mulawarman Kaltim dimanapun kalian berada. BERTAHANLAH. sampai suatu hari nanti Allah akan membuka tabir rahasiaNya, sehingga tidak akan ada kata sesal saat dahulu kita membersamai dakwah ini.
Akhukum Fillah,
Farrosih
Lagu by Izzatul Islam
LEMBAYUNG
Malam pekat nan kelam
Awan menggunung hitam
Menyelubungi pesona
Negeri indah rupawan
Bilakah datang mentari
Bangkitkan putra negeri
Cahayanya menyinari
Hangat menghidupi
Lama jua tlah dinanti
Kebebasan hakiki
keadilan bukan mimpi
sejahterakan diraih
Dimana jiwa satria pemakmur negeri
Jalannya perih terjal tak terperih
Teguhkan dilalui rintang tak peduli
Janji ilahi tujuan nan abadi
Akankan setiap mimpi hanya asa tak pasti
tegakkan diri wujudkan mimpi
Kan datang sinar surya sibak fatamorgona
buka mata hati tegaskan janji suci
Dimana jiwa satria... pemakmur negeri
Dimana jiwa satria... pemakmur negeri
Semoga Menginspirasi Hidup Menjadi Lebih Baik
Malam pekat nan kelam
Awan menggunung hitam
Menyelubungi pesona
Negeri indah rupawan
Bilakah datang mentari
Bangkitkan putra negeri
Cahayanya menyinari
Hangat menghidupi
Lama jua tlah dinanti
Kebebasan hakiki
keadilan bukan mimpi
sejahterakan diraih
Dimana jiwa satria pemakmur negeri
Jalannya perih terjal tak terperih
Teguhkan dilalui rintang tak peduli
Janji ilahi tujuan nan abadi
Akankan setiap mimpi hanya asa tak pasti
tegakkan diri wujudkan mimpi
Kan datang sinar surya sibak fatamorgona
buka mata hati tegaskan janji suci
Dimana jiwa satria... pemakmur negeri
Dimana jiwa satria... pemakmur negeri
Semoga Menginspirasi Hidup Menjadi Lebih Baik
Langganan:
Postingan (Atom)

